Mutiara
yang Hilang
By:
Herdinata
Hari
senin, di pagi yang cerah nampak segerombolan sahabat yang tengah asik berjalan
dengan santai menuju ke kelas. Empat orang yang selalu bersama-sama, baik dalam
suka maupun duka. Mereka adalah Rara, Sinta, Santo, dan Yudi. Mereka saling
terbuka satu sama lain. Mereka berkomitmen, jika salah satu dari mereka ada
masalah tidak boleh ditutup-tutupin seperti peribahasa
ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Dibawah terik mentari yang begitu
menyengat, akan segera dilaksanakan sebuah acara wajib setiap sekolah yakni
upacara penaikkan bendera. Semua siswa wajib ikut serta termasuk empat sahabat
ini.
“Eh
guys, cepet dikit jalannya upacaranya udah mau di mulai tuh.” Ucap Rara.
“Sabar
kali neng,” balas Santo. Sinta dan Yudi hanya memadangi Santo yang nampak
cemberut.
Upacara
selesai begitu cepat. Cuaca yang panas membuatku sulit berbicara karena
tenggorokkan ku yang belum dibasahi oleh segelas air. Rasanya mau pingsan
ngejalanin upacara ini. Matahari era sekarang sama era dulu sepertinya jauh
berbeda ketika ku membayangkan cerita orang tuaku yang menceritakan masa mudanya.
Ku usap wajah manisku dengan kedua telapak tanganku. Ingin rasanya nyebur ke
empang atau ke laut sekaligus saking panasnya pagi ini. Aneh memang, masih pagi
tapi sudah sepanas ini cahaya yang dipancarkan sang mentari.
Selesai
upacara, aku dan sahabat karibku pergi kantin yang ada di sekolahku untuk
menyirami tenggorokkanku yang tengah dilanda kemarau. Ku ambil satu gelas air mineral
yang ada di tempat pendingin. Secepat kilat rasa haus yang menjalar di
tenggorokkan ku berubah menjadi segar layaknya tanah kering yang disiram air
hujan. Sejuk rasanya.”Eh guys, ke kelas yuk! Ntar ada Pak Nata nih. Kalian
mau......” ucapku sambil menyeruput habis air mineralku.
“Ntar
aja ah,, bilang aja kita ke kantin. Pasti Pak Nata bakalan ngerti kok” celetuk
Santo memotong pembicaraanku. Diantara kami berempat, Santo yang paling malas,
sering terlambat masuk. Padahal sudah beribu-ribu kali nasehat terlontar dari
mulut kami tapi hasilnya malah nihil. Entah kapan dia akan berubah.
Beberapa
minggu lagi ujian semester akan dilaksanakan. Satu masalah muncul dalam
benakku. Masalah yang menjadi beban dalam hidupku. Bagaimana aku bisa membayar
iuran buat semesteran nanti. Syarat buat mengikuti ujian semester dengan
melunasi kegiatan administrasi sekolah yaitu membayar iuran. Entah uang dari
mana bisa membayar iuran itu. Aku berharap ayah dan ibu masih ada simpanan
uang. Entah sampai kapan hidupku seperti ini, hidup dilanda kesusahan. Tapi aku
masih beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu menghiburku,
pikirku sambil tersenyum getir melihat mereka.
“Hei,
Ra. Kamu kenapa? Kayak ada masalah yang sedang kamu sembunyiin. Ada apa?”
sentak Sinta menyergapku. Aku menggeleng sambil melemparkan senyum seolah memberi
pertanda tidak ada masalah yang serius yang tengah melandaku.
**
Angin
malam berhembus mesra. Rembulan yang amat cerah memamerkan pesona yang ia
pancarkan membuat setiap hamparan manusia yang melihatnya berdecak kagum.
Begitu indah dipandang mata. Tapi masalah yang harus ku hadapi tak secerah
purnama malam yang tampak tenang tanpa ada masalah yang menerpanya. Perasaan
bingung melandaku bagaimana mengutarakan hal ini pada ayah dan ibuku. Aku tahu
mereka pasti belum memiliki uang. Untuk makan saja selalu kekurangan. Batinku
seakan berteriak begitu betahnya kemiskinan menggelayuti keluarga kami. Tapi
aku tidak mau menjadi orang selalu mengeluh dengan ekonomi yang sangat miris
ini. Bukankah mengeluh itu pertanda kita tidak bersyukur atas nikmat yang sang khalik berikan? Bukankah orang yang
mengeluh adalah orang tidak mau bangkit dari keterpurukkan?
**
“Ra,
aku perhatiin beberapa hari ini kamu nampak murung gak seperti biasanya? Mana
Rara yang kami kenal dulu. Rara yang selalu senantiasa tersenyum walaupun
begitu banyak badai yang menerpa? Ada masalah apa Ra mungkin kita bisa bantu”
ucap Sinta menepuk pundakku.
“Gak
ada kok, Sin. Gak ada masalah apa-apa kok. Gak ada yang perlu di khawatirin. Everything’s fine” ucapku melempar
senyum yang seakan dibuat-buat semanis mungkin agar para sahabat ku ini tidak
mengkhawatirkan keadaanku.
“Udahlah,
Ra. Kita udah kenal kamu itu bukan baru kemaren atau beberapa detik yang lalu.
Tapi kita itu udah kenal kamu dari zaman kita SD. Kamu gak inget sama komitmen
yang kita buat? Bahwa kita harus mengutarakan masalah yang kita hadapi dan
mencari solusinya? Kamu sendiri kan yang punya ide seperti itu?” ucap Yudi
dengan nada melankolisnya yang membuat bendung di pelupuk mataku. Aku berusaha
sekeras mungkin untuk tetap menahan butiran bening itu agar tidak keluar. Aku
tidak mau terlihat lemah di hadapan para sahabatku ini. Sahabat yang sangat ku
cintai. “Hmm,, apa kamu ada masalah sama orang tua kamu? Ucap Yudi lagi.
Aku
menggeleng. Sungguh situasi yang tidak ku inginkan. Aku seperti penjahat yang
sedang di interogasi polisi. Beribu pertanyaan menyelinap masuk ke telingaku.
Dan jawabanku hanya dalam bentuk isyarat menggelengkan kepala yang membuat
mereka semakin penasaran sama masalah yang tengah menimpaku. Seandainya aku
diberi kesempatan, ingin rasanya untuk pergi dari situasi semacam ini. Tapi apa
daya aku tak kuasa. Butiran bening yang
kutahan sedari tadi tanpa rasa malu tumpah di pipiku yang mulus yang membuat Sinta,
Yudi dan Santo makin tak tega dan penasaran.
“Kamu
kenapa Ra. Ayo ceritain ke kita siapa tau kita bisa bantu.” Ucap Sinta
merangkul pundak ku.
Sejenak
Santo berfikir. Menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini. “Apa mungkin kamu belum bayar iuran ya,
Ra?” ucap Santo blak-blakkan. Yudi melotot ke arah Santo seakan hendak berucap
sesuatu yang membuat Yudi geram terhadap Santo yang asal bicara. Mendengar
perkataan Santo air mataku semakin deras. Aku tak mampu mengucapkan kalimat satu
kata pun rasanya sangat sulit keluar dari mulutku. Semakin derasnya butiran
bening yang jatuh dipipiku membuat mereka seakan mengerti masalah apa yang
sedang melanda gulana dalam diriku.
“Kalo
itu benar duduk persoalan yang sedang melanda kamu. Kami siap membantu kamu
kok, Ra. Iya kan teman-teman?” tanya Sinta menuntut persetujuan. Yudi dan Santo
menjawab secara bersamaan.
“Iya,
Ra. Itu gunanya sahabat. Selalu ada ketika kita lagi butuh. Selalu ada ketika
kita sedang dirundung masalah.” Ucap Yudi dengan senyumnya yang tidak semanis
senyum Agnez Mo dan Demi Lovato.
“Thanks ya. Kalian baik banget sama aku.
Aku sayang kalian semua.” Ucap ku akhirnya. Aku beruntung memiliki sahabat yang
pengertian seperti kalian. The true my
best friends bukan sahabat yang abal-abal dan labil. Aku sayang kalian
semua. Mutiara yang sinarnya menghilang seketika mulai bersinar lagi. Sebuah
sinar yang terpancar indah dari wajah dan bibirku yang nampak melengkung ke
atas mengukir sebuah senyuman terbaikku. Di pojokkan, terdengar suara lantunan
lagu yang tengah diputar oleh salah satu penghuni kelas. Sebuah lagu yang
sangat kami kenal yaitu lagu Gift of A
Friend by Demi Lovato. Kami bernyanyi bersama mengikuti setiap alunan lagu
itu dengan penuh perasaan. Betapa senangnya memiliki sahabat seperti kalian.
Sahabat yang selalu ada buatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar