Sayap
Pelindungku
Oleh:
Herdinata
Mentari
siang ini begitu pekat. Panasnya menembus kulit sampai ke bagian dalam.
Dedaunan seakan lusuh dan lesu diterpa panasnya mentari. Begitupun tanah
bagaikan menginjak bara api saking panasnya siang ini. Ya, siang ini cuaca
begitu panas. Akupun rasanya enggan untuk melangkahkan kakiku ke lantai langit
ini.
Jam
perkuliahan telah usai. Semua orang bergegas meninggalkan kampus. Tapi aku
lebih memilih ke taman dahulu sebelum pulang ke rumah karena cuaca siang hari
ini begitu panas. “Palembang semakin panas saja”, gerutuku. Setibanya di taman
aku memilih untuk duduk di bangku yang berada di bawah pohon rindang di sudut
taman.“Lumayan banyak orang yang duduk di taman ini, mungkin karena cuaca panas
ini kali ya” pikirku.
Ku
buka tas ku dan mencari novel favoritku agar tidak begitu jenuh berada disini.“Novelnya
dimana ya? Apa mungkin aku lupa membawanya?”. Gumamku.Ku cari-cari lagi dan
ternyata novelnya terletak di bagian paling bawah tas sophie ku.
“Ini
dia ketemu, untung aku bawa novelnya”. Ucapku tersenyum.
Novel
“Kata Hati” karya Bernard Batubara. Ya,
itulah novel favoritku yang selalu ku bawa sewaktu ngampus. Aku suka alur
ceritanya, ceritanya juga menarik dan romantis banget menurutku. Ku baca dengan
seksama novel itu, seakan aku yang berada di dalam novel itu. “Berharap aku
adalah orang ada dalam novel itu yang menemukan siapa sayap pelindung dari
hidupku yang indah. “Berharap suatu saat ada sayap pelindung untukku. Tapi
siapa?” Pikirku dalam hati.
Tak
terasa hari mulai sore, ku lihat jam di handphone ku baru jam 2 siang.
“hmmm, laper” gerutuku.
Aku
memutuskan untuk meninggalkan tempat yang menurutku sudah mulai membosankan
untuk berada disitu. Ku bereskan buku-buku ku dan ku rapikan baju yang ku pakai
dan beranjak langsung dari tempat itu.
Ehem... ehemmmm!!
Belum
sempat aku beranjak meninggalkan tempat itu, ada suara lelaki yang berdehem
entah dimana asalnya suara itu. Mataku terbelalak menoleh ke setiap sudut dan
sesekali menoleh ke sampingberharapmenemukan dari mana suara itu berasal.
“Haii”
sapa lelaki yang tak ku kenal sebelumnya.
Ternyata
dugaan ku benar bahwa ada sesorang di balik pohon rindang itu.
“Mau pergi ya?” sapa lelaki
itu.
“Eh
iya, aku mau ke kantin laper soalnya, duluan ya!” balasku tersenyum malu.
“Ke
kantin bareng yuk!, kebetulan aku juga laper nih. Boleh ya!” pinta lelaki yang
menurutku manis banget itu.
“Oh
boleh kok”, jawabku manis.
Kantin
Bunda, kantin dengan beranekaragam makanan dan minuman layaknya sebuah
supermarket besar karena begitu ramai dan banyak sekali menu yang ditawarkan di
kantin ini.
“Mau
pesan apa?” sapa lelaki itu membuka pembicaraan.
“Mie
ayam aja deh”, balasku.
“Mbak,
mie ayamnya dua sama jus mangga nya
dua.” Teriak lelaki yang belum ku kenal itu.
“Oh
iya, kita belum kenalan”, ucap lelaki itu membuyarkan lamunanku.
“Raffa,”
ucapnya.
“Ratna”
balasku.
“Kuliah
di sini juga kan, ambil jurusan apa?” balasnya lagi.
“Ambil
jurusan sastra mas”. Balasku.
“Ehh,
jangan panggil mas dong, berasa tua gitu jadinya. Panggil Raffa aja ya!,
pintanya.
