Sabtu, 29 Maret 2014

Puisi Idola: Agnes Monica



Impian di Seberang Pulau
Karya: Herdinata

Seperti awak kapal
Melaju melintasi lautan
Tak kenal air mata
Tak kenal rasa letih

Sekarang saatnya,,
dunia berteriak memanggil namamu
cakrawala seakan tersenyum
fatamorgana tak lagi hidup

Bangkit kau anak bangsa!
Lari dan berlarilah!
Raih anganmu,
Raih kejayaanmu!

Kejarlah apa yang menjadi keinginanmu
Terbanglah tinggi
Langit di seberang telah menantimu
Buatlah pertiwi tersenyum
Senyum penuh  rasa bangga.


Puisi Ibu

Teruntuk Sang Matahari Alam
By: Herdinata
Bagaikan sinar rembulan
Penerang alam semesta
Bagaikan sinar mentari,
pemberi hangat kehidupan..
Kasih tak kunjung usai
Sampai ke ujung dunia sekalipun
Tanpa kenal lelah
Kobaran semangatmu
Nahkoda dunia
Bersih jiwamu
Bersih hatimu
Tanpa sebercik noda
Kau ajarkan arti hidup,
Doa dan harapa

Cerpen Percintaan: Sayap Pelindungku




Sayap Pelindungku
Oleh: Herdinata
            Mentari siang ini begitu pekat. Panasnya menembus kulit sampai ke bagian dalam. Dedaunan seakan lusuh dan lesu diterpa panasnya mentari. Begitupun tanah bagaikan menginjak bara api saking panasnya siang ini. Ya, siang ini cuaca begitu panas. Akupun rasanya enggan untuk melangkahkan kakiku ke lantai langit ini.
            Jam perkuliahan telah usai. Semua orang bergegas meninggalkan kampus. Tapi aku lebih memilih ke taman dahulu sebelum pulang ke rumah karena cuaca siang hari ini begitu panas. “Palembang semakin panas saja”, gerutuku. Setibanya di taman aku memilih untuk duduk di bangku yang berada di bawah pohon rindang di sudut taman.“Lumayan banyak orang yang duduk di taman ini, mungkin karena cuaca panas ini kali ya” pikirku.
            Ku buka tas ku dan mencari novel favoritku agar tidak begitu jenuh berada disini.“Novelnya dimana ya? Apa mungkin aku lupa membawanya?”. Gumamku.Ku cari-cari lagi dan ternyata novelnya terletak di bagian paling bawah tas sophie ku.
            “Ini dia ketemu, untung aku bawa novelnya”. Ucapku tersenyum.
            Novel “Kata Hati” karya Bernard Batubara. Ya, itulah novel favoritku yang selalu ku bawa sewaktu ngampus. Aku suka alur ceritanya, ceritanya juga menarik dan romantis banget menurutku. Ku baca dengan seksama novel itu, seakan aku yang berada di dalam novel itu. “Berharap aku adalah orang ada dalam novel itu yang menemukan siapa sayap pelindung dari hidupku yang indah. “Berharap suatu saat ada sayap pelindung untukku. Tapi siapa?” Pikirku dalam hati.
            Tak terasa hari mulai sore, ku lihat jam di handphone ku baru jam 2 siang.
“hmmm, laper” gerutuku.
            Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat yang menurutku sudah mulai membosankan untuk berada disitu. Ku bereskan buku-buku ku dan ku rapikan baju yang ku pakai dan beranjak langsung dari tempat itu.
Ehem... ehemmmm!!
            Belum sempat aku beranjak meninggalkan tempat itu, ada suara lelaki yang berdehem entah dimana asalnya suara itu. Mataku terbelalak menoleh ke setiap sudut dan sesekali menoleh ke sampingberharapmenemukan dari mana suara itu berasal.
            “Haii” sapa lelaki yang tak ku kenal sebelumnya.
            Ternyata dugaan ku benar bahwa ada sesorang di balik pohon rindang itu.
            “Mau pergi ya?” sapa lelaki itu.
            “Eh iya, aku mau ke kantin laper soalnya, duluan ya!” balasku tersenyum malu.
            “Ke kantin bareng yuk!, kebetulan aku juga laper nih. Boleh ya!” pinta lelaki yang menurutku manis banget itu.
            “Oh boleh kok”, jawabku manis.
            Kantin Bunda, kantin dengan beranekaragam makanan dan minuman layaknya sebuah supermarket besar karena begitu ramai dan banyak sekali menu yang ditawarkan di kantin ini.
            “Mau pesan apa?” sapa lelaki itu membuka pembicaraan.
            “Mie ayam aja deh”, balasku.
            “Mbak, mie ayamnya dua  sama jus mangga nya dua.” Teriak lelaki yang belum ku kenal itu.
            “Oh iya, kita belum kenalan”, ucap lelaki itu membuyarkan lamunanku.
            “Raffa,” ucapnya.
            “Ratna” balasku.
            “Kuliah di sini juga kan, ambil jurusan apa?” balasnya lagi.
            “Ambil jurusan sastra mas”. Balasku.
            “Ehh, jangan panggil mas dong, berasa tua gitu jadinya. Panggil Raffa aja ya!, pintanya.
            “Oh iya, Raffa” balasku tersenyum.
            Entah perasaan aku yang lagi gak sehat atau apa aku juga gak mengerti, berada di de-kat dia aku deg-degan, jantungku seakan dipompa sekencang-kencangnya, berdegup kencang, raut wajah ku merah bagaikan udang yang sedang direbus. “Oh tuhan, ada apa denganku?” tanyaku dalam hati.
            “Heii!!” bentak Raffa kencang.
            “Kenapa ngelamun? Cewe secantik kamu dilarang melamun nanti kerasukan setan jelek lho..” candanya.
            Mana ada setan ganteng, bukannya semua setan itu jelek ya? Ada-ada aja nih orang. gumamku dalam hati.
            “Oh enggak kok, aku gak ngelamun, lagian mana mungkin ada setan mau masuk ke tubuh gue, hehe..” candaku menghangatkan suasana.
            Dua piring mie ayam dan dua gelas jus mangga yang sudah di pesan sedari tadi, tiba dihadapan kami.
            “Ayo dimakan Rat mie nya jangan dilihatin aja”, ucapnya mendesak.
            “Oh iya..” balasnya sedikit malu.
            “Tinggal di mana Rat?
            “Di Perum Raf, kalo kamu sendiri?
            “Aku tinggal di rumah orang tuaku sih,, hehehe” canda Raffa.
            “Huhh, dasar cowo aneh , iya iyalah tinggal sama orang tua, masa tinggal sama kebo kan gak mungkin,” gerutku kesal.
            “Ohh”, jawabku tanpa berkata apa-apa lagi.
            “Abis ini mau langsung pulang?. Tanya Raffa.
            “Kayaknya belum deh Raff, aku mau ke perpus dulu mau minjem novel.” Balasku.
            “Mau ditemenin gak?, tawar Raffa.
            “Gak usalah, aku sendiri aja. Takutnya kamu nanti ada urusan lain yang lebih penting”. Timpalku.
            Aku meneruskan langkahku untuk segera ke perpustakaan. Ku lirik arlojiku sudah menunjukkan tepat pukul 3 sore. Langsung ku percepat langkahku seperti olahragawan yang sedang mengikuti lomba jalan lari dan berharap sampai ke garis finish secepat mungkin. Aku langsung menekan tombol lift dan menekan tombol yang mengantarkan aku ke lantai tiga. Langsung aku bergegas mengisi daftar pengunjung dan bergegas menuju sasaran utama ku yaitu mencari novel yang ingin ku cari.
            Suasana perpustakaan sore ini begitu ramai dari biasanya, sampai-sampai tidak ada satupun kursi yang tersisa. “huhhh,, menyebalkan tumben hari ini begitu ramai seperti ini, gak kayak biasnya”, gerutuku kesal.
            “Mana lagi, novelnya?” ucapku dalam hati. Ahhh,, ini dia!
            Pada saat mau mengambil novelnya tiba-tiba ada orang lain juga yang ingin mengambil novel tersebut. Sesosok cowok yang teramat tampan, putih bersih, dan berpakaian rapi. Sekilas raut wajahnya mirip sama lelaki yang ku kenal beberapa jam yang lalu. Tapi, lelaki ini agak sedikit berbeda tatapan mata dan senyum simpul yang dia lontarkan menggetarkan setiap hati kaum hawa yang melihatnya.“Ohh, tuhan siapakah dia? Mungkinkah dia orang yang selama ini aku impikan? Atau ini hanya sebuah mimpi indahku?”bisikku dalam hati.
            “Oh maaf, mau ambil novel ini juga ya? Ini buat kamu aja.”ucapku.
            “Oh gak, buat kamu aja kayaknya kamu lebih butuh novel ini” balas lelaki itu.
            Oh tuhan, sungguh baik sekali lelaki satu ini. Pembawaan yang lembut dan tutur kata yang sopan dan santun menambah kharisma pada lelaki ini. Siapakah dia tuhan? Apakah dia lelaki yang selama ini selalu datang dalam mimpiku? Apakah dia lelaki yang selalu melindungi aku kemana pun aku berpijak? Apakah dia lelaki yang selama ini aku cari? Apakah dia rembulan yang selalu menyinari malam indahku? Ataukah dia bintang yang bersinar di langit yang selalu aku perhatikan di kala malam sunyi? Beribu pertanyaan bermunculan dalam benakku. Otak ku bagaikan di interviewoleh seorang polisi yang menyerbu ku dengan berbagai pertanyaan.
            “Hello, ini novelnya”. Ucap lelaki itu lirih.
            “Oh iya, makasih ya. Kamu suka juga sama novel ini kan? Kita baca bareng aja”. Ajakku menawarkan.
            “Boleh, oh iya nama aku Noval, kamu Ratna kan?” ucapnya menebak.
            Hah?? Kok dia tau nama aku dari mana dia tau ya? gumamku dalam hati.
            “Kok kamu tahu nama ku, tahu dari mana? Bukankah kita baru kali ini ketemu? Ucapku dengan nada datar.
            “Heheh, iya aku tahu dari cowok yang baru kamu kenal beberapa jam yang lalu”
            “Raffa?” Tebakku.
            “Iya, dia adikku. Tadi sebelum kamu kesini aku sudah duluan berada di sini, dan dia nge-BBMin aku bahwa sebentar lagi bakalan datang bidadari ke hadapanku tepat di dalam perpustakaan ini. Cewek yang menyukai sastra khusunya novel sama seperti ku. Dia juga mengirimkan foto kamu.” Tuturnya
            Lagi-lagi aku tertegun, bingung dengan semua ini. “Dari mana Raffa dapat foto aku ya? Apa dia memata-matai aku? Tapi buat apa?” Bisikku dalam hati.
            “Udahlah, jangan bingung-bingung gitu. Dia sempat memfoto kamu pas kamu duduk sendirian di taman beberapa jam yang lalu.” Ucapnya seakan tahu apa yang kupikirkan.
            “Dia itu adik yang paling baik, dia rela nyariin aku pacar karena aku betah ngejomblo. Padahal aku gak nyuruh dia buat nyariin pacar buat aku. Ada-ada aja kelakuan adikku itu. Heheh” timpal Noval dengan senyum simpulnya.
            “Kamu udah punya pacar?” timpalnya lagi.
            Aku menggeleng
            “Kok cewek secantik kamu belum punya pacar sih? Balasnya.
            “Hmmm.. Aku mau mencari pacar yang benar-benar menjaga dan melindungi aku sepenuh hati. Jadi aku gak asal-asalan dalam memilih cowok. Aku kepingin ada cowok yang benar-benar mau menjadi pelindung dalam hidupku, baik di kala senang maupun susah.” Tegasku.
            “Aku mau jadi orang selau melidungi kamu. Menjaga dan melindungi kamu melebihi nyawaku sendiri sekalipun. Aku mau jadi cowok yang selama ini kamu impikan.” Tuturnya.
            Suasana hatiku saat ini bagaikan bunga yang mekar dari kuncupnya. Seakan datang dewi fortuna dalam hidupku yang indah ini. Seakan kebahagiaan yang aku idamkan selama ini terwujud sudah dan semua mimpi-mimpiku selama ini menjadi kenyataan.
