Sabtu, 15 November 2014

Cerpen Persahabatan: Mutiara yang Hilang


Mutiara yang Hilang
By: Herdinata

            Hari senin, di pagi yang cerah nampak segerombolan sahabat yang tengah asik berjalan dengan santai menuju ke kelas. Empat orang yang selalu bersama-sama, baik dalam suka maupun duka. Mereka adalah Rara, Sinta, Santo, dan Yudi. Mereka saling terbuka satu sama lain. Mereka berkomitmen, jika salah satu dari mereka ada masalah tidak boleh ditutup-tutupin seperti peribahasa ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Dibawah terik mentari yang begitu menyengat, akan segera dilaksanakan sebuah acara wajib setiap sekolah yakni upacara penaikkan bendera. Semua siswa wajib ikut serta termasuk empat sahabat ini.
            “Eh guys, cepet dikit jalannya upacaranya udah mau di mulai tuh.” Ucap Rara.
         “Sabar kali neng,” balas Santo. Sinta dan Yudi hanya memadangi Santo yang nampak cemberut.
         Upacara selesai begitu cepat. Cuaca yang panas membuatku sulit berbicara karena tenggorokkan ku yang belum dibasahi oleh segelas air. Rasanya mau pingsan ngejalanin upacara ini. Matahari era sekarang sama era dulu sepertinya jauh berbeda ketika ku membayangkan cerita orang tuaku yang menceritakan masa mudanya. Ku usap wajah manisku dengan kedua telapak tanganku. Ingin rasanya nyebur ke empang atau ke laut sekaligus saking panasnya pagi ini. Aneh memang, masih pagi tapi sudah sepanas ini cahaya yang dipancarkan sang mentari.
            Selesai upacara, aku dan sahabat karibku pergi kantin yang ada di sekolahku untuk menyirami tenggorokkanku yang tengah dilanda kemarau. Ku ambil satu gelas air mineral yang ada di tempat pendingin. Secepat kilat rasa haus yang menjalar di tenggorokkan ku berubah menjadi segar layaknya tanah kering yang disiram air hujan. Sejuk rasanya.”Eh guys, ke kelas yuk! Ntar ada Pak Nata nih. Kalian mau......” ucapku sambil menyeruput habis air mineralku.
            “Ntar aja ah,, bilang aja kita ke kantin. Pasti Pak Nata bakalan ngerti kok” celetuk Santo memotong pembicaraanku. Diantara kami berempat, Santo yang paling malas, sering terlambat masuk. Padahal sudah beribu-ribu kali nasehat terlontar dari mulut kami tapi hasilnya malah nihil. Entah kapan dia akan berubah.
            Beberapa minggu lagi ujian semester akan dilaksanakan. Satu masalah muncul dalam benakku. Masalah yang menjadi beban dalam hidupku. Bagaimana aku bisa membayar iuran buat semesteran nanti. Syarat buat mengikuti ujian semester dengan melunasi kegiatan administrasi sekolah yaitu membayar iuran. Entah uang dari mana bisa membayar iuran itu. Aku berharap ayah dan ibu masih ada simpanan uang. Entah sampai kapan hidupku seperti ini, hidup dilanda kesusahan. Tapi aku masih beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu menghiburku, pikirku sambil tersenyum getir melihat mereka.
            “Hei, Ra. Kamu kenapa? Kayak ada masalah yang sedang kamu sembunyiin. Ada apa?” sentak Sinta menyergapku. Aku menggeleng sambil melemparkan senyum seolah memberi pertanda tidak ada masalah yang serius yang tengah melandaku.
**
            Angin malam berhembus mesra. Rembulan yang amat cerah memamerkan pesona yang ia pancarkan membuat setiap hamparan manusia yang melihatnya berdecak kagum. Begitu indah dipandang mata. Tapi masalah yang harus ku hadapi tak secerah purnama malam yang tampak tenang tanpa ada masalah yang menerpanya. Perasaan bingung melandaku bagaimana mengutarakan hal ini pada ayah dan ibuku. Aku tahu mereka pasti belum memiliki uang. Untuk makan saja selalu kekurangan. Batinku seakan berteriak begitu betahnya kemiskinan menggelayuti keluarga kami. Tapi aku tidak mau menjadi orang selalu mengeluh dengan ekonomi yang sangat miris ini. Bukankah mengeluh itu pertanda kita tidak bersyukur atas nikmat yang sang khalik berikan? Bukankah orang yang mengeluh adalah orang tidak mau bangkit dari keterpurukkan?