“Oh
iya, Raffa” balasku tersenyum.
Entah
perasaan aku yang lagi gak sehat atau apa aku juga gak mengerti, berada di de-kat
dia aku deg-degan, jantungku seakan dipompa sekencang-kencangnya, berdegup
kencang, raut wajah ku merah bagaikan udang yang sedang direbus. “Oh tuhan, ada
apa denganku?” tanyaku dalam hati.
“Heii!!”
bentak Raffa kencang.
“Kenapa
ngelamun? Cewe secantik kamu dilarang melamun nanti kerasukan setan jelek lho..”
candanya.
Mana
ada setan ganteng, bukannya semua setan itu jelek ya? Ada-ada aja nih orang.
gumamku dalam hati.
“Oh
enggak kok, aku gak ngelamun, lagian mana mungkin ada setan mau masuk ke tubuh
gue, hehe..” candaku menghangatkan suasana.
Dua
piring mie ayam dan dua gelas jus mangga yang sudah di pesan sedari tadi, tiba
dihadapan kami.
“Ayo
dimakan Rat mie nya jangan dilihatin aja”, ucapnya mendesak.
“Oh
iya..” balasnya sedikit malu.
“Tinggal
di mana Rat?
“Di
Perum Raf, kalo kamu sendiri?
“Aku
tinggal di rumah orang tuaku sih,, hehehe” canda Raffa.
“Huhh,
dasar cowo aneh , iya iyalah tinggal sama orang tua, masa tinggal sama kebo kan
gak mungkin,” gerutku kesal.
“Ohh”,
jawabku tanpa berkata apa-apa lagi.
“Abis
ini mau langsung pulang?. Tanya Raffa.
“Kayaknya
belum deh Raff, aku mau ke perpus dulu mau minjem novel.” Balasku.
“Mau
ditemenin gak?, tawar Raffa.
“Gak
usalah, aku sendiri aja. Takutnya kamu nanti ada urusan lain yang lebih
penting”. Timpalku.
Aku
meneruskan langkahku untuk segera ke perpustakaan. Ku lirik arlojiku sudah
menunjukkan tepat pukul 3 sore. Langsung ku percepat langkahku seperti olahragawan
yang sedang mengikuti lomba jalan lari dan berharap sampai ke garis finish secepat mungkin. Aku langsung
menekan tombol lift dan menekan
tombol yang mengantarkan aku ke lantai tiga. Langsung aku bergegas mengisi
daftar pengunjung dan bergegas menuju sasaran utama ku yaitu mencari novel yang
ingin ku cari.
Suasana
perpustakaan sore ini begitu ramai dari biasanya, sampai-sampai tidak ada satupun
kursi yang tersisa. “huhhh,, menyebalkan tumben hari ini begitu ramai seperti
ini, gak kayak biasnya”, gerutuku kesal.
“Mana
lagi, novelnya?” ucapku dalam hati. Ahhh,, ini dia!
Pada
saat mau mengambil novelnya tiba-tiba ada orang lain juga yang ingin mengambil
novel tersebut. Sesosok cowok yang teramat tampan, putih bersih, dan berpakaian
rapi. Sekilas raut wajahnya mirip sama lelaki yang ku kenal beberapa jam yang
lalu. Tapi, lelaki ini agak sedikit berbeda tatapan mata dan senyum simpul yang
dia lontarkan menggetarkan setiap hati kaum hawa yang melihatnya.“Ohh, tuhan
siapakah dia? Mungkinkah dia orang yang selama ini aku impikan? Atau ini hanya
sebuah mimpi indahku?”bisikku dalam hati.
“Oh
maaf, mau ambil novel ini juga ya? Ini buat kamu aja.”ucapku.
“Oh
gak, buat kamu aja kayaknya kamu lebih butuh novel ini” balas lelaki itu.
