1.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masyarakat tutur yang terbuka,
dinamis, dan dapat berinteraksi dengan masyarakat tutur yang lain tidak menutup
kemungkinan terjadinya bilingualisme. Latar belakang yang mendorong terjadinya
bilingualisme adalah karena adanya kontak bahasa di dalam otak. Kontak bahasa
terjadi karena perpindahan penduduk dengan alasan pendidikan, politik, ekonomi,
agama, dan bencana alam sehingga terjadi kontak dengan bahasa penutur lain.
Bloomfield (1958: 58) menerangkan bahwa bilingualisme adalah penguasaan yang
sama baiknya terhadap dua bahasa seperti halnya penguasaan oleh penutur asli.
Konsep umum bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang
penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Chaer dan Leonie,
1995: 112). Masalah bilingualisme perlu
dipertimbangkan dalam proses kebahasaan yang digunakan oleh suatu masyarakat. Di
Indonesia kasus bilingual adalah kasus yang hampir dialami oleh separuh lebih
orang Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata menguasai bahasa daerahnya dan
bahasa Indonesia, khususnya ragam bicara.
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri proses belajar bahasa pertama
dan bahasa kedua?
2. Apa pengertian bilingualisme?
3. Apa tujuan historis komparatif dari belajar
bahasa?
2.
PEMBAHASAN
2.1
Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa
Belajar
bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa
kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh
bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua
adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih
dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya. Bagi kondisi di
Indonesia, kita perlu membedakan istilah bahasa pertama (asli, ibu, utama/first
language) yang terwujud bahasa daerah tertentu. Bahasa kedua (second language)
yang terwujud bahasa Indonesia dan bahasa asing.
2.1.1 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Pertama (B1)
Adapun ciri-ciri proses
belajar bahasa pertama yaitu:
1. Belajar
tidak disengaja;
2. Berlangsung
sejak lahir;
3. Lingkungan
keluarga sangat menentukan;
4. Motivasi
ada karena kebutuhan;
5. Waktu
banyak untuk menyobakan bahasa; dan
6. Si
terdidik mempunyai waktu banyak untuk berkomunikasi.
2.1.2 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Kedua (B2)
Adapun
ciri-ciri proses belajar bahasa kedua yaitu:
1. Belajar bahasa disengaja;
2. Berlangsung setelah terdidik
berada di sekolah;
3. Lingkungan sekolah sangat
menentukan;
4. Motivasi si terdidik untuk
mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama;
5. Waktu terbatas;
6. Si terdidik tidak mempunyai
banyak waktu untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari;
7. Bahasa pertama mempengaruhi
proses belajar bahasa kedua;
8. Umur kritis mempelajari bahasa
kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua
berlangsung lama;
9. Disediakan alat Bantu belajar;
dan
10. Ada orang yang
mengorganisasikannya, yakni guru.
2.2
Bilingualisme
Istilah bilingualisme
(inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari
istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan
bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode
bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai
penggunaan dua bahasa seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain
secara bergantian (Mackey, 1962:12), fishman 1975:73) untuk dapat menggunakan
dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa
ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain
yang menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa
itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga
dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut
bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).
2.2.1 Pengertian Bilingualisme Menurut Pendapat Ahli
Berikut
pengertian bilingualisme menurut pendapat beberapa ahli bahasa:
1. Oksaar Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu,
namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya
masyarakat dwibahasawan.
2. Bloomfield (1933:56 dalam Chaer dan Agustina, 2004:85) mengatakan bahwa
bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua
bahasa dengan sama baiknya (native like control of twolanguages)”.
3. Robert Lado (1964:214 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) mengatakan
bahwa bilingualisme adalah “kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan
sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan
dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya”.
4. Haugen (1961 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) “tahu akan dua bahasa
atau lebih berarti bilingual” menurut Haugen selanjutnya “seorang bilingual
tidak perlu secara aktif menggunakankedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa
memahaminya saja.”
5. Weinreich Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau
lebih secara bergantian.
