Sabtu, 15 November 2014

Cerpen Awan dan Ombak


Awan dan Ombak
Oleh: Herdinata

            Siang itu matahari enggan menampakkan diri. Pepohonan seakan enggan meneruskan hidupnya. Daun-daun yang sudah tua jatuh melayang dengan pasrah. Aku memosisikan diri duduk di bawah pohon yang ada di taman kota dengan niat untuk mengusir penat karena semua masalah sedang menimpaku. Kenapa masalah selalu datang kepadaku tanpa permisi? Aku tahu bahwa tuhan memberi kita masalah itu karena tuhan sayang sama kita para umatnya. Tapi kenapa masalah ini selalu datang bertubi-tubi? Aku harus kuat. Aku tidak mau terlihat lemah di depan semua orang. Benar kata pepatah kita harus kuat dari masalah yang sedang kita hadapi.
            “Sayang kamu ngapain di taman sendirian?” ucap Karin menepuk pundakku dan membuat lamunanku terhempas entah kemana.
            “Eh, kamu sayang. Sejak kapan di sini?” balasku menoleh ke arah wajahnya yang manis.
            “Baru aja nyampe sayang. Tadi aku pulang kuliah gak sengaja liat kamu duduk di taman ini. Kamu ngapain ke taman sendirian gini? Gak ngajak-ngajak lagi.” Karin merengek manja.
            “Maaf ya sayang. Tadi kan kamu kuliah. Aku gak mau kamu bolos kuliah gara-gara nemenin aku.” Ucapku lirih.
            “Atau mungkin kamu mau ketemu sama wanita lain?”
            “Udah deh sayang. Aku di sini gak ngapa-ngapain. Percaya deh sama aku. Aku gak bakalan berani mengkhianati kamu.” Ucapku memegang bahu Karin pacarku.
            “Semoga aja apa yang kamu omongin itu benar.” Karin berdiri lalu hendak pergi meninggalkanku seorang diri. Ini sifat yang paling tidak ku suka dari Karin. Dia adalah typical orang pencemburu dan terlalu over protektif. Masalah kecil dibesar-besarkan.
            “Tunggu sayang, please kamu percaya sama aku! Kariiiiiinnnnn......” teriakku. Ku segah saku ku dan ku ambil handphone. Angkat dong Karinn, angkat teleponnya. Ah siallll. Gerutuku. Tolong dong Karin mengerti perasaanku sekarang. Aku capek dengan sikap kamu ke aku. Aku capek. Desisku sambil meremas rambut bagian depanku.
**
            Angin malam berhembus mesra tepat ke arah wajahku yang nampak kusut. Masalah seakan tanpa hentinya menghampiri hidupku. Masalah di kantor, masalah mama dan papa sekarang ditambah masalah percintaanku dengan Karin yang tak kunjung usai. Ku rebahkan tubuhku ke kasurku yang nampak berwarna cokelat gelap. Dalam hati aku berbisik “Karin jangan kayak anak kecil dong. Tolong ngertiin aku.” Batinku. Selang beberapa menit setelah aku memikirkan dia, handphone-ku yang tergeletak di atas meja kerjaku berbunyi mengalunkan sebuah nada yang sangat ku kenal pertanda ada pesan yang masuk. Dengan sigap aku mengklik tombol pesan dan sesegera mungkin untuk membaca pesan karena aku tahu pesan dari siapa yang masuk. Kariiiinnn. Bisikku.
            Al, aku minta putus. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita. Aku tahu kamu ga nyaman kan dengan aku? Maka dari itu, aku minta hubungan kita ini berakhir!
            Hatiku sontak kaget membaca pesan yang membuatku tambah gundah gulana begini. Hatiku bagai dilempar batu berukuran besar. Bisa-bisanya Karin berbicara seperti itu. Semudah itukah dia meminta hubungan ini berakhir? Dengan nafas yang tak teratur aku berniat menelpon Karin untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Jujur aku tidak mau kehilangan orang yang sangat ku sayangi. Pemilik hati nan suci ini. Sang penguasa hatiku, Karin.
            “Hallo, Karin. Maksud kamu apa ngomong kaya gitu? Kamu lagi bercanda kan? Ka..kamu ga bener-bener minta putus kan dari aku?” ucapku ditelpon saat Karin mengangkat teleponku.
            “Maaf, Al. Aku ga nyaman lagi sama kamu. Aku muak dengan semua ini. Bukannya ini kan yang kamu mau karena sikapku yang terlalu over protektive ke kamu?” cerocos Karin dengan nada tegas.
            “Ga sayang. Aku ga mau putus sama kamu. Aku cinta sama kamu, Karin. Oke gini besok temui aku di cafe tempat kita sering nongkrong jam 2 siang. Aku tunggu kedatangan  kamu.” perintahku.
            Tuutt..tutt..tutttttttt.. Karinn?? Kariiiinnn? Karinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn? Buggg. Suara bantingan handphone-ku yang ku buang dengan ganasnya bak buak kelapa yang jatuh ke bumi. Karin kenapa kamu tega sama aku? Aku ga habis pikir. Teriakku dengan volume tertinggi dari suaraku.
**
            Siang ini hatiku gelisah. Orang yang kutunggu-tunggu belum datang juga. Ku lihat arlojiku sudah jam 2 siang lebih tapi sang pujaan hati ini belum juga muncul. Apakah dia lupa dengan ucapanku semalam? Atau mungkin dia sengaja tidak mau datang menemuiku. Apakah cintamu buatku sudah sirna? Semudah itukah? Karin, pliss ke sini! Ucapku membatin. Hatiku semakin gelisah karena sosok orang yang hendak kutemui tak kunjung datang. Orang sekitar tertawa dengan renyahnya seolah-olah menertawakanku yang sedang dirundung kegelisahan. Waktu pun secepat kilat berjalan dari biasanya. Tanpa terasa sudah satu jam lebih aku menunggu Karin di sini tapi tak ku dapati sosok wanita pemilik hati ini. Dari balik kaca, ku lihat awan putih sungguh cerah di tambah langit yang berwarna hijau. Sungguh sempurna. Andai hubungan kita seperti itu Karin.
**
            Laju mobilku ku percepat tidak seperti biasanya. Satu yang ada dalam pikiranku, Karin. Orang yang sangat kucintai terlepas dari sikap dia yang terlalu over protektif terhadapku. Aku tahu Karin bersikap seperti itu karena dia takut kehilanganku. Tapi kenapa sekarang dia malah dengan mudahnya melepaskanku? Apakah cintanya benar-benar sirna? Ku percepat laju mobilku untuk sesegera mungkin sampai ke rumahnya. Aku ingin dia menjelaskan alasan yang logis perihal putusnya hubungan kita ini.
            “Maaf den Aldo. Tadi non Karin nya pergi den” ucap bi Ima pembantunya Karin yang sudah hampir 10 tahun bekerja di rumah Karin.
            “Ke mana perginya bi?” balasku dengan nafas tak teratur. Bi Ima hanya menggeleng. Karin, kamu di mana sayang? Batinku. Ku lanjutkan perjalananku mencari Karin orang yang teramat ku khawatirkan sekarang ini. Aku takut dia pergi jauh meninggalkanku. Karin sayang, di mana kamu? please jangan buat aku jadi khawatir gini! Desisku.
            Di sela-sela kesemerawutan pikiranku, terlintas kenangan indah yang ku lalui bersama Karin di sebuah pantai Pasir Putih. Memandangi pantai nan indah, menikmati panorama disekeliling pantai dan melihat deburan ombak yang berkejar-kejaran tanpa hentinya membuat bibir pantai basah kuyup. Sungguh kenangan indah itu masih segar di memori otakku. Selamanya tak akan pernah ku lupakan. Apa mungkin dia di pantai Pasir Putih? Kupercepat mobilku dengan harapan agar aku dapat menemukan Karin. Aku butuh penjelasan dari dia. Aku tidak rela jika dia dengan mudahnya memutuskan hubungan ini. Sungguh aku tidak rela.
            Diperjalanan jalur provinsi, mataku lelah melihat jalanan yang tak kunjung sampai. Seakan jalan yang ku lalui ini tidak ada ujungnya. Pikiranku juga tidak stabil lagi. Ditikungan yang tajam mobilku tak dapat ku kendalikan dengan baik dan akhirnya ....... mobil yang ku kendalikan masuk ke dalam jurang dan aku terdampar dari dalam mobil. Bagaikan sebutir debu yang terhempas ke bumi. Aku bermandikan darah akibat kayu-kayu dan batu-batu yang menghempas tubuhku. Saat ku terbaring lemah, ku lihat awan masih setia menemani sang langit biru. Ombak-ombak di lautan masih dengan riangnya pergi kesana kemari. Sampai kapan pun awan dan ombak tak akan pernah bersatu. Mungkin cinta kita begitu adanya Karin. Disisa akhir hidupku yang sempit ini, aku mau kamu berada disampingku sayang menemaniku sampai ajal menjemputku. Awan, tunggu aku di atas sana. Ombak, buatlah hati orang ku sayangi bahagia saat melihatmu menari-nari di atas laut biru. Aku sayang kamu, Karin.
            Suasana hening. Tak ada satupun suara yang terdengar lagi siang itu. Tak ada hembusan mesra sang angin. Tak ada tarian dari pohon-pohon. Tak ada satupun daun yang jatuh menemani tidur panjangku. Hanya aku seorang diri yang terkulai tak bernyawa. Berharap awan putih menyambutku untuk terbang ke atas sana menuju sang maha pemilik semesta alam.

#End

Cerpen Sebutir Debu dalam Genggaman Angin


Sebutir Debu dalam Genggaman Angin
By: Herdinata

            Sore yang muram. Sisa panas siang tadi membuat udara yang bercampur debu terasa gerah. Hijau daun seperti bunglon, menyerupai warna batang pohon, pucat disaput sinar mentari yang malas. Waktu seakan bergerak lamban bagai perahu yang tak dikayuh dan dibiarkan mengikuti arus. Ku langkahkan kaki ku dengan malas mengikuti arah mata kaki ini melangkah walau tak tahu harus ke manakah tubuh ini melaju? Di manakah langkah kaki ini akan terhenti? Adakah tujuan yang jelas yang akan menjadi tujuan dari kepergianku ini? Langkah dan pikiranku seakan berjalan tak tentu arah. Tas ransel yang ku bawa terasa amat berat seperti memikul ribuan batu cadas yang menggumpal. Tak terasa lelah menghampiri perjalananku yang tanpa arah maupun tujuan yang jelas ini. Peluhku berjatuhan karena tak mampu lagi menahan lelehan yang diakibatkan sinar mentari yang tak kenal kata kompromi di sore ini.
            Aku tak tahu langkah yang ku ambil ini benar ataukah tidak. Salahkah aku mengambil jalan yang membuat orang yang ku sayangi memikirkan dan mencemaskanku? Ah sebegitu tegakah diriku membuat mereka dirundung kesedihan? Durhakakah aku kepada mereka atas keegoisanku? Bukankah mereka juga egois? Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Aku ingin kebebasan dalam diriku. Apa itu salah? Tak maukah kalian memikirkan perasaanku sedikit saja? Ya, Sedikit saja? Sedikit saja sudah teramat berarti buatku. Ku rasa jalan yang ku ambil ini adalah benar! Batinku memberi support atas keputusanku ini.
            Sore ini merupakan puncak panas yang dipancarkan sang mentari tanpa ampun. Membuat peluhku berjatuhan tanpa permisi. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah taman kota yang baru ku kunjungi. Ku lihat anak-anak bermain riang disekitar taman. bermain dengan apa adanya tanpa ada beban yang menyelimutinya. Kontras dengan diriku yang sedang dirundung beban yang begitu berat. Begitu menyakitkan. Aku sadar jalan yang ku ambil ini adalah jalan yang kurang gentle. Pengecut. Lari dari masalah bukanlah suatu penyelesaian yang akan mempermudah suasana justru malah akan membuat permasalahan ini semakin rumit. Dan lebih parahnya lagi, aku sudah membuat orang yang kusayangi mengkhawatirkan keberadaanku ini. Di sebelah barat, dekat di pinggiran kolam ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan menikmati air mancur yang terdapat di tengah kolam. Perasaan iri menyelimutiku. Andaikan aku bisa seperti mereka, sepasang kekasih yang mereka pilih sesuai dengan nurani hatinya bukan karena ada campur tangan orang lain. Perasaan dari lubuknya yang terdalam. Kebebasan dalam memilih pasangan hidup. Aku tersentak mendengar suara handphone ku yang bergetar membuyarkan lamunanku akan sepasang kekasih yang sedang menikmati indahnya pemandangan taman. Lekas ku buka handphone-ku dan secepat kilat ku buka unlock handphone ku. “Sayangg, kamu di mana? Aku cariin di kantor gak ada? Di rumah juga sepi? Kamu ke mana beib? Aku rindu ;( “ bunyi pesan dari Nesa. Kekasihku. Dalam hati aku juga merindukanmu sayang, tapi apa dayaku. Kamu takkan pernah tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku mencoba memperjuangkan cinta kita. Cinta suci yang sekian lama kita bina. Dan aku tidak mau apa yang selama ini kita bina akan berakhir begitu saja. Hati ini takkan pernah rela. Mungkin langkah yang ku pilih ini bukan langkah yang dewasa. Tapi aku juga berhak menentukan seseorang yang mampu menemani masa tuaku. Maaf kan Sandy Ma, Pa. Mungkin dengan cara ini hati mama dan papa akan luluh dan membebaskan ku untuk memilih pasanganku sendiri bukan pilihan dari kalian. Maafkan aku. Batinku.
            Dreeettt.... dreettttt... ku lihat kesekian kalinya layar handphone ku, ternyata Nesa menelponku. Aku tahu dia sangat khawatir dengan keberadaanku. Dengan malas ku reject panggilan dari Nesa. Aku membuka tombol kunci di layar handphone ku dan langsung mengetik sebuah pesan. Pesan yang akan mengobati dan mengurangi kadar kekhawatiran Nesa, orang yang teramat ku sayangi. “Nesa sayang, kamu jangan khawatir dan mencemaskan keberadaanku. Aku baik-baik saja. Hanya perasaanku saja yang agak tak begitu enak. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku akan kembali jika waktunya sudah tiba. Satu hal yang ku minta darimu, jaga selalu hatimu buat aku. Aku yakin di lubuk hatimu yang paling dalam namaku sudah tertancap di dalam hatimu dan takkan pernah tergoyahkan walau banyak hal yang menghalangi dan mencoba merobohkan namaku di hatimu. Aku sayang kamu. Peluk cium. Kekasihmu, Sandy Dhirmawan”. Ku tekan tombol send. Ku harap dengan pesan ku tadi akan membuat perasaanmu sedikit lega. Bisikku.
            Aku terpekur mengingat kejadian kemarin, kejadian membuat satu beban dalam hidupku kembali lahir. Kejadian yang membuat emosi dan amarahku memberuak yang seakan-akan akan meledak layaknya gunung api yang hendak meletus.  Mama dan papa bersikeras memilih pasangan hidup buatku. Seorang anak tunggal dari orang yang berada. Sangat kontras dengan Nesa yang sederhana dan dari keluarga yang berkecukupan. Mereka tidak menyetujui hubungan kami yang selama ini telah kami bina dengan susah payah. Sebagai bentuk protesku, akhirnya aku mencoba menempuh jalanku sendiri dengan meninggalkan rumah dengan seenaknya tanpa mempedulikan mama, papa dan adikku Reza yang juga menyaksikan aksi adu mulut dan argumen kami bertiga yang memilih untuk diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
            Aku bergegas pergi dari taman yang sudah tidak lagi indah nan teduh. Mentari semakin menua dan gerbang sang malam akan segera terbuka. Aku masih melanjutkan langkahku yang tak tahu arah. Terombang-ambing layaknya debu yang beterbangan kala ditiup sang angin kemudian terempas. Jatuh. Remuk. Hancur berkeping-keping. Sebegitu memilukankah nasib sang debu kala dihempaskan oleh angin? Adakah yang mampu menolong sang debu dari kehancuran itu? Satu yang hal yang pasti bahwa walau debu itu telah terhempas keras ke batu jalanan tapi dia akan bangkit dari keterpurukkan yang menerpanya dengan bantuan sang angin sebagai dewa penolongnya. Membawa debu yang terhempas itu ke tempat yang indah. Jauh di lubuk hatiku, aku yakin suatu saat nanti mama dan papa akan merestui hubungan kami. Aku yakin.

Cerpen Persahabatan: Mutiara yang Hilang


Mutiara yang Hilang
By: Herdinata

            Hari senin, di pagi yang cerah nampak segerombolan sahabat yang tengah asik berjalan dengan santai menuju ke kelas. Empat orang yang selalu bersama-sama, baik dalam suka maupun duka. Mereka adalah Rara, Sinta, Santo, dan Yudi. Mereka saling terbuka satu sama lain. Mereka berkomitmen, jika salah satu dari mereka ada masalah tidak boleh ditutup-tutupin seperti peribahasa ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Dibawah terik mentari yang begitu menyengat, akan segera dilaksanakan sebuah acara wajib setiap sekolah yakni upacara penaikkan bendera. Semua siswa wajib ikut serta termasuk empat sahabat ini.
            “Eh guys, cepet dikit jalannya upacaranya udah mau di mulai tuh.” Ucap Rara.
         “Sabar kali neng,” balas Santo. Sinta dan Yudi hanya memadangi Santo yang nampak cemberut.
         Upacara selesai begitu cepat. Cuaca yang panas membuatku sulit berbicara karena tenggorokkan ku yang belum dibasahi oleh segelas air. Rasanya mau pingsan ngejalanin upacara ini. Matahari era sekarang sama era dulu sepertinya jauh berbeda ketika ku membayangkan cerita orang tuaku yang menceritakan masa mudanya. Ku usap wajah manisku dengan kedua telapak tanganku. Ingin rasanya nyebur ke empang atau ke laut sekaligus saking panasnya pagi ini. Aneh memang, masih pagi tapi sudah sepanas ini cahaya yang dipancarkan sang mentari.
            Selesai upacara, aku dan sahabat karibku pergi kantin yang ada di sekolahku untuk menyirami tenggorokkanku yang tengah dilanda kemarau. Ku ambil satu gelas air mineral yang ada di tempat pendingin. Secepat kilat rasa haus yang menjalar di tenggorokkan ku berubah menjadi segar layaknya tanah kering yang disiram air hujan. Sejuk rasanya.”Eh guys, ke kelas yuk! Ntar ada Pak Nata nih. Kalian mau......” ucapku sambil menyeruput habis air mineralku.
            “Ntar aja ah,, bilang aja kita ke kantin. Pasti Pak Nata bakalan ngerti kok” celetuk Santo memotong pembicaraanku. Diantara kami berempat, Santo yang paling malas, sering terlambat masuk. Padahal sudah beribu-ribu kali nasehat terlontar dari mulut kami tapi hasilnya malah nihil. Entah kapan dia akan berubah.
            Beberapa minggu lagi ujian semester akan dilaksanakan. Satu masalah muncul dalam benakku. Masalah yang menjadi beban dalam hidupku. Bagaimana aku bisa membayar iuran buat semesteran nanti. Syarat buat mengikuti ujian semester dengan melunasi kegiatan administrasi sekolah yaitu membayar iuran. Entah uang dari mana bisa membayar iuran itu. Aku berharap ayah dan ibu masih ada simpanan uang. Entah sampai kapan hidupku seperti ini, hidup dilanda kesusahan. Tapi aku masih beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu menghiburku, pikirku sambil tersenyum getir melihat mereka.
            “Hei, Ra. Kamu kenapa? Kayak ada masalah yang sedang kamu sembunyiin. Ada apa?” sentak Sinta menyergapku. Aku menggeleng sambil melemparkan senyum seolah memberi pertanda tidak ada masalah yang serius yang tengah melandaku.
**
            Angin malam berhembus mesra. Rembulan yang amat cerah memamerkan pesona yang ia pancarkan membuat setiap hamparan manusia yang melihatnya berdecak kagum. Begitu indah dipandang mata. Tapi masalah yang harus ku hadapi tak secerah purnama malam yang tampak tenang tanpa ada masalah yang menerpanya. Perasaan bingung melandaku bagaimana mengutarakan hal ini pada ayah dan ibuku. Aku tahu mereka pasti belum memiliki uang. Untuk makan saja selalu kekurangan. Batinku seakan berteriak begitu betahnya kemiskinan menggelayuti keluarga kami. Tapi aku tidak mau menjadi orang selalu mengeluh dengan ekonomi yang sangat miris ini. Bukankah mengeluh itu pertanda kita tidak bersyukur atas nikmat yang sang khalik berikan? Bukankah orang yang mengeluh adalah orang tidak mau bangkit dari keterpurukkan?
