Kamis, 08 Mei 2014

Puisi Ibu



Teruntuk Sang Matahari Alam
By: Herdinata

Bagaikan sinar rembulan
Penerang alam semesta
Bagaikan sinar mentari,
pemberi hangat kehidupan..

Kasih tak kunjung usai
Sampai ke ujung dunia sekalipun
Tanpa kenal lelah
Kobaran semangatmu
Nahkoda dunia

Bersih jiwamu
Bersih hatimu
Tanpa sebercik noda
Kau ajarkan arti hidup,
Doa dan harapanmu
Penerang menuju masa depan

Cerpen Idola: Belum Saatnya



Belum Saatnya
By: Herdinata
            Langit sore ini nampak begitu indah bak bidadari turun dari khayangan. Keringatku bercucuran karena terik mentari begitu menyengat di kala sore ini. Ku sapu keringat yang menempel di wajahku dengan tissue. Ku lanjutkan aktivitas jogging di sebuah taman yang terletak di depan hotel Swarna Dwipa yang ada di kotaku. Aku berhenti sejenak dan berlutut di kakiku layaknya orang yang sedang melakukan ruku’ saat shalat. Kemudian ku duduk di kursi yang ada di pinggir taman untuk meredamkan keringat yang bercucuran dengan derasnya ke tubuhku. “Gilaa... Capek juga” Gerutuku. Aku menatap lekat hotel yang ada tepat di depanku sambil melihat-lihat segerombolan aktivitas di sana. Nampak mobil keluar masuk menuju hotel. Salah satu hotel yang mewah dan berbintang yang ada di kotaku. Aku tertegun melihat sebuah honda jazz berwarna hitam yang hendak keluar meninggalkan hotel yang di kerumumin banyak orang. “Kenapa pada rame gitu? Emang ada apa di sana? Aneh sekali” pikirku.
            Dari kejauhan, ku lihat seorang cewek cantik, berkulit agak kecoklatan memamerkan senyum yang nampak giginya berjejer rapi menyapa segerombolan orang yang berada di dekat mobil yang ia tumpangi. Agnez....?? aku tercongak dan sedikit mengangkat bahuku. Gak salah lagi itu benar Agnez, sesosok orang yang ku kagumi dari dulu sampai sekarang namun baru kali ini aku bertemu dengannya. Ku berlari sekencang-kencangnya. Sebuah mobil ngerem mendadak melihat ku yang semberono menyeberangi jalan. Secepat kilat mobil yang di tumpangi Agnez sudah menghilang.
            Perasaan senang bercampur sedih karena hanya sekilas dapat memandang wajah Agnez, orang yang ku kagumi, orang yang menginspirasiku. Apakah esok ia masih berada di Palembang? Ataukah tadi adalah saat terakhirku melihat wajah indahnya? Ku lihat billboard yang terpampang di depan hotel. Agnez Mo live in concert, tonight 7 P.M at Center Stage Palembang. Ku lihat arlojiku menunjukkan tepat pukul 17.30 menit. Masih ada kesempatan untuk melihatnya perform di CS pikirku. Aku langsung menuju parkiran, mengambil sebuah motor minimalisku, ku startir dan langsung cabut ke CS untuk membeli tiket tanpa mengganti kostumyang tengah ku pakai.
           Jalan macet di seputaran simpang Charitas, ingin balik arah rasanya tidak mungkin. Sedangkan waktu berjalan terus. Aku berpacu dengan waktu dan gejolak di dadaku. Ada rasa cemas menyelimutiku. Semoga tiketnya belum sold out. Semoga tikenya masih ada untukku. Tuhan bantu aku, desisku tak henti-hentinya memandangi lampu lalu lintas yang tak kunjung usai.
            “Maaf mas, tiketnya udah sold out setengah jam yang lalu.” Ucap penjaga tiket
        “Apaaaaaa???? Seriusss mbak???? Ucapku tak percaya.“Kira-kira masih ada lagi gak tambahan tiketnya?” balasku sedikit memelas.
            “Maaf mas, ini sudah stok yanng terakhir. Maaf sekali.” Jawabnya ramah.