Oh
tuhan, sungguh baik sekali lelaki satu ini. Pembawaan yang lembut dan tutur
kata yang sopan dan santun menambah kharisma pada lelaki ini. Siapakah dia
tuhan? Apakah dia lelaki yang selama ini selalu datang dalam mimpiku? Apakah
dia lelaki yang selalu melindungi aku kemana pun aku berpijak? Apakah dia
lelaki yang selama ini aku cari? Apakah dia rembulan yang selalu menyinari
malam indahku? Ataukah dia bintang yang bersinar di langit yang selalu aku
perhatikan di kala malam sunyi? Beribu pertanyaan bermunculan dalam benakku.
Otak ku bagaikan di interviewoleh
seorang polisi yang menyerbu ku dengan berbagai pertanyaan.
“Hello,
ini novelnya”. Ucap lelaki itu lirih.
“Oh
iya, makasih ya. Kamu suka juga sama novel ini kan? Kita baca bareng aja”.
Ajakku menawarkan.
“Boleh,
oh iya nama aku Noval, kamu Ratna kan?” ucapnya menebak.
Hah??
Kok dia tau nama aku dari mana dia tau ya? gumamku dalam hati.
“Kok
kamu tahu nama ku, tahu dari mana? Bukankah kita baru kali ini ketemu? Ucapku
dengan nada datar.
“Heheh,
iya aku tahu dari cowok yang baru kamu kenal beberapa jam yang lalu”
“Raffa?” Tebakku.
“Iya,
dia adikku. Tadi sebelum kamu kesini aku sudah duluan berada di sini, dan dia
nge-BBMin aku bahwa sebentar lagi bakalan datang bidadari ke hadapanku tepat di
dalam perpustakaan ini. Cewek yang menyukai sastra khusunya novel sama seperti ku.
Dia juga mengirimkan foto kamu.” Tuturnya
Lagi-lagi
aku tertegun, bingung dengan semua ini. “Dari mana Raffa dapat foto aku ya? Apa
dia memata-matai aku? Tapi buat apa?” Bisikku dalam hati.
“Udahlah,
jangan bingung-bingung gitu. Dia sempat memfoto kamu pas kamu duduk sendirian
di taman beberapa jam yang lalu.” Ucapnya seakan tahu apa yang kupikirkan.
“Dia
itu adik yang paling baik, dia rela nyariin aku pacar karena aku betah ngejomblo.
Padahal aku gak nyuruh dia buat nyariin pacar buat aku. Ada-ada aja kelakuan
adikku itu. Heheh” timpal Noval dengan senyum simpulnya.
“Kamu
udah punya pacar?” timpalnya lagi.
Aku
menggeleng
“Kok
cewek secantik kamu belum punya pacar sih? Balasnya.
“Hmmm..
Aku mau mencari pacar yang benar-benar menjaga dan melindungi aku sepenuh hati.
Jadi aku gak asal-asalan dalam memilih cowok. Aku kepingin ada cowok yang
benar-benar mau menjadi pelindung dalam hidupku, baik di kala senang maupun
susah.” Tegasku.
“Aku
mau jadi orang selau melidungi kamu. Menjaga dan melindungi kamu melebihi
nyawaku sendiri sekalipun. Aku mau jadi cowok yang selama ini kamu impikan.”
Tuturnya.
Suasana
hatiku saat ini bagaikan bunga yang mekar dari kuncupnya. Seakan datang dewi
fortuna dalam hidupku yang indah ini. Seakan kebahagiaan yang aku idamkan
selama ini terwujud sudah dan semua mimpi-mimpiku selama ini menjadi kenyataan.
**
Semenjak
kejadian itu semuanya berubah menjadi indah. Hari-hariku seakan berbunga. Ia
menambah warna baru dalam kehidupanku. Aku telah menemukan orang yang selama
ini aku cari. Aku berdoa pada tuhan semoga hubungan kami akan abadi selamanya.
Tak terpisahkan bagaikan kancing dan baju, selalu bersama tanpa kenal kata
pisah. Walau banyak rintangan yang menghadang dalam hubungan kami.