**
            “Ra, aku perhatiin beberapa hari ini kamu nampak murung gak seperti biasanya? Mana Rara yang kami kenal dulu. Rara yang selalu senantiasa tersenyum walaupun begitu banyak badai yang menerpa? Ada masalah apa Ra mungkin kita bisa bantu” ucap Sinta menepuk pundakku.
            “Gak ada kok, Sin. Gak ada masalah apa-apa kok. Gak ada yang perlu di khawatirin. Everything’s fine” ucapku melempar senyum yang seakan dibuat-buat semanis mungkin agar para sahabat ku ini tidak mengkhawatirkan keadaanku.
            “Udahlah, Ra. Kita udah kenal kamu itu bukan baru kemaren atau beberapa detik yang lalu. Tapi kita itu udah kenal kamu dari zaman kita SD. Kamu gak inget sama komitmen yang kita buat? Bahwa kita harus mengutarakan masalah yang kita hadapi dan mencari solusinya? Kamu sendiri kan yang punya ide seperti itu?” ucap Yudi dengan nada melankolisnya yang membuat bendung di pelupuk mataku. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tetap menahan butiran bening itu agar tidak keluar. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan para sahabatku ini. Sahabat yang sangat ku cintai. “Hmm,, apa kamu ada masalah sama orang tua kamu? Ucap Yudi lagi.
            Aku menggeleng. Sungguh situasi yang tidak ku inginkan. Aku seperti penjahat yang sedang di interogasi polisi. Beribu pertanyaan menyelinap masuk ke telingaku. Dan jawabanku hanya dalam bentuk isyarat menggelengkan kepala yang membuat mereka semakin penasaran sama masalah yang tengah menimpaku. Seandainya aku diberi kesempatan, ingin rasanya untuk pergi dari situasi semacam ini. Tapi apa daya aku tak kuasa.  Butiran bening yang kutahan sedari tadi tanpa rasa malu tumpah di pipiku yang mulus yang membuat Sinta, Yudi dan Santo makin tak tega dan penasaran.
            “Kamu kenapa Ra. Ayo ceritain ke kita siapa tau kita bisa bantu.” Ucap Sinta merangkul pundak ku.
            Sejenak Santo berfikir. Menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini.          “Apa mungkin kamu belum bayar iuran ya, Ra?” ucap Santo blak-blakkan. Yudi melotot ke arah Santo seakan hendak berucap sesuatu yang membuat Yudi geram terhadap Santo yang asal bicara. Mendengar perkataan Santo air mataku semakin deras. Aku tak mampu mengucapkan kalimat satu kata pun rasanya sangat sulit keluar dari mulutku. Semakin derasnya butiran bening yang jatuh dipipiku membuat mereka seakan mengerti masalah apa yang sedang melanda gulana dalam diriku.
            “Kalo itu benar duduk persoalan yang sedang melanda kamu. Kami siap membantu kamu kok, Ra. Iya kan teman-teman?” tanya Sinta menuntut persetujuan. Yudi dan Santo menjawab secara bersamaan.
            “Iya, Ra. Itu gunanya sahabat. Selalu ada ketika kita lagi butuh. Selalu ada ketika kita sedang dirundung masalah.” Ucap Yudi dengan senyumnya yang tidak semanis senyum Agnez Mo dan Demi Lovato.
            Thanks ya. Kalian baik banget sama aku. Aku sayang kalian semua.” Ucap ku akhirnya. Aku beruntung memiliki sahabat yang pengertian seperti kalian. The true my best friends bukan sahabat yang abal-abal dan labil. Aku sayang kalian semua. Mutiara yang sinarnya menghilang seketika mulai bersinar lagi. Sebuah sinar yang terpancar indah dari wajah dan bibirku yang nampak melengkung ke atas mengukir sebuah senyuman terbaikku. Di pojokkan, terdengar suara lantunan lagu yang tengah diputar oleh salah satu penghuni kelas. Sebuah lagu yang sangat kami kenal yaitu lagu Gift of A Friend by Demi Lovato. Kami bernyanyi bersama mengikuti setiap alunan lagu itu dengan penuh perasaan. Betapa senangnya memiliki sahabat seperti kalian. Sahabat yang selalu ada buatku.