**
            Semenjak kejadian itu semuanya berubah menjadi indah. Hari-hariku seakan berbunga. Ia menambah warna baru dalam kehidupanku. Aku telah menemukan orang yang selama ini aku cari. Aku berdoa pada tuhan semoga hubungan kami akan abadi selamanya. Tak terpisahkan bagaikan kancing dan baju, selalu bersama tanpa kenal kata pisah. Walau banyak rintangan yang menghadang dalam hubungan kami.
            Hari ini tepat di hari valentine, hari yang menurut kalangan muda ini adalah hari kasih sayang.Momen ini ku manfaatkan untuk jalan bersama mas Noval kekasihku. Tak sedetik pun ku lewatkan di hari yang special ini. Hape berbunyi tanda pesan masuk, ku buka pesan tersebut, “ay, udah siap kan? Mas OTW sekarang ya!” ku balas dengan senyuman manis, “iya mas :*”
            Tiiiiinnnnn......., suara klakson motor berbunyi. Ku lihat dari balik jendela ternyata orang ku tunggu sudah tiba. Langsung ku bergegas menemuinya dan mengunci pintu kost-an ku. Yuk mas, kataku. Ku peluk dia dari belakang aku gak mau melewatkan hari ini dengan kesia-siaan tanpa ada kesan yang manis. Semoga hari ini adalah hari yang special dan berkesan buat hubungan kami. Setelah sekian lama menuggu akhirnya kami sampai ke tujuan, ke sebuah danau yang indah, penuh penghijauan di sekelilingnya yang membuat suasana semakin romantis. Ku berlari-lari kecil menuju bibir danau dan duduk di kursi untuk melihat pemandangan danau yang amat indah ini.
            “Nih, makanan favorit kamu” ucap mas Noval yang membuat aku terkejut.
            “Ihhh.. tau aja kalo aku seneng sama kacang rebus” tuturku sambil membuka kacang rebus favoritku ini.
            “Iya dong, masa sama kesukaan pacar sendiri gak tau, kan gak lucu dong, ay!” balas Noval dengan bangga. Sudah ini kita mau kemana lagi?, timpalnya lagi.
            “Kemana ya?? Aku bingung lho mas. Menurut aku sih tujuan itu gak penting asalkan aku bisa sama-sama kamu, itu udah cukup buat aku.” Tuturku dengan menatap lekat matanya.
            “Masa sih?? Yang bener?” balasnya memencet gemes hidungku.
            “Auuww!! Sakit tauu..”rengekku.
            Ku senderkan kepalaku di bahunya, menikmati setiap pemandangan danau nan indah sambil menikmati kacang rebus. Memang benar kata orang kalo berduaan dengan pacar itu seakan dunia ini milik berdua. Dan itu yang kurasakan saat ini. Tanpa mempedulikan orang-orang ada di sekitar kami. Bukannya bermaksud egois tapi aku hanya ingin bahagia dengan orang yang ku cintai setulus hati ini.
**
            “Ay, maaf ya aku gak bisa jemput nih, mas lagi di tempat pak Nata lagi ngebahas masalah skripsi, harap maklum ya sayang” bunyi pesan yang masuk ke hapeku.
            “Hmmm,, iya gapapa mas, semangat ya sayang, miss u” balasku.
            Ku bergegas ke depan kampus dan menyeberang jalan langsung naik bus yang sudah lama tak ku pijakki ini.
            Hari mulai malam, tak kudapati telepon atau pesan dari Noval. Batin ku gelisah, ditelpon tapi tidak diangkat, SMS pun tidak ada balasan satu pun.Di tengah kegelisahanku, tiba-tiba terdengar lantunan lagu Neon Lights by Demi Lovato yang ku tahu benar pertanda apakah itu.
            “Hallo mas, kamu dari mana aja sih, telpon gak di angkat, SMS juga gak di bales, aku khawatir lho mas,” cerocosku tanpa memberi kesempatan si penelpon berbicara.
            “Maaf, ini benar saudari Ratna?” balas suara lelaki yang ku taksir itu bukan suara mas Noval. “Pemilik hape ini mengalami kecelakaan di Jalan Sudirman dan sekarang dia di larikan di rumah sakit Charitas” timpalnya lagi.
            Aku tertegun kaku, tanganku terasa dingin dan licin sampai-sampai hape yang ku genggam terlepas dari genggamanku. Hati dan perasaanku hancur dan retak bagaikan kaca yang terhempas ke lantai. Air mataku membasahi pipiku yang bersih. Ku percepat langkahku agar secepat mungkin sampai ke rumah sakit di mana mas Noval dilarikan.
            “Raff, gimana keadaan mas Noval?” ucapku mendekati Raffa.
            “Dia masih di dalam Rat, kita berdoa aja ya, semoga tidak terjadi apa-apa sama mas Noval. Kamu tenang aja, mas Noval itu orang yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini.” balas Raffa mencoba menenangkanku. Tapi sejujurnya batinku tetap tidak tenang, aku sungguh tidak menyangka akan hal ini. Sulit untuk aku menerima semua ini.
            Suara pintuterbuka. Seorang dokter yang tampan setengah baya keluar dari dalam ruangan.
            “Gimana Dok keadaanya?” ucapku berdiri mendekati si dokter.
            “Syukurlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kesehatannya sekarang sudah membaik.Sekarang sudah bisa di jenguk” Balas si dokter.
            Mendengar peryataan itu aku langsung lega, seakan beban yang ku pikul sedari tadi sudah tidak membebani aku lagi. Ku langkahkan kakiku masuk ke ruangan mas Noval di rawat. Ku hampiri dia dan ku genggam erat tangannya berharap getaran cinta yang ku transferkan melalui tanganku dapat membuat matanya yang indah dapat terbuka.
            “Mas, ini aku Ratna, kekasihmu. Buka matamu mas, aku rindu akan tatapan indah dari kedua matamu. Mata yang membuat hari-hariku indah. Mata yang mampu menggetarkan batin dan perasaanku. Bangun mas” bisikku sambil kucium keningnya.
            Perlahan namun pasti mata yang ku harapkan untuk melihatku lagi terbuka dengan sayup-sayup. Mata yang sedikit lelah tidak seperti biasanya. Mata yang sampai saat ini masih indah walau pun rasa sakit menyelimutinnya.
            “Ayy..aannkk, maafin mas udah bikin kamu cemas dan khawatir seperti ini. Maafin mas ya” ucap masNoval dengan terbata-bata.
            “Gak usah minta maaf mas, mas harus banyak istirahat. Jangan mikirin apa-apa dulu ya.” Balasku melemparkan senyuman terbaikku.
            “Mas, kemaren mau ke kost-an buat jemput kamu, ay. Ada yang mau mas kasih tau, tapi semuanya berantakkan.. dan sekarang, di tempat ini walaupun suasananya gak tepat dan gak romantis seperti yang kamu harapkan, mas akan mengungkapkan niat mas yang sempat tertunda.Do you mary me?” ucap mas Noval mengenggam tanganku.
            Hatiku yang tadi gelisah dan dirundung kesedihan, sesaat berubah menjadi rasa bahagia seperti bunyi pepatah habis gelap terbitlah terang. Hatiku sangat senang mendengar ucapan itu. Ucapan yang selalu aku nantikan, ucapan yang sudah ada di dalam khayalan dan mimpi-mimpiku.
            Aku mengangguk.
            I do. Tapi mas harus selesaikan skripsi mas dulu, jangan malas-malasan biar cepat diwisudahnya.” Balasku. Dia hanya mengangguk kecil pertanda dia mengerti perkataanku.
            Hari ini, detik ini adalah hari yang bersejarah bagiku. Kejadian yang seakan berbanding terbalik. Kejadian yang menurutku seperti mimpi. Seperti kisah di sinetron-sinetron. Seperti di film-film romantis. Bedanya suasana yang ada sekarang bukan di tempat yang romantis, tapi itu tidak menjadi masalah buatku, yang jelas aku sudah mendapatkan jawaban dari setiap doaku agar aku bisa disatukan ke dalam ikatan pernikahan. Sebuah ikatan idaman para pasangan di dunia ini. Ikatan yang sangat indah dan romantis.