Senin, 19 Mei 2014

Lirik Lagu Nowela dan Husein: Membawa Cinta

 Lirik Lagu Nowela & Husein Idol: Membawa Cinta (lagu kemenangan)


 

Tak Terasa sejauh ini
Kaki melangkah dekati impian
Tawa dan tangis adalah hiasan
Dalam perjalanan tuk mencapai arah dan tujuan

Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta

Tak ingin ku kecewakan mu
Yang tak berhenti kuatkan aku
Tawa dan tangis adalah hiasan
Dalam perjalanan tuk mencapai arah dan tujuan

Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta

Kau dan aku mungkin terpisah
Tapi itu takkan merubah
Janji yang suci didalam hati kita


Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu
Kembali pulang membawa cinta membawa cinta
membawa cinta

Jumat, 16 Mei 2014

Makalah: Penelitian Kualitatif


I.  Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas.
1.2 Rumusan Masalah
  1. Apakah yang dimaksud dengan penelitian kualitatif?
  2. Bagaimanakah karakteristik penelitian kualitatif?
  3. Bagaimana prosedur dari penelitian kualitatif?

II. Pembahasan
2.1 Pengertian Penelitian Kualitatif
            Metode penelitian kualitatif sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya, disebut juga sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.
            Penelitian kualtatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitiian yang dalam kegiatannya peneliti tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.
            Bogdan dan taylor mendefinisikan “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan kirk dan miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengtahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya.
            Objek penelitian kualitatif adalah seluruh bidang/aspek kehidupan manusia, yakni manusia dan segala sesuatu yang dipengaruhi manusia. Objek itu diungkapkan kondisinya sebagaimana adanya atau dalam keadaan sewajarnya (natural setting), mungkin berkenaan dengan aspek/bidang kehidupannya yang disebut ekonomi kebudayaan, hukum, administrasi, agama dan sebagainya. Data kualitatif tentang objeknya dinyatakan dalam kalimat, yang pengolahannya dilakukan melalui proses berpikir (logika) yang bersifat kritik, analitik/sintetik dan tuntas.
            Penelitian kualitatif menuntut keteraturan, ketertiban dan kecermatan dalam berpikir, tentang hubungan datta yang satu dengan data yang lain dan konteksnya dalam masalah yang akan diungkapkan. Beberapa alasan mengenai maksud dilakukannya penelitian kualitatif:
  •    Untuk menanggulangi banyaknya informasi yang hilanng seperti yang dialami oleh penelitian kuantitatif, sehingga intisari konsep yang ada dalam data dapat diungkap.
  •     untuk menanggulangi kecenderungan menggali data empiris dengan tujuan membuktikan kebenaran hipotesis berdasarkan berpikir deduktif seperti dalam penelitian kuantitatif.
  •    untuk menanggulangi kecenderungan pembatasan variabel yang sebelumnya, seperti dalam penelitian kuantitatif, padahal permasalahan dan variabel dalam masalah sosial sangat kompleks.
  •     untuk menanggulangi adanya indeks-indeks kasar seperti dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan pengukuran enumirasi (perhitungan) empiris, padahal inti sebenarnya berada pada konsep-konsep yang timbul dari data.
Adapun pengertian penelitian kuliatatif dapat dilihat dari beberapa teori berikut ini:
1. Creswell (dalam Herdiansyah, 2010: 8), menyebutkan:
Qualitaive research is an inquiry process of understanding based on distinct methodological traditions of inquiry that explore a social or human problem. The researcher builds a complex, holistic picture, analizes words, report detailed views of information, and conducts the study in a natural setting”.

2. Meleong (2007:3), mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks social secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti (Herdiansyah, 2010: 9)

3. Menurut Saryono (2010: 1) penelitian kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh social yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitaif

4. Sugiyono (2011:15) menyimpulkan bahwa metode penelitian kulitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitaif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.  

2.2 Karakteristik Penelitian Kualitatif
Ada  lima ciri pokok karakteristik metode penelitian kualitatif yaitu:
1. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
            Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.

2. Memiliki sifat deskriptif analitik
            Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data.

3. Tekanan pada proses bukan hasil
            Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh. Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut.

4. Bersifat induktif
            Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.

5. Mengutamakan makna
            Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan tepat.
            Sejalan dengan pendapat di atas, Bogdan dan Biklen (1992) menjelaskan bahwa bahwa ciri-ciri metode penelitian kualitatif ada lima, yaitu:
  •     Penelitian kualitatif mempunyai setting yang alami sebagai sumber data langsung, dan peneliti sebagai instrumen kunci.
  •    Penelitian kualitatif adalah penelitian yang deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih banyak kata-kata atau gambar-gambar daripada angka
  •     Penelitian kualitatif lebih memperhatikan proses daripada produk. Hal ini disebabkan oleh cara peneliti mengumpulkan dan memaknai data, setting atau hubungan antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
  •      Peneliti kualitatif mencoba menganalisis data secara induktif: Peneliti tidak mencari data untuk membuktikan hipotesis yang.mereka susun sebelum mulai penelitian, namun untuk menyusun abstraksi.
  •      Penelitian kualitatif menitikberatkan pada makna bukan sekadar perilaku yang tampak.
Atas dasar penggunaanya, dapat dikemukakan bahwa tujuan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan yaitu untuk:
  1.    Mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukenali kekurangan dan kelemahan pendidikan sehingga dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
  2.     Menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami.
  3.     Menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk kepentingan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.
Bidang kajian penelitian kualitatif dalam pendidikan antara lain berkaitan dengan proses pengajaran, bimbingan, pengelolaan/manajemen kelas, kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, penilaian pendidikan, hubungan sekolah dan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru, dan lain-lain. Selain penelitian kualitatif yang digunakan dalam bidang pendidikan adalah penelitian tindakan kelas.

2.3 Prosedur Penelitian Kualitatif
            Dalam penelitian kualitatif memiliki susunan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memilih masalah
2. Studi pendahuluan
3. Merumuskan masalah
4. Merumuskan hipotesis
5. Memilih pendekatan
6. Menentukan variabel dan sumber data
7. Menentukan dan menyusun instrumen
8. Mengumpulkan data
9. Analisis data
10. Menarik kesimpulan
11. Menulis laporan

2.5 Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Kualitatif
            Kelebihan penelitian kualitatif
1. Kemampuannya memahami makna dibalik prilaku
2. Mampu menemukan teori baru untuk setting kebudayaan yang diteliti.

            Kelemahan penelitian kualitatif
1. Hasil penelitian bersifat subjektif
2. Temuan teori hanya untuk setting kebudayaan yang terbatas
3. Kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.


 III. Penutup

Kesimpulan

            Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitiian yang dalam kegiatannya peneliti tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.
            Adapun ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu:
  •     Penelitian kualitatif mempunyai setting yang alami sebagai sumber data langsung, dan peneliti sebagai instrumen kunci.
  •    Penelitian kualitatif adalah penelitian yang deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih banyak kata-kata atau gambar-gambar daripada angka
  •     Penelitian kualitatif lebih memperhatikan proses daripada produk. Hal ini disebabkan oleh cara peneliti mengumpulkan dan memaknai data, setting atau hubungan antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
  •      Peneliti kualitatif mencoba menganalisis data secara induktif: Peneliti tidak mencari data untuk membuktikan hipotesis yang.mereka susun sebelum mulai penelitian, namun untuk menyusun abstraksi.
  •      Penelitian kualitatif menitikberatkan pada makna bukan sekadar perilaku yang tampak.


DAFTAR PUSTAKA


http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/02/14/memahami-penelitian-kualitatif/

Cara Mengatasi Stress


TIPS MENGHILANGKAN STRES

1. Mengunyah Permen Karet.
Penelitian di Australia dan Inggris menemukan bahwa ketika mengalami stres, mengunyah permen karet selama 10 menit mampu mengurangi rasa cemas dan menurunkan kadar hormon cortisol pada air liur hingga 18 persen.

2. Minum Teh Hitam.
Orang yang minum teh hitam empat cangkir sehari selama enam minggu diketahui mampu mengatasi stres lebih cepat dan memiliki level hormon cortisol yang lebih rendah ketika mengalami stres, berdasarkan penelitian dari University College London. Senyawa kimia serta antioksidan yang ada dalam teh hitam mampu memuat seseorang merasa santai dan menenangkan saraf otak.

3. Pijat.
International Journal of Neuroscience melaporkan bahwa pijat sendiri dua kali seminggu selama 15 menit saja mampu menurunkan stres dan menenangkan sistem saraf. Bahkan, cara mudah dengan menggerakkan bola tenis di sekitar jari-jari tangan juga mampu memberikan efek yang sama dengan pijat.

4. Menulis.
Penelitian pada tahun 2010 yang diterbitkan dalam Anxiety, Stress, & Coping menemukan bahwa menulis mengenai hal yang membuat depresi selama 20 menit selama dua hari mampu menurunkan kadar stres. Menuliskan perasaan pada kertas juga membantu kita melewati perasaan buruk dan mengatasi emosi negatif dalam diri.

5. Mendengarkan Musik.
Musik mampu meningkatkan emosi positif dan menurunkan tingkat hormon stres. Penelitian di Journal of Advanced Nursing menemukan bahwa pasien yang mendengarkan lagu pilihan mereka selama 30 menit, lebih tenang ketika akan menghadapi operasi. Bergerak sesuai dengan irama lagu juga semakin menambah emosi positif dan memicu produksi hormon kebahagiaan, yaitu endorfin.

6.Hindari Teknologi.
Penelitian di University of California, Irvine, dan peneliti US army menemukan bahwa mengecek e-mail setiap saat mampu menyebabkan stres. Jadi ketika anda merasa stres, ada baiknya mengurangi kontak dengan teknologi atau handset lainnya, misalkan mengecek email, jejaring sosial, atau lainnya minimal selama 45 menit.


7. Membersihkan Rumah.
Kebiasaan membersihkan rumah mampu menurunkan ketegangan dalam pikiran. Orang seringkali mudah tenang dan teralihkan ketika melakukan kebiasaan yang diulang-ulang seperti menyapu, mengepel, dan lainnya. Kegiatan semacam ini juga ampuh untuk membuat tubuh tenang.

Itulah beberapa cara menghilangkan stres yang bisa anda praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan tips mengatasi stres diatas bisa ampuh dan bermanfaat.

Makalah: Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa, Bilingualisme dan Tujuan Historis


1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Masyarakat tutur yang terbuka, dinamis, dan dapat berinteraksi dengan masyarakat tutur yang lain tidak menutup kemungkinan terjadinya bilingualisme. Latar belakang yang mendorong terjadinya bilingualisme adalah karena adanya kontak bahasa di dalam otak. Kontak bahasa terjadi karena perpindahan penduduk dengan alasan pendidikan, politik, ekonomi, agama, dan bencana alam sehingga terjadi kontak dengan bahasa penutur lain. Bloomfield (1958: 58) menerangkan bahwa bilingualisme adalah penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa seperti halnya penguasaan oleh penutur asli. Konsep umum bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Chaer dan Leonie, 1995: 112).  Masalah bilingualisme perlu dipertimbangkan dalam proses kebahasaan yang digunakan oleh suatu masyarakat. Di Indonesia kasus bilingual adalah kasus yang hampir dialami oleh separuh lebih orang Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata menguasai bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia, khususnya ragam bicara.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua?
2. Apa pengertian bilingualisme?
3. Apa tujuan historis komparatif dari belajar bahasa?


 2. PEMBAHASAN

2.1 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa
            Belajar bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya. Bagi kondisi di Indonesia, kita perlu membedakan istilah bahasa pertama (asli, ibu, utama/first language) yang terwujud bahasa daerah tertentu. Bahasa kedua (second language) yang terwujud bahasa Indonesia dan bahasa asing.

2.1.1 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Pertama (B1)
            Adapun ciri-ciri proses belajar bahasa pertama yaitu:
1. Belajar tidak disengaja;
2. Berlangsung sejak lahir;
3. Lingkungan keluarga sangat menentukan;
4. Motivasi ada karena kebutuhan;
5. Waktu banyak untuk menyobakan bahasa; dan
6. Si terdidik mempunyai waktu banyak untuk berkomunikasi.

2.1.2 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Kedua (B2)
            Adapun ciri-ciri proses belajar bahasa kedua yaitu:
1. Belajar bahasa disengaja;
2. Berlangsung setelah terdidik berada di sekolah;
3. Lingkungan sekolah sangat menentukan;
4. Motivasi si terdidik untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama;
5. Waktu terbatas;
6. Si terdidik tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari;
7. Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua;
8. Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama;
9. Disediakan alat Bantu belajar; dan
10. Ada orang yang mengorganisasikannya, yakni guru.
2.2 Bilingualisme
            Istilah bilingualisme (inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey, 1962:12), fishman 1975:73) untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).

2.2.1 Pengertian Bilingualisme Menurut Pendapat Ahli

                        Berikut pengertian bilingualisme menurut pendapat beberapa ahli bahasa:
1. Oksaar Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu, namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya masyarakat dwibahasawan.
2. Bloomfield (1933:56 dalam Chaer dan Agustina, 2004:85) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk  menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya (native like control of twolanguages)”.
3. Robert Lado (1964:214 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya”.
4. Haugen (1961 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) “tahu akan dua bahasa atau lebih berarti  bilingual” menurut Haugen selanjutnya “seorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakankedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja.” 
5. Weinreich Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian.



2.2.2 Jenis-jenis Bilingualisme

            Dalam banyak literatur sosiolinguistik umum disebutkan bahwa bilingualisme terbagi juga ke dalam sejumlah tipologi, antara lain:

1. Bilingualisme Majemuk (compound bilingualism) adalah hasil belajar dalam dua bahasadalam situasi yang sama oleh orang yang sama. Kedwibahasaan yang menunjukkanbahwa kemampuan berbahasa di mana salah satu bahasa lebih baik dari padakemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada kaitanantara bahasa pertama (selanjutnya disebut sebagai B1 ) dengan bahasa kedua(selanjutnya disebut sebagai B2 ) yang dikuasai oleh bilingual (dwibahasawan). Jadi, padakedwibahasaan majemuk kedua bahasa dikuasai oleh dwibahasawan tetapi masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
 
2. Bilingualisme Koordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa yang sama-sama baiknya oleh seorang individu. Kedwibahasaan ini dikatakanseimbang sebagaimana dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2 dwibahasawan tersebut, bahwa kemampuan bahasa kedua-duanya baik B1 maupun B2 dikatakan sama mahirnya.

3. Bilingualisme Sub-ordinatif (kompleks) adalah Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaanini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1 seperti sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini memungkinkan dapat kehilangan B1-nya.

2.2.3 Faktor-faktor Berkembangnya Bilingualisme

1. Tempat pemerolehannya.
            Dilihat dari tempat (setting) pemerolehannya, bilingualisme dapat diklasifikasikan menjadi dua. Bilingualisme primer dan sekunder. Bilingualisme primer mengarah kepada bahasa asing atau bahasa kedua dari sekelompok masyarakat tidak digunakan dilingkungan tertentu saja, tetapi digunakan juga dalam kesempatan umum seperti disekolah dan tempat lainnya. Sedangkan bilingualisme sekunder hanya digunakan saat situasi tertentu saja, seperti di sekolah saja. 
2. Tingkat penguasaannya.
            Dalam tingkat ini bilingualisme dikategorikan menjadi tiga. 
a. Bilingualisme sejajar
            Merupakan kemampuan seseorang memahami, mengerti dan mengggunakan dua bahasa atau lebih tanpa kesulitan dan tidak terpengaruh oleh bahasa lainnya. 
b. Bilingualisme majemuk
            Merupakan kemampuan menggunakan bahasa yang satu lebih baik dari bahasa yang lainnya. Biasanya orang yang kemampuan bilingualismenya majemuk akan mengalami kesulitan seperti menggunakan bahasa asing dengan pilihan kata atau kalimatnya dipengaruhi oleh bahasa ibunya. 
c. Bilingualisme kompleks
            Bilingualisme kompleks terjadi kepada anak-anak yang baru belajar bahasa. Mereka menggunakan banyak bahasa tetapi penguasaannya terhadap bahasa tersebut kurang baik. 

3. Status bahasa yang dikuasainya.
            Bilingualisme dibedakan menjadi tiga: 
a. Bilingualisme horizontal
            Jika dua atau lebih bahasa bilingual yang dipakai berstatus tinggi. Misalnya berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 
b. Bilingualisme vertical
            Jika bilingual bahasa yang digunakan berstatus tinggi dan rendah. Seperti bahasa Indonesia dengan bahasa melayu. 
c. Bilingualisme diagonal
            Jika bilingual bahasa yang digunakan sama-sama berstatus rendah. Seperti bahasa melayu dan bahasa minang. 

2.3 Tujuan Historis Komparatif
            Tujuan dalam kajian historis komparatif adalah untuk melihat sejauh mana kedua bahasa berbeda sehingga diketahui keduanya merupakan variasi dari satu bahasa yang sama atau bisa jadi bahasa ynag berkerabat atau satu asal (cognate).


3. PENUTUP

Kesimpulan
            Belajar bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya.
            Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).






DAFTAR PUSTAKA


http://indriwriting.blogspot.com/2012/06/bilingualisme.html