Hari
ini tepat di hari valentine, hari
yang menurut kalangan muda ini adalah hari kasih sayang.Momen ini ku manfaatkan
untuk jalan bersama mas Noval kekasihku. Tak sedetik pun ku lewatkan di hari
yang special ini. Hape berbunyi tanda
pesan masuk, ku buka pesan tersebut, “ay, udah siap kan? Mas OTW sekarang ya!” ku balas dengan
senyuman manis, “iya mas :*”
Tiiiiinnnnn.......,
suara klakson motor berbunyi. Ku lihat dari balik jendela ternyata orang ku
tunggu sudah tiba. Langsung ku bergegas menemuinya dan mengunci pintu kost-an
ku. Yuk mas, kataku. Ku peluk dia dari belakang aku gak mau melewatkan hari ini
dengan kesia-siaan tanpa ada kesan yang manis. Semoga hari ini adalah hari yang
special dan berkesan buat hubungan
kami. Setelah sekian lama menuggu akhirnya kami sampai ke tujuan, ke sebuah
danau yang indah, penuh penghijauan di sekelilingnya yang membuat suasana
semakin romantis. Ku berlari-lari kecil menuju bibir danau dan duduk di kursi
untuk melihat pemandangan danau yang amat indah ini.
“Nih,
makanan favorit kamu” ucap mas Noval yang membuat aku terkejut.
“Ihhh..
tau aja kalo aku seneng sama kacang rebus” tuturku sambil membuka kacang rebus
favoritku ini.
“Iya
dong, masa sama kesukaan pacar sendiri gak tau, kan gak lucu dong, ay!” balas
Noval dengan bangga. Sudah ini kita mau kemana lagi?, timpalnya lagi.
“Kemana
ya?? Aku bingung lho mas. Menurut aku sih tujuan itu gak penting asalkan aku
bisa sama-sama kamu, itu udah cukup buat aku.” Tuturku dengan menatap lekat
matanya.
“Masa
sih?? Yang bener?” balasnya memencet gemes hidungku.
“Auuww!!
Sakit tauu..”rengekku.
Ku
senderkan kepalaku di bahunya, menikmati setiap pemandangan danau nan indah
sambil menikmati kacang rebus. Memang benar kata orang kalo berduaan dengan
pacar itu seakan dunia ini milik berdua. Dan itu yang kurasakan saat ini. Tanpa
mempedulikan orang-orang ada di sekitar kami. Bukannya bermaksud egois tapi aku
hanya ingin bahagia dengan orang yang ku cintai setulus hati ini.
**
“Ay,
maaf ya aku gak bisa jemput nih, mas lagi di tempat pak Nata lagi ngebahas
masalah skripsi, harap maklum ya sayang” bunyi pesan yang masuk ke hapeku.
“Hmmm,,
iya gapapa mas, semangat ya sayang, miss
u” balasku.
Ku
bergegas ke depan kampus dan menyeberang jalan langsung naik bus yang sudah
lama tak ku pijakki ini.
Hari
mulai malam, tak kudapati telepon atau pesan dari Noval. Batin ku gelisah,
ditelpon tapi tidak diangkat, SMS pun tidak ada balasan satu pun.Di tengah
kegelisahanku, tiba-tiba terdengar lantunan lagu Neon Lights by Demi Lovato yang ku tahu benar pertanda apakah itu.
“Hallo
mas, kamu dari mana aja sih, telpon gak di angkat, SMS juga gak di bales, aku
khawatir lho mas,” cerocosku tanpa memberi kesempatan si penelpon berbicara.
“Maaf,
ini benar saudari Ratna?” balas suara lelaki yang ku taksir itu bukan suara mas
Noval. “Pemilik hape ini mengalami kecelakaan di Jalan Sudirman dan sekarang
dia di larikan di rumah sakit Charitas” timpalnya lagi.
Aku
tertegun kaku, tanganku terasa dingin dan licin sampai-sampai hape yang ku
genggam terlepas dari genggamanku. Hati dan perasaanku hancur dan retak
bagaikan kaca yang terhempas ke lantai. Air mataku membasahi pipiku yang
bersih. Ku percepat langkahku agar secepat mungkin sampai ke rumah sakit di
mana mas Noval dilarikan.
“Raff,
gimana keadaan mas Noval?” ucapku mendekati Raffa.
“Dia
masih di dalam Rat, kita berdoa aja ya, semoga tidak terjadi apa-apa sama mas
Noval. Kamu tenang aja, mas Noval itu orang yang kuat, dia pasti bisa melewati semua
ini.” balas Raffa mencoba menenangkanku. Tapi sejujurnya batinku tetap tidak
tenang, aku sungguh tidak menyangka akan hal ini. Sulit untuk aku menerima semua
ini.
Suara
pintuterbuka. Seorang dokter yang tampan setengah baya keluar dari dalam
ruangan.
“Gimana
Dok keadaanya?” ucapku berdiri mendekati si dokter.
“Syukurlah
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kesehatannya sekarang sudah
membaik.Sekarang sudah bisa di jenguk” Balas si dokter.
Mendengar
peryataan itu aku langsung lega, seakan beban yang ku pikul sedari tadi sudah
tidak membebani aku lagi. Ku langkahkan kakiku masuk ke ruangan mas Noval di
rawat. Ku hampiri dia dan ku genggam erat tangannya berharap getaran cinta yang
ku transferkan melalui tanganku dapat membuat matanya yang indah dapat terbuka.
“Mas,
ini aku Ratna, kekasihmu. Buka matamu mas, aku rindu akan tatapan indah dari
kedua matamu. Mata yang membuat hari-hariku indah. Mata yang mampu menggetarkan
batin dan perasaanku. Bangun mas” bisikku sambil kucium keningnya.
Perlahan
namun pasti mata yang ku harapkan untuk melihatku lagi terbuka dengan
sayup-sayup. Mata yang sedikit lelah tidak seperti biasanya. Mata yang sampai
saat ini masih indah walau pun rasa sakit menyelimutinnya.
“Ayy..aannkk,
maafin mas udah bikin kamu cemas dan khawatir seperti ini. Maafin mas ya” ucap
masNoval dengan terbata-bata.
“Gak
usah minta maaf mas, mas harus banyak istirahat. Jangan mikirin apa-apa dulu
ya.” Balasku melemparkan senyuman terbaikku.
“Mas,
kemaren mau ke kost-an buat jemput kamu, ay. Ada yang mau mas kasih tau, tapi
semuanya berantakkan.. dan sekarang, di tempat ini walaupun suasananya gak
tepat dan gak romantis seperti yang kamu harapkan, mas akan mengungkapkan niat
mas yang sempat tertunda.Do you mary me?”
ucap mas Noval mengenggam tanganku.
Hatiku
yang tadi gelisah dan dirundung kesedihan, sesaat berubah menjadi rasa bahagia
seperti bunyi pepatah habis gelap
terbitlah terang. Hatiku sangat senang mendengar ucapan itu. Ucapan yang
selalu aku nantikan, ucapan yang sudah ada di dalam khayalan dan mimpi-mimpiku.
Aku
mengangguk.
“I do. Tapi mas harus selesaikan skripsi
mas dulu, jangan malas-malasan biar cepat diwisudahnya.” Balasku. Dia hanya
mengangguk kecil pertanda dia mengerti perkataanku.
Hari
ini, detik ini adalah hari yang bersejarah bagiku. Kejadian yang seakan
berbanding terbalik. Kejadian yang menurutku seperti mimpi. Seperti kisah di
sinetron-sinetron. Seperti di film-film romantis. Bedanya suasana yang ada
sekarang bukan di tempat yang romantis, tapi itu tidak menjadi masalah buatku,
yang jelas aku sudah mendapatkan jawaban dari setiap doaku agar aku bisa
disatukan ke dalam ikatan pernikahan. Sebuah ikatan idaman para pasangan di
dunia ini. Ikatan yang sangat indah dan romantis.