            Hatiku seketika hancur seakan tubuh ku diterjang tsunami yang maha dahsyat. Hancur berkeping-keping melebihi orang sedang putus cinta. Jika di suruh memilih mending putus cinta daripada tidak bertemu dengan sosok orang yang menginspirasiku. Aku melangkah kaku. Ku pandangi posteryang terletak di depan CS. Ku raih gambar yang ada di poster tersebut. Apakah aku akan bertemu denganmu malam ini? Melihat aksi mu di atas panggung secara live? Aku menggerutu dalam hatiku. Sembilu menusuk tulangku terasa sakit menyelimuti relung jiwaku.
            Sejenak hatiku memberi support bahwa hari esok masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya di hotel tempat ia menginap. Kebetulan di sana ada temanku yang bekerja sebagai recepsionist hotel. Tapi kenapa dia tidak memberitahuku kalau Agnez menginap di hotel tempat ia bekerja? Hmm.. Mungkin dia tidak mengetahui kalau Agnez menginap di hotel itu. Ku keluarkan handphone nokiaku dan mengetik sebuah pesan.
            Re, kamu tahu kan kalo Agnez nginep di hotel tempatmu bekerja?
            Besok bantu aku buat ketemu sama dia, pleasssseeee! L
            Ku klik send ke nomor Renata. Teman SMAku dulu. Walaupun sekarang kami sudah tidak begitu dekat karena kesibukkan masing-masing. Aku sibuk kuliah sedangkan dia sibuk kerja. Beberapa menit kemudian handphone ku bergetar. Mendapati SMS masuk balasan dari Renata, aku langsung membukanya.
            “Oke, Yud.” J
            Aku terseyum lega Renata mau membantuku. Semoga aku besok bisa ketemu kamu Nez, bisikku sambil berlalu lalang dari tempat itu.
***
            Mentari muncul kepermukaan, memberi cahaya pada setiap makhluk yang hidup di bumi. Burung-burung bernyanyi riang, bersahut-sahutan bagaikan sepasang kekasih. Angin bertiup mesra membelai wajahku yang mulus. Seolah terbuai oleh belaian sang angin, aku terperanjat bangun melihat jam weker ku. “Astaga udah jam 8.” Ucapku kaget. Ku lihat handphone ku terdapat 8 missed calls dan 5 SMS masuk dari Renata Aprilia. Ku buka pesan dari Renata.
            “Yudha, kamu lagi di mana? Setengah jam lagi Agnez sama manajemennya mau check out dari sini. Buruannnn!!!” bunyi pesan dari Renata beberapa menit yang lalu.
           Ku bergegas menuju hotel tempat idolaku menginap untuk bertatap muka langsung, berfoto, salaman, memeluknya, atau sekedar berbasa-basi dengannya. Pikiran ku akan bertemu dengannya seakan hendak terwujud. “Hari ini adalah hari indah buatku,” batinku.
            “Re, Agnez nya mana?”
            Yang ditanya hanya menatap lekat. Seolah hendak mengatakan sesuatu hal buruk telah terjadi. Ada rasa sedih menyelimuti raut wajah temanku ini.
            “Idola elo udah pergi, Yud. Kayaknya elo bakalan ngubur mimpi-mimpi lo dalam-dalam. Tadi, aku gak sengaja ngedenger pihak manajemennya bilang untuk beberapa bulan ke depan Agnez tidak tinggal di Indonesia tapi di negeri paman sam sana.” Suara Renata nyaris tak terdengar.
            Aku terduduk lengah di kursi lobi. Mengusapkan kedua telapak tanganku ke wajahku. Menutupnya dalam-dalam tanpa pernah menguburnya. Butiran bening keluar dengan lancangnya tanpa rasa malu menghampirinya. Ku seka air mataku sebelum orang di sekelilingku mentertawakanku. Dalam hati, aku percaya suatu saatpasti bisa ketemu dengannya lagi. Ini hanya soal waktu. Waktu yang akan mempertemukanku dengan idolaku. Idola yang selalu menginspirasi hidupku. Aku yakin, bisikku.

#I love Agnes Monica#