2.2.2 Jenis-jenis Bilingualisme
Dalam banyak literatur
sosiolinguistik umum disebutkan bahwa bilingualisme terbagi juga ke dalam
sejumlah tipologi, antara lain:
1. Bilingualisme Majemuk (compound bilingualism) adalah hasil belajar dalam
dua bahasadalam situasi yang sama oleh orang yang sama. Kedwibahasaan yang
menunjukkanbahwa kemampuan berbahasa di mana salah satu bahasa lebih baik dari
padakemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada
kaitanantara bahasa pertama (selanjutnya disebut sebagai B1 ) dengan bahasa
kedua(selanjutnya disebut sebagai B2 ) yang dikuasai oleh bilingual
(dwibahasawan). Jadi, padakedwibahasaan majemuk kedua bahasa dikuasai oleh
dwibahasawan tetapi masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
2. Bilingualisme Koordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa
pemakaian dua bahasa yang sama-sama baiknya oleh seorang individu.
Kedwibahasaan ini dikatakanseimbang sebagaimana dikaitkan dengan taraf
penguasaan B1 dan B2 dwibahasawan tersebut, bahwa kemampuan bahasa kedua-duanya
baik B1 maupun B2 dikatakan sama mahirnya.
3. Bilingualisme Sub-ordinatif (kompleks) adalah Kedwibahasaan yang
menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2
atau sebaliknya. Kedwibahasaanini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1
seperti sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat
suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini memungkinkan dapat
kehilangan B1-nya.
2.2.3 Faktor-faktor Berkembangnya Bilingualisme
1. Tempat pemerolehannya.
Dilihat dari tempat
(setting) pemerolehannya, bilingualisme dapat diklasifikasikan menjadi dua.
Bilingualisme primer dan sekunder. Bilingualisme primer mengarah kepada bahasa
asing atau bahasa kedua dari sekelompok masyarakat tidak digunakan dilingkungan
tertentu saja, tetapi digunakan juga dalam kesempatan umum seperti disekolah
dan tempat lainnya. Sedangkan bilingualisme sekunder hanya digunakan saat
situasi tertentu saja, seperti di sekolah saja.
2. Tingkat penguasaannya.
Dalam tingkat ini
bilingualisme dikategorikan menjadi tiga.
a. Bilingualisme sejajar
Merupakan kemampuan
seseorang memahami, mengerti dan mengggunakan dua bahasa atau lebih tanpa
kesulitan dan tidak terpengaruh oleh bahasa lainnya.
b. Bilingualisme majemuk
Merupakan kemampuan menggunakan
bahasa yang satu lebih baik dari bahasa yang lainnya. Biasanya orang yang
kemampuan bilingualismenya majemuk akan mengalami kesulitan seperti menggunakan
bahasa asing dengan pilihan kata atau kalimatnya dipengaruhi oleh bahasa
ibunya.
c. Bilingualisme kompleks
Bilingualisme kompleks
terjadi kepada anak-anak yang baru belajar bahasa. Mereka menggunakan banyak
bahasa tetapi penguasaannya terhadap bahasa tersebut kurang baik.
3. Status bahasa yang dikuasainya.
Bilingualisme dibedakan
menjadi tiga:
a. Bilingualisme horizontal
Jika dua atau lebih bahasa
bilingual yang dipakai berstatus tinggi. Misalnya berbahasa Indonesia dan
bahasa Inggris.
b. Bilingualisme vertical
Jika bilingual bahasa yang
digunakan berstatus tinggi dan rendah. Seperti bahasa Indonesia dengan bahasa
melayu.
c. Bilingualisme diagonal
Jika bilingual bahasa yang
digunakan sama-sama berstatus rendah. Seperti bahasa melayu dan bahasa minang.
2.3 Tujuan Historis Komparatif
Tujuan
dalam kajian historis komparatif adalah untuk melihat
sejauh mana kedua bahasa berbeda sehingga diketahui keduanya merupakan variasi
dari satu bahasa yang sama atau bisa jadi bahasa ynag berkerabat atau satu asal
(cognate).
3. PENUTUP
Kesimpulan
Belajar
bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa
kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh
bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua
adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih
dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya.
Istilah bilingualisme dalam
bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah
dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan
dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Orang yang dapat menggunakan
kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut
juga dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut
bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).
DAFTAR
PUSTAKA
http://indriwriting.blogspot.com/2012/06/bilingualisme.html