Awan
dan Ombak
Oleh: Herdinata
Siang
itu matahari enggan menampakkan diri. Pepohonan seakan enggan meneruskan
hidupnya. Daun-daun yang sudah tua jatuh melayang dengan pasrah. Aku memosisikan
diri duduk di bawah pohon yang ada di taman kota dengan niat untuk mengusir penat
karena semua masalah sedang menimpaku. Kenapa masalah selalu datang kepadaku
tanpa permisi? Aku tahu bahwa tuhan memberi kita masalah itu karena tuhan
sayang sama kita para umatnya. Tapi kenapa masalah ini selalu datang bertubi-tubi?
Aku harus kuat. Aku tidak mau terlihat lemah di depan semua orang. Benar kata
pepatah kita harus kuat dari masalah yang sedang kita hadapi.
“Sayang
kamu ngapain di taman sendirian?” ucap Karin menepuk pundakku dan membuat
lamunanku terhempas entah kemana.
“Eh,
kamu sayang. Sejak kapan di sini?” balasku menoleh ke arah wajahnya yang manis.
“Baru
aja nyampe sayang. Tadi aku pulang kuliah gak sengaja liat kamu duduk di taman
ini. Kamu ngapain ke taman sendirian gini? Gak ngajak-ngajak lagi.” Karin
merengek manja.
“Maaf
ya sayang. Tadi kan kamu kuliah. Aku gak mau kamu bolos kuliah gara-gara
nemenin aku.” Ucapku lirih.
“Atau
mungkin kamu mau ketemu sama wanita lain?”
“Udah
deh sayang. Aku di sini gak ngapa-ngapain. Percaya deh sama aku. Aku gak
bakalan berani mengkhianati kamu.” Ucapku memegang bahu Karin pacarku.
“Semoga
aja apa yang kamu omongin itu benar.” Karin berdiri lalu hendak pergi meninggalkanku
seorang diri. Ini sifat yang paling tidak ku suka dari Karin. Dia adalah typical orang pencemburu dan terlalu over protektif. Masalah kecil
dibesar-besarkan.
“Tunggu
sayang, please kamu percaya sama aku!
Kariiiiiinnnnn......” teriakku. Ku segah saku ku dan ku ambil handphone. Angkat dong Karinn, angkat
teleponnya. Ah siallll. Gerutuku. Tolong dong Karin mengerti perasaanku
sekarang. Aku capek dengan sikap kamu ke aku. Aku capek. Desisku sambil meremas
rambut bagian depanku.
**
Angin
malam berhembus mesra tepat ke arah wajahku yang nampak kusut. Masalah seakan
tanpa hentinya menghampiri hidupku. Masalah di kantor, masalah mama dan papa
sekarang ditambah masalah percintaanku dengan Karin yang tak kunjung usai. Ku
rebahkan tubuhku ke kasurku yang nampak berwarna cokelat gelap. Dalam hati aku
berbisik “Karin jangan kayak anak kecil dong. Tolong ngertiin aku.” Batinku.
Selang beberapa menit setelah aku memikirkan dia, handphone-ku yang tergeletak di atas meja kerjaku berbunyi
mengalunkan sebuah nada yang sangat ku kenal pertanda ada pesan yang masuk.
Dengan sigap aku mengklik tombol pesan dan sesegera mungkin untuk membaca pesan
karena aku tahu pesan dari siapa yang masuk. Kariiiinnn. Bisikku.
Al, aku minta putus. Mungkin ini jalan yang
terbaik buat kita. Aku tahu kamu ga nyaman kan dengan aku? Maka dari itu, aku minta
hubungan kita ini berakhir!
Hatiku sontak
kaget membaca pesan yang membuatku tambah gundah gulana begini. Hatiku bagai
dilempar batu berukuran besar. Bisa-bisanya Karin berbicara seperti itu. Semudah
itukah dia meminta hubungan ini berakhir? Dengan nafas yang tak teratur aku
berniat menelpon Karin untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.
Jujur aku tidak mau kehilangan orang yang sangat ku sayangi. Pemilik hati nan
suci ini. Sang penguasa hatiku, Karin.
“Hallo,
Karin. Maksud kamu apa ngomong kaya gitu? Kamu lagi bercanda kan? Ka..kamu ga
bener-bener minta putus kan dari aku?” ucapku ditelpon saat Karin mengangkat
teleponku.
“Maaf,
Al. Aku ga nyaman lagi sama kamu. Aku muak dengan semua ini. Bukannya ini kan
yang kamu mau karena sikapku yang terlalu over
protektive ke kamu?” cerocos Karin dengan nada tegas.
“Ga
sayang. Aku ga mau putus sama kamu. Aku cinta sama kamu, Karin. Oke gini besok temui aku di cafe tempat kita sering nongkrong jam 2
siang. Aku tunggu kedatangan kamu.”
perintahku.
Tuutt..tutt..tutttttttt..
Karinn?? Kariiiinnn? Karinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn? Buggg. Suara bantingan handphone-ku yang ku buang dengan
ganasnya bak buak kelapa yang jatuh ke bumi. Karin kenapa kamu tega sama aku?
Aku ga habis pikir. Teriakku dengan volume tertinggi dari suaraku.
**
Siang
ini hatiku gelisah. Orang yang kutunggu-tunggu belum datang juga. Ku lihat
arlojiku sudah jam 2 siang lebih tapi sang pujaan hati ini belum juga muncul.
Apakah dia lupa dengan ucapanku semalam? Atau mungkin dia sengaja tidak mau
datang menemuiku. Apakah cintamu buatku sudah sirna? Semudah itukah? Karin,
pliss ke sini! Ucapku membatin. Hatiku semakin gelisah karena sosok orang yang
hendak kutemui tak kunjung datang. Orang sekitar tertawa dengan renyahnya
seolah-olah menertawakanku yang sedang dirundung kegelisahan. Waktu pun secepat
kilat berjalan dari biasanya. Tanpa terasa sudah satu jam lebih aku menunggu
Karin di sini tapi tak ku dapati sosok wanita pemilik hati ini. Dari balik
kaca, ku lihat awan putih sungguh cerah di tambah langit yang berwarna hijau. Sungguh
sempurna. Andai hubungan kita seperti itu Karin.
**
Laju
mobilku ku percepat tidak seperti biasanya. Satu yang ada dalam pikiranku,
Karin. Orang yang sangat kucintai terlepas dari sikap dia yang terlalu over protektif terhadapku. Aku tahu
Karin bersikap seperti itu karena dia takut kehilanganku. Tapi kenapa sekarang
dia malah dengan mudahnya melepaskanku? Apakah cintanya benar-benar sirna? Ku
percepat laju mobilku untuk sesegera mungkin sampai ke rumahnya. Aku ingin dia
menjelaskan alasan yang logis perihal putusnya hubungan kita ini.
“Maaf
den Aldo. Tadi non Karin nya pergi den” ucap bi Ima pembantunya Karin yang
sudah hampir 10 tahun bekerja di rumah Karin.
“Ke
mana perginya bi?” balasku dengan nafas tak teratur. Bi Ima hanya menggeleng.
Karin, kamu di mana sayang? Batinku. Ku lanjutkan perjalananku mencari Karin
orang yang teramat ku khawatirkan sekarang ini. Aku takut dia pergi jauh
meninggalkanku. Karin sayang, di mana kamu? please
jangan buat aku jadi khawatir gini! Desisku.
Di
sela-sela kesemerawutan pikiranku, terlintas kenangan indah yang ku lalui
bersama Karin di sebuah pantai Pasir Putih. Memandangi pantai nan indah,
menikmati panorama disekeliling pantai dan melihat deburan ombak yang
berkejar-kejaran tanpa hentinya membuat bibir pantai basah kuyup. Sungguh kenangan
indah itu masih segar di memori otakku. Selamanya tak akan pernah ku lupakan.
Apa mungkin dia di pantai Pasir Putih? Kupercepat mobilku dengan harapan agar
aku dapat menemukan Karin. Aku butuh penjelasan dari dia. Aku tidak rela jika
dia dengan mudahnya memutuskan hubungan ini. Sungguh aku tidak rela.
Diperjalanan
jalur provinsi, mataku lelah melihat jalanan yang tak kunjung sampai. Seakan
jalan yang ku lalui ini tidak ada ujungnya. Pikiranku juga tidak stabil lagi.
Ditikungan yang tajam mobilku tak dapat ku kendalikan dengan baik dan akhirnya
....... mobil yang ku kendalikan masuk ke dalam jurang dan aku terdampar dari
dalam mobil. Bagaikan sebutir debu yang terhempas ke bumi. Aku bermandikan
darah akibat kayu-kayu dan batu-batu yang menghempas tubuhku. Saat ku terbaring
lemah, ku lihat awan masih setia menemani sang langit biru. Ombak-ombak di
lautan masih dengan riangnya pergi kesana kemari. Sampai kapan pun awan dan
ombak tak akan pernah bersatu. Mungkin cinta kita begitu adanya Karin. Disisa
akhir hidupku yang sempit ini, aku mau kamu berada disampingku sayang menemaniku
sampai ajal menjemputku. Awan, tunggu aku di atas sana. Ombak, buatlah hati
orang ku sayangi bahagia saat melihatmu menari-nari di atas laut biru. Aku
sayang kamu, Karin.
Suasana
hening. Tak ada satupun suara yang terdengar lagi siang itu. Tak ada hembusan
mesra sang angin. Tak ada tarian dari pohon-pohon. Tak ada satupun daun yang
jatuh menemani tidur panjangku. Hanya aku seorang diri yang terkulai tak
bernyawa. Berharap awan putih menyambutku untuk terbang ke atas sana menuju
sang maha pemilik semesta alam.
#End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar