Bintangku itu Kamu
By: Herdinata
Hujan
deras membasahi kota Palembang. Daun-daun basah kuyup terkena siraman hujan.
Katak loncat kesana-kesini dengan girangnya karena selama beberapa bulan ini
bumi Sriwijaya ini tidak tersiram hujan. Ku pandangi hujan dari bIlik
jendelaku. Sudah lama tidak mandi hujan. Entah kenapa aku sangat menyukai
hujan. Setiap kali melihat hujan hatiku spontan bahagia layaknya anak kecil
yang di kasih permen kesukaannya. Terakhir kali aku mandi hujan bulan Maret
lalu dengan seseorang yang sempat menjadi orang special di hidupku. Aku rindu masa-masa itu. Rindu akan hujan atau
rindu dengan dirinya sang pujaan di masa lalu? Entahlah.
**
“Go, aku
minta kita putus. Aku ngerasa kita udah gak cocok lagi” ucap Ririn tiba-tiba.
“ Lho,
kenapa Rin?? Apa salahku?” balasku kaget
“Aku
rasa kita udah gak cocok lagi Go, lagian kamu kan tau aku mau kuliah ke Amrik
setelah lulus nanti.”
“Itu
alasan yang gak masuk akal Rin, kita kan masih bisa berhubungan via E-mail,
Whatsapp, atau twitter kan? Aku gak mau putus sama kamu. Aku mau terus sama
kamu!” ujarku mantap
“Maaf go, aku tetap gak bisa.”
“Maaf go, aku tetap gak bisa.”
Hatiku
yang tadinya berbunga-bunga tiba-tiba menjadi hening, tak ada kata-kata yang
keluar dari mulutuku. Bibirku keluh. Hatiku bagaikan disambar petir. Hujan
semakin lebat seakan ikut bersedih dengan apa yang kurasakan.
**
Sudah
tujuh bulan aku tidak berkomunikasi lagi sama orang yang sempat menjadi bunga
hatiku. Mungkin sekarang dia sudah punya pengganti diriku di negeri paman sam
itu. Kenapa sampai sekarang aku masih belum bisa move on? Apakah cintaku buatnya terlalu besar? Sebesar itukah rasa cintaku untuknya hingga
sulit bagiku membuka hati ini untuk wanita lain? Ahhhh. Pikiran ku berkecamuk,
otakku seakan mau pecah karena keseringan memikirkan orang yang belum tentu
memikirakn diriku. Bodohnya. Mataku masih tertujuh pada rintik hujan yang jatuh
ke daun yang hijau nan lebat. Tidak ada gunanya mikirin dia, yang terpenting
sekarang fokus dulu sama kuliah, semoga aku bisa menghancurkan perasaan yang
tak lagi penting ini jauh-jauh tanpa sisa.
Hari
sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi. Aku bersiap untuk pergi ke kampus. Ku
hangatkan mesin mobil jazz ku. Ku ambil tas selempangku berwarna cokelat lalu
langsung masuk ke dalam mobil.
“Ya ampun, parah banget macetnya.” Gerutuku.
“Ya ampun, parah banget macetnya.” Gerutuku.
Ku setel
radio yang ada dalam mobilku, ku cari saluran radio favoritku ‘MOMEA FM’.
Selain radio ini sangat terkenal dikotaku, di radio ini juga suka muterin
lagu-lagu luar. Itu salah satu alasanku menyukai radio ini.
“Selamat
pagi kawulamuda, pagi ini masih ditemenin sama Nata ya ampe merapat ke pukul 9
nanti. Yang mau request silakan dial ke 356062/356063.” Celoteh penyiar
radio Momea.
Setiap lagi dengerin radio atau pun lagi ada ajang request lagu, aku pasti ikutan. Entah sekedar request ataupun hanya sekedar kirim-kirim salam buat temen-temen kampusku karena beberapa dari mereka sering dengerin juga.
Setiap lagi dengerin radio atau pun lagi ada ajang request lagu, aku pasti ikutan. Entah sekedar request ataupun hanya sekedar kirim-kirim salam buat temen-temen kampusku karena beberapa dari mereka sering dengerin juga.
“Hallo
bang, ini Igo bang.” Ucaku ditelepon.
“Hallo
Igo, lagi OTW kemana nih?
“Mau
ngampus aja nih bang, gila diseputaran patal macet nih. Request lagu Demi Lovato – Shouldn’t
Come Back bang.”
“Wahh,
masih pagi kok udah galau gini, Go. Ada alternatif
lain gak nih? Lagi yang up-beat aja
ya?”
“Hehehh..
Lupa bang kalo pagi gak boleh lagi ballad.
Yaudah lagu Agnez Mofeaturing
Timbaland & T.I. – Coke Bottle
aja bang.”
“Oke,,
langsung diputerin ya buat kamu Gio”
Beberapa
detik setelah telepon di tutup, suara Agnez berkumandang. Lagu yang cukup nge-beat
membahana di seputaran area mobilku. Ku
goyangkan badanku mengikuti irama musik aliran RnB/HipHop ini.
Akhirnya
ijo juga lampunya. Sering-sering aja macet kayak gini. Setiap hari juga deh gua
di usir oleh dosen karena sering telat. Celotehku.Beberapa menit kemudian,
sampailah di kampus tercintaku. Kampus yang di dominasi oleh warna biru yang
terletak di Jalan Rajawali. Aku pun memarkirkan mobilku di tempat biasa. Ku
percepat langkahku agar pak Tono tidak mengusirku.
“Gila, liftnya lama banget. Gak mungkin dong
gua naik tangga gitu? Hadoohh. Gumamku dalam hati.”
Ku
pencet terus tombol lift berharap bisa
terbuka.
“Akhirnya
terbuka juga.” Seruku dengan nafas lega.
“Mau ke
lantai berapa?” tanya seorang cewe yang tak ku kenal.
“Mau ke
lantai 4,” jawabku ramah.
“Jurusan
Sistem Informasi juga ya?” tebak cewe yang belum ku kenal
Aku
bungung sama cewe itu, kenapa dia bisa tahu gitu ya? Padahal di lantai 4 itu
kan ada banyak jurusan. Aneh. Pikirku.
“Iya.
Kamu juga ya? Balasku akhirnya
“Iya,
kenalin aku Intan. Pindahan dari Bandung.” Jawabnya seraya menyodorkan tangannya.
“Aku Igo.”
“Aku Igo.”
Sampai
di lantai 4, ku percepat langkahku. Tanpa peduli lagi dengan cewe yang ada
disampingku. Biarin deh dia berfikir kalo aku sombong atau apa yang penting aku
tidak telat pelajaran pak Tono.
“Woiii,
Go. Kenapa loe baru datang bro? Untung dosennya belum datang. Oh iya, katanya
pak Tono gak masuk, Go. Di gantiin sama assistennya. Banyak yang bilang sih
orangnya cantik bro.” Ucap Wendy dengan setengah menggoda
“Masa
sih Wen? Kayak Agnez ya? Atau mungkin Demi?”
“Lebih
dari idola loe itu bro. Pokonya beda lah. Liat aja beberapa menit ke depan”
Dasar anak aneh, pasti assisten pak Tono biasa-biasa aja, pake kacamata, kulitnya item, pakaian yang gak modis dan berjerawat. Pikirku ketawa geli.
Dasar anak aneh, pasti assisten pak Tono biasa-biasa aja, pake kacamata, kulitnya item, pakaian yang gak modis dan berjerawat. Pikirku ketawa geli.
“Selamat
siang,”
“Siang
bu.”
Aku
masih asyik memainkan game di tab ku.
Tanpa menjawab salam dari asdos ku. Lagian main game kayaknya lebih penting dari sekedar basa-basi kayak gitu.
Pikirku.
“Ssssttt.....
Go, liat itu assistennya pak Tono”
“Apaan
sih berisik, diem aja nape sih Wen. Kalo loe kepincut ama dosennya, embat aja
gih sono.” Gumam ku kesal.
“Eh bro,
coba liat dulu dikit aja, jangan fokus mulu sama gadget loe. Gua itu baik kali mau ngebantuin elo, kali aja loe
kepincut ama tuh dosen dan melepas masa lajang loe. Gak mungkinkan loe ngarepin
sih Ririn mantan loe itu?” jawab Wendy kesal.
“Itu
liat yang di depan” Wendy mengangkat paksa daguku.
Aku
mengernyitkan alisku ke tengah-tengah, ku sipitkan mataku, sesekali memiringkan
wajahku melihat sosok cewe yang ada di depan.
Itukan
Intan, mahasiswi pindahan Bandung. Kok bisa sih dia ngajar di kelasku. Apa dia
bohong ya sama aku? Kalo benar dia assistennya pak Tono, mampus deh bisa-bisa
nilai gua C dong, gara-gara pas keluar lift
aku gak sempat pamit sama dia dan buru-buru ke kelas. Aku menepok jidat.
Mata
kuliah di jam pertama sudah selesai, semua sibuk bergegas keluar karena hari
ini cuma satu mata kuliah. Ku berlari dengan tergesa-gesa mengejar asdos ku itu
untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Tapi tak ku lihat bayangan ataupun
batang hidung ibu itu lagi. Kayaknya ibu itu punya keahlian di bidang lari deh.
Cepat banget jalannya. Pikirku.
Malam
yang penuh dengan purnama. Bersinar terang menyinari malam indahku. Entah apa
yang ku rasakan sekarang. Mungkinkah aku mulai menyukainya? Secepat itukah? Aku
menepis rasa yang ada di hatiku. Ku setel radio via tabku. Ku pasangkan headset ku agar aku dapat menikmati
lagu-lagu yang mengalun indah di telingaku menemani malam ku bersama indahnya
rembulan. Aku terperanjat ketika ada suara seorang cewe mengalun indah
ditelingaku. Suara yang takkan pernah lupa di alat pendengaranku. Suara yang selalu
menyemangatiku ketika aku sedang senang maupun lagi sedih. Ririn?? Gak salah
lagi ini pasti Ririn orang yang pernah menyakiti ku beberpa bulan yang lalu.
Suaranya mengalun indah lewat streaming
yang dia dengarkan walaupun dia sekarang berdomisili di negeri paman sam sana.
........
“Aku mau curhat bang, semoga dia malam ini lagi dengerin. Dulu aku punya orang special dalam hidupku. Namanya Igo Vernandes. Hubungan kami ended saat aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Amrik. Aku nyesel udah ninggalin dia, bang. Dia benar, itu alasan yang gak masuk akal, padahal sekarang zaman udah canggih. Jadi gak ada alasan untuk tidak bisa berhubungan. Aku nyesel bang, mungkin dia sekarang udah lupa sama aku? Atau bahkan membenciku? Satu hal yang harus dia tahu, aku masih mencintainya” tegas suara Ririn dari dalam radio.
“Aku mau curhat bang, semoga dia malam ini lagi dengerin. Dulu aku punya orang special dalam hidupku. Namanya Igo Vernandes. Hubungan kami ended saat aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Amrik. Aku nyesel udah ninggalin dia, bang. Dia benar, itu alasan yang gak masuk akal, padahal sekarang zaman udah canggih. Jadi gak ada alasan untuk tidak bisa berhubungan. Aku nyesel bang, mungkin dia sekarang udah lupa sama aku? Atau bahkan membenciku? Satu hal yang harus dia tahu, aku masih mencintainya” tegas suara Ririn dari dalam radio.
Aku juga
mencintaimu Rin. Balasku. Gimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana?
Gumamku sambil memandangi rembulan. Bintang, meskipun di ujung dunia sana kau
belum nampak, kirimkan salamku untuk orang yang berada di sana bahwa aku juga
masih mencintainya. Dia akan tetap ada di hatiku walaupun dia sempat membuatku
kecewa.
**
Pagi
yang cerah, tak secerah hatiku sekarang. Hatiku yang sempat lupa akan dia,
sekarang menyelimuti isi kepalaku. Benarkah aku masih mencintainya?
Ahhhhhhhhhhhhh...Handphone ku bergetar,
ku lihat pesan yang masuk.
Go, kamu
di mana? Kenapa gak ngampus? elo sakit? Ditanyain ama bu Intan tuh. Bunyi pesan
dari Wendy sohib karibku.
Ku tutup
handphone ku tanpa membalas pesan dari Wendy. Ku percepat laju mobilku untuk
secepatnya sampai ke taman penuh kenangan dengan Ririn, orang yang masih ku
sayangi. Tak ada yang berubah dari taman ini sejak terakhir kali menapakkan
kaki ku bersamanya beberapa bulan yang lalu. Aku merindukannya. Desisku. Akankah
dia ke taman ini menemaniku menikmati indahnya taman penuh kenangan ini yang
setiap sudutnya memiliki cerita? Berfoto selfie
berdua di bawah pohon yang rindang itu masih terngiang-ngiang dipikiranku. Di
bawah pohon itu aku menyatakan cinta untuknya, walaupun rasa malu menyelimutiku
karena takut akan ditolak dan dilihat banyak orang. Lucu sekali kenangan itu. Di taman ini pula lah engkau
mengakhirinya. Aku tersenyum getir. Senyum yang seolah mengisyaratkan kesedihan
akan takdir yang menimpa kisah perjalanan cintaku. Akankah kau akan memberi
cahaya untuk hatiku yang gelap? Akankah kau akan membuat malam-malaku semakin
indah dengan sinar yang kau berikan? Sebuah tangan menepi di pundakku. Ku lihat
perlahan ke belakang. Ririn?? Aku tersentak kaget akan kedatangan sosok orang
berada tepat di sampingku. Rasa senang menyelimutiku. Daun-daun menari-nari
menyambut suasana senang hatiku. Di sini, di taman ini sebuah awal dan akhir
dari perjalanan cintaku.