**
            “Ra, aku perhatiin beberapa hari ini kamu nampak murung gak seperti biasanya? Mana Rara yang kami kenal dulu. Rara yang selalu senantiasa tersenyum walaupun begitu banyak badai yang menerpa? Ada masalah apa Ra mungkin kita bisa bantu” ucap Sinta menepuk pundakku.
            “Gak ada kok, Sin. Gak ada masalah apa-apa kok. Gak ada yang perlu di khawatirin. Everything’s fine” ucapku melempar senyum yang seakan dibuat-buat semanis mungkin agar para sahabat ku ini tidak mengkhawatirkan keadaanku.
            “Udahlah, Ra. Kita udah kenal kamu itu bukan baru kemaren atau beberapa detik yang lalu. Tapi kita itu udah kenal kamu dari zaman kita SD. Kamu gak inget sama komitmen yang kita buat? Bahwa kita harus mengutarakan masalah yang kita hadapi dan mencari solusinya? Kamu sendiri kan yang punya ide seperti itu?” ucap Yudi dengan nada melankolisnya yang membuat bendung di pelupuk mataku. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tetap menahan butiran bening itu agar tidak keluar. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan para sahabatku ini. Sahabat yang sangat ku cintai. “Hmm,, apa kamu ada masalah sama orang tua kamu? Ucap Yudi lagi.
            Aku menggeleng. Sungguh situasi yang tidak ku inginkan. Aku seperti penjahat yang sedang di interogasi polisi. Beribu pertanyaan menyelinap masuk ke telingaku. Dan jawabanku hanya dalam bentuk isyarat menggelengkan kepala yang membuat mereka semakin penasaran sama masalah yang tengah menimpaku. Seandainya aku diberi kesempatan, ingin rasanya untuk pergi dari situasi semacam ini. Tapi apa daya aku tak kuasa.  Butiran bening yang kutahan sedari tadi tanpa rasa malu tumpah di pipiku yang mulus yang membuat Sinta, Yudi dan Santo makin tak tega dan penasaran.
            “Kamu kenapa Ra. Ayo ceritain ke kita siapa tau kita bisa bantu.” Ucap Sinta merangkul pundak ku.
            Sejenak Santo berfikir. Menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini.          “Apa mungkin kamu belum bayar iuran ya, Ra?” ucap Santo blak-blakkan. Yudi melotot ke arah Santo seakan hendak berucap sesuatu yang membuat Yudi geram terhadap Santo yang asal bicara. Mendengar perkataan Santo air mataku semakin deras. Aku tak mampu mengucapkan kalimat satu kata pun rasanya sangat sulit keluar dari mulutku. Semakin derasnya butiran bening yang jatuh dipipiku membuat mereka seakan mengerti masalah apa yang sedang melanda gulana dalam diriku.
            “Kalo itu benar duduk persoalan yang sedang melanda kamu. Kami siap membantu kamu kok, Ra. Iya kan teman-teman?” tanya Sinta menuntut persetujuan. Yudi dan Santo menjawab secara bersamaan.
            “Iya, Ra. Itu gunanya sahabat. Selalu ada ketika kita lagi butuh. Selalu ada ketika kita sedang dirundung masalah.” Ucap Yudi dengan senyumnya yang tidak semanis senyum Agnez Mo dan Demi Lovato.
            Thanks ya. Kalian baik banget sama aku. Aku sayang kalian semua.” Ucap ku akhirnya. Aku beruntung memiliki sahabat yang pengertian seperti kalian. The true my best friends bukan sahabat yang abal-abal dan labil. Aku sayang kalian semua. Mutiara yang sinarnya menghilang seketika mulai bersinar lagi. Sebuah sinar yang terpancar indah dari wajah dan bibirku yang nampak melengkung ke atas mengukir sebuah senyuman terbaikku. Di pojokkan, terdengar suara lantunan lagu yang tengah diputar oleh salah satu penghuni kelas. Sebuah lagu yang sangat kami kenal yaitu lagu Gift of A Friend by Demi Lovato. Kami bernyanyi bersama mengikuti setiap alunan lagu itu dengan penuh perasaan. Betapa senangnya memiliki sahabat seperti kalian. Sahabat yang selalu ada buatku.

Tidak ada komentar: