Sabtu, 15 November 2014

Cerpen Awan dan Ombak


Awan dan Ombak
Oleh: Herdinata

            Siang itu matahari enggan menampakkan diri. Pepohonan seakan enggan meneruskan hidupnya. Daun-daun yang sudah tua jatuh melayang dengan pasrah. Aku memosisikan diri duduk di bawah pohon yang ada di taman kota dengan niat untuk mengusir penat karena semua masalah sedang menimpaku. Kenapa masalah selalu datang kepadaku tanpa permisi? Aku tahu bahwa tuhan memberi kita masalah itu karena tuhan sayang sama kita para umatnya. Tapi kenapa masalah ini selalu datang bertubi-tubi? Aku harus kuat. Aku tidak mau terlihat lemah di depan semua orang. Benar kata pepatah kita harus kuat dari masalah yang sedang kita hadapi.
            “Sayang kamu ngapain di taman sendirian?” ucap Karin menepuk pundakku dan membuat lamunanku terhempas entah kemana.
            “Eh, kamu sayang. Sejak kapan di sini?” balasku menoleh ke arah wajahnya yang manis.
            “Baru aja nyampe sayang. Tadi aku pulang kuliah gak sengaja liat kamu duduk di taman ini. Kamu ngapain ke taman sendirian gini? Gak ngajak-ngajak lagi.” Karin merengek manja.
            “Maaf ya sayang. Tadi kan kamu kuliah. Aku gak mau kamu bolos kuliah gara-gara nemenin aku.” Ucapku lirih.
            “Atau mungkin kamu mau ketemu sama wanita lain?”
            “Udah deh sayang. Aku di sini gak ngapa-ngapain. Percaya deh sama aku. Aku gak bakalan berani mengkhianati kamu.” Ucapku memegang bahu Karin pacarku.
            “Semoga aja apa yang kamu omongin itu benar.” Karin berdiri lalu hendak pergi meninggalkanku seorang diri. Ini sifat yang paling tidak ku suka dari Karin. Dia adalah typical orang pencemburu dan terlalu over protektif. Masalah kecil dibesar-besarkan.
            “Tunggu sayang, please kamu percaya sama aku! Kariiiiiinnnnn......” teriakku. Ku segah saku ku dan ku ambil handphone. Angkat dong Karinn, angkat teleponnya. Ah siallll. Gerutuku. Tolong dong Karin mengerti perasaanku sekarang. Aku capek dengan sikap kamu ke aku. Aku capek. Desisku sambil meremas rambut bagian depanku.
**
            Angin malam berhembus mesra tepat ke arah wajahku yang nampak kusut. Masalah seakan tanpa hentinya menghampiri hidupku. Masalah di kantor, masalah mama dan papa sekarang ditambah masalah percintaanku dengan Karin yang tak kunjung usai. Ku rebahkan tubuhku ke kasurku yang nampak berwarna cokelat gelap. Dalam hati aku berbisik “Karin jangan kayak anak kecil dong. Tolong ngertiin aku.” Batinku. Selang beberapa menit setelah aku memikirkan dia, handphone-ku yang tergeletak di atas meja kerjaku berbunyi mengalunkan sebuah nada yang sangat ku kenal pertanda ada pesan yang masuk. Dengan sigap aku mengklik tombol pesan dan sesegera mungkin untuk membaca pesan karena aku tahu pesan dari siapa yang masuk. Kariiiinnn. Bisikku.
            Al, aku minta putus. Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita. Aku tahu kamu ga nyaman kan dengan aku? Maka dari itu, aku minta hubungan kita ini berakhir!
            Hatiku sontak kaget membaca pesan yang membuatku tambah gundah gulana begini. Hatiku bagai dilempar batu berukuran besar. Bisa-bisanya Karin berbicara seperti itu. Semudah itukah dia meminta hubungan ini berakhir? Dengan nafas yang tak teratur aku berniat menelpon Karin untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Jujur aku tidak mau kehilangan orang yang sangat ku sayangi. Pemilik hati nan suci ini. Sang penguasa hatiku, Karin.
            “Hallo, Karin. Maksud kamu apa ngomong kaya gitu? Kamu lagi bercanda kan? Ka..kamu ga bener-bener minta putus kan dari aku?” ucapku ditelpon saat Karin mengangkat teleponku.
            “Maaf, Al. Aku ga nyaman lagi sama kamu. Aku muak dengan semua ini. Bukannya ini kan yang kamu mau karena sikapku yang terlalu over protektive ke kamu?” cerocos Karin dengan nada tegas.
            “Ga sayang. Aku ga mau putus sama kamu. Aku cinta sama kamu, Karin. Oke gini besok temui aku di cafe tempat kita sering nongkrong jam 2 siang. Aku tunggu kedatangan  kamu.” perintahku.
            Tuutt..tutt..tutttttttt.. Karinn?? Kariiiinnn? Karinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn? Buggg. Suara bantingan handphone-ku yang ku buang dengan ganasnya bak buak kelapa yang jatuh ke bumi. Karin kenapa kamu tega sama aku? Aku ga habis pikir. Teriakku dengan volume tertinggi dari suaraku.
**
            Siang ini hatiku gelisah. Orang yang kutunggu-tunggu belum datang juga. Ku lihat arlojiku sudah jam 2 siang lebih tapi sang pujaan hati ini belum juga muncul. Apakah dia lupa dengan ucapanku semalam? Atau mungkin dia sengaja tidak mau datang menemuiku. Apakah cintamu buatku sudah sirna? Semudah itukah? Karin, pliss ke sini! Ucapku membatin. Hatiku semakin gelisah karena sosok orang yang hendak kutemui tak kunjung datang. Orang sekitar tertawa dengan renyahnya seolah-olah menertawakanku yang sedang dirundung kegelisahan. Waktu pun secepat kilat berjalan dari biasanya. Tanpa terasa sudah satu jam lebih aku menunggu Karin di sini tapi tak ku dapati sosok wanita pemilik hati ini. Dari balik kaca, ku lihat awan putih sungguh cerah di tambah langit yang berwarna hijau. Sungguh sempurna. Andai hubungan kita seperti itu Karin.
**
            Laju mobilku ku percepat tidak seperti biasanya. Satu yang ada dalam pikiranku, Karin. Orang yang sangat kucintai terlepas dari sikap dia yang terlalu over protektif terhadapku. Aku tahu Karin bersikap seperti itu karena dia takut kehilanganku. Tapi kenapa sekarang dia malah dengan mudahnya melepaskanku? Apakah cintanya benar-benar sirna? Ku percepat laju mobilku untuk sesegera mungkin sampai ke rumahnya. Aku ingin dia menjelaskan alasan yang logis perihal putusnya hubungan kita ini.
            “Maaf den Aldo. Tadi non Karin nya pergi den” ucap bi Ima pembantunya Karin yang sudah hampir 10 tahun bekerja di rumah Karin.
            “Ke mana perginya bi?” balasku dengan nafas tak teratur. Bi Ima hanya menggeleng. Karin, kamu di mana sayang? Batinku. Ku lanjutkan perjalananku mencari Karin orang yang teramat ku khawatirkan sekarang ini. Aku takut dia pergi jauh meninggalkanku. Karin sayang, di mana kamu? please jangan buat aku jadi khawatir gini! Desisku.
            Di sela-sela kesemerawutan pikiranku, terlintas kenangan indah yang ku lalui bersama Karin di sebuah pantai Pasir Putih. Memandangi pantai nan indah, menikmati panorama disekeliling pantai dan melihat deburan ombak yang berkejar-kejaran tanpa hentinya membuat bibir pantai basah kuyup. Sungguh kenangan indah itu masih segar di memori otakku. Selamanya tak akan pernah ku lupakan. Apa mungkin dia di pantai Pasir Putih? Kupercepat mobilku dengan harapan agar aku dapat menemukan Karin. Aku butuh penjelasan dari dia. Aku tidak rela jika dia dengan mudahnya memutuskan hubungan ini. Sungguh aku tidak rela.
            Diperjalanan jalur provinsi, mataku lelah melihat jalanan yang tak kunjung sampai. Seakan jalan yang ku lalui ini tidak ada ujungnya. Pikiranku juga tidak stabil lagi. Ditikungan yang tajam mobilku tak dapat ku kendalikan dengan baik dan akhirnya ....... mobil yang ku kendalikan masuk ke dalam jurang dan aku terdampar dari dalam mobil. Bagaikan sebutir debu yang terhempas ke bumi. Aku bermandikan darah akibat kayu-kayu dan batu-batu yang menghempas tubuhku. Saat ku terbaring lemah, ku lihat awan masih setia menemani sang langit biru. Ombak-ombak di lautan masih dengan riangnya pergi kesana kemari. Sampai kapan pun awan dan ombak tak akan pernah bersatu. Mungkin cinta kita begitu adanya Karin. Disisa akhir hidupku yang sempit ini, aku mau kamu berada disampingku sayang menemaniku sampai ajal menjemputku. Awan, tunggu aku di atas sana. Ombak, buatlah hati orang ku sayangi bahagia saat melihatmu menari-nari di atas laut biru. Aku sayang kamu, Karin.
            Suasana hening. Tak ada satupun suara yang terdengar lagi siang itu. Tak ada hembusan mesra sang angin. Tak ada tarian dari pohon-pohon. Tak ada satupun daun yang jatuh menemani tidur panjangku. Hanya aku seorang diri yang terkulai tak bernyawa. Berharap awan putih menyambutku untuk terbang ke atas sana menuju sang maha pemilik semesta alam.

#End

Tidak ada komentar: