Jumat, 02 Mei 2014

Cerpen Percintaan: Bintangku Itu Kamu



Bintangku itu Kamu
 By: Herdinata

                Hujan deras membasahi kota Palembang. Daun-daun basah kuyup terkena siraman hujan. Katak loncat kesana-kesini dengan girangnya karena selama beberapa bulan ini bumi Sriwijaya ini tidak tersiram hujan. Ku pandangi hujan dari bIlik jendelaku. Sudah lama tidak mandi hujan. Entah kenapa aku sangat menyukai hujan. Setiap kali melihat hujan hatiku spontan bahagia layaknya anak kecil yang di kasih permen kesukaannya. Terakhir kali aku mandi hujan bulan Maret lalu dengan seseorang yang sempat menjadi orang special di hidupku. Aku rindu masa-masa itu. Rindu akan hujan atau rindu dengan dirinya sang pujaan di masa lalu? Entahlah.
**
                “Go, aku minta kita putus. Aku ngerasa kita udah gak cocok lagi” ucap Ririn tiba-tiba.
                “ Lho, kenapa Rin?? Apa salahku?” balasku kaget
                “Aku rasa kita udah gak cocok lagi Go, lagian kamu kan tau aku mau kuliah ke Amrik setelah lulus nanti.”
                “Itu alasan yang gak masuk akal Rin, kita kan masih bisa berhubungan via E-mail, Whatsapp, atau twitter kan? Aku gak mau putus sama kamu. Aku mau terus sama kamu!” ujarku mantap
                “Maaf go, aku tetap gak bisa.”
                Hatiku yang tadinya berbunga-bunga tiba-tiba menjadi hening, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutuku. Bibirku keluh. Hatiku bagaikan disambar petir. Hujan semakin lebat seakan ikut bersedih dengan apa yang kurasakan.
**
                Sudah tujuh bulan aku tidak berkomunikasi lagi sama orang yang sempat menjadi bunga hatiku. Mungkin sekarang dia sudah punya pengganti diriku di negeri paman sam itu. Kenapa sampai sekarang aku masih belum bisa move on? Apakah cintaku buatnya terlalu besar?  Sebesar itukah rasa cintaku untuknya hingga sulit bagiku membuka hati ini untuk wanita lain? Ahhhh. Pikiran ku berkecamuk, otakku seakan mau pecah karena keseringan memikirkan orang yang belum tentu memikirakn diriku. Bodohnya. Mataku masih tertujuh pada rintik hujan yang jatuh ke daun yang hijau nan lebat. Tidak ada gunanya mikirin dia, yang terpenting sekarang fokus dulu sama kuliah, semoga aku bisa menghancurkan perasaan yang tak lagi penting ini jauh-jauh tanpa sisa.
                Hari sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi. Aku bersiap untuk pergi ke kampus. Ku hangatkan mesin mobil jazz ku. Ku ambil tas selempangku berwarna cokelat lalu langsung masuk ke dalam mobil.
                “Ya ampun, parah banget macetnya.” Gerutuku.
                Ku setel radio yang ada dalam mobilku, ku cari saluran radio favoritku ‘MOMEA FM’. Selain radio ini sangat terkenal dikotaku, di radio ini juga suka muterin lagu-lagu luar. Itu salah satu alasanku menyukai radio ini.
                “Selamat pagi kawulamuda, pagi ini masih ditemenin sama Nata ya ampe merapat ke pukul 9 nanti. Yang mau request silakan dial ke 356062/356063.” Celoteh penyiar radio Momea.
                Setiap lagi dengerin radio atau pun lagi ada ajang request lagu, aku pasti ikutan. Entah sekedar request ataupun hanya sekedar kirim-kirim salam buat temen-temen kampusku karena beberapa dari mereka sering dengerin juga.
                “Hallo bang, ini Igo bang.” Ucaku ditelepon.
                “Hallo Igo, lagi OTW kemana nih?
            “Mau ngampus aja nih bang, gila diseputaran patal macet nih. Request lagu Demi Lovato – Shouldn’t Come Back bang.”
                “Wahh, masih pagi kok udah galau gini, Go. Ada alternatif lain gak nih? Lagi yang up-beat aja ya?”
                “Hehehh.. Lupa bang kalo pagi gak boleh lagi ballad. Yaudah lagu Agnez Mofeaturing Timbaland & T.I. – Coke Bottle aja bang.”
                “Oke,, langsung diputerin ya buat kamu Gio”
                Beberapa detik setelah telepon di tutup, suara Agnez berkumandang. Lagu yang cukup nge-beat membahana di seputaran area mobilku.  Ku goyangkan badanku mengikuti irama musik aliran RnB/HipHop ini.
                Akhirnya ijo juga lampunya. Sering-sering aja macet kayak gini. Setiap hari juga deh gua di usir oleh dosen karena sering telat. Celotehku.Beberapa menit kemudian, sampailah di kampus tercintaku. Kampus yang di dominasi oleh warna biru yang terletak di Jalan Rajawali. Aku pun memarkirkan mobilku di tempat biasa. Ku percepat langkahku agar pak Tono tidak mengusirku.
                “Gila, liftnya lama banget. Gak mungkin dong gua naik tangga gitu? Hadoohh. Gumamku dalam hati.”
                Ku pencet terus tombol lift berharap bisa terbuka.
                “Akhirnya terbuka juga.” Seruku dengan nafas lega.
                “Mau ke lantai berapa?” tanya seorang cewe yang tak ku kenal.
                “Mau ke lantai 4,” jawabku ramah.
                “Jurusan Sistem Informasi juga ya?” tebak cewe yang belum ku kenal
                Aku bungung sama cewe itu, kenapa dia bisa tahu gitu ya? Padahal di lantai 4 itu kan ada banyak jurusan. Aneh. Pikirku.
                “Iya. Kamu juga ya? Balasku akhirnya
                “Iya, kenalin aku Intan. Pindahan dari Bandung.” Jawabnya seraya menyodorkan tangannya.
                “Aku Igo.”
                Sampai di lantai 4, ku percepat langkahku. Tanpa peduli lagi dengan cewe yang ada disampingku. Biarin deh dia berfikir kalo aku sombong atau apa yang penting aku tidak telat pelajaran pak Tono.
                “Woiii, Go. Kenapa loe baru datang bro? Untung dosennya belum datang. Oh iya, katanya pak Tono gak masuk, Go. Di gantiin sama assistennya. Banyak yang bilang sih orangnya cantik bro.” Ucap Wendy dengan setengah menggoda
                “Masa sih Wen? Kayak Agnez ya? Atau mungkin Demi?”
                “Lebih dari idola loe itu bro. Pokonya beda lah. Liat aja beberapa menit ke depan”
                Dasar anak aneh, pasti assisten pak Tono biasa-biasa aja, pake kacamata, kulitnya item, pakaian yang gak modis dan berjerawat. Pikirku ketawa geli.
                “Selamat siang,”
                “Siang bu.”
                Aku masih asyik memainkan game di tab ku. Tanpa menjawab salam dari asdos ku. Lagian main game kayaknya lebih penting dari sekedar basa-basi kayak gitu. Pikirku.
                “Ssssttt..... Go, liat itu assistennya pak Tono”
                “Apaan sih berisik, diem aja nape sih Wen. Kalo loe kepincut ama dosennya, embat aja gih sono.” Gumam ku kesal.
                “Eh bro, coba liat dulu dikit aja, jangan fokus mulu sama gadget loe. Gua itu baik kali mau ngebantuin elo, kali aja loe kepincut ama tuh dosen dan melepas masa lajang loe. Gak mungkinkan loe ngarepin sih Ririn mantan loe itu?” jawab Wendy kesal.
                “Itu liat yang di depan” Wendy mengangkat paksa daguku.
                Aku mengernyitkan alisku ke tengah-tengah, ku sipitkan mataku, sesekali memiringkan wajahku melihat sosok cewe yang ada di depan.
                Itukan Intan, mahasiswi pindahan Bandung. Kok bisa sih dia ngajar di kelasku. Apa dia bohong ya sama aku? Kalo benar dia assistennya pak Tono, mampus deh bisa-bisa nilai gua C dong, gara-gara pas keluar lift aku gak sempat pamit sama dia dan buru-buru ke kelas. Aku menepok jidat.
                Mata kuliah di jam pertama sudah selesai, semua sibuk bergegas keluar karena hari ini cuma satu mata kuliah. Ku berlari dengan tergesa-gesa mengejar asdos ku itu untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Tapi tak ku lihat bayangan ataupun batang hidung ibu itu lagi. Kayaknya ibu itu punya keahlian di bidang lari deh. Cepat banget jalannya. Pikirku.
                Malam yang penuh dengan purnama. Bersinar terang menyinari malam indahku. Entah apa yang ku rasakan sekarang. Mungkinkah aku mulai menyukainya? Secepat itukah? Aku menepis rasa yang ada di hatiku. Ku setel radio via tabku. Ku pasangkan headset ku agar aku dapat menikmati lagu-lagu yang mengalun indah di telingaku menemani malam ku bersama indahnya rembulan. Aku terperanjat ketika ada suara seorang cewe mengalun indah ditelingaku. Suara yang takkan pernah lupa di alat pendengaranku. Suara yang selalu menyemangatiku ketika aku sedang senang maupun lagi sedih. Ririn?? Gak salah lagi ini pasti Ririn orang yang pernah menyakiti ku beberpa bulan yang lalu. Suaranya mengalun indah lewat streaming yang dia dengarkan walaupun dia sekarang berdomisili di negeri paman sam sana.
                ........
                “Aku mau curhat bang, semoga dia malam ini lagi dengerin. Dulu aku punya orang special dalam hidupku.  Namanya Igo Vernandes. Hubungan kami ended saat aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Amrik. Aku nyesel udah ninggalin dia, bang. Dia benar, itu alasan yang gak masuk akal, padahal sekarang zaman udah canggih. Jadi gak ada alasan untuk tidak bisa berhubungan. Aku nyesel bang, mungkin dia sekarang udah lupa sama aku? Atau bahkan membenciku? Satu hal yang harus dia tahu, aku masih mencintainya” tegas suara Ririn dari dalam radio.
                Aku juga mencintaimu Rin. Balasku. Gimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana? Gumamku sambil memandangi rembulan. Bintang, meskipun di ujung dunia sana kau belum nampak, kirimkan salamku untuk orang yang berada di sana bahwa aku juga masih mencintainya. Dia akan tetap ada di hatiku walaupun dia sempat membuatku kecewa.
**
                Pagi yang cerah, tak secerah hatiku sekarang. Hatiku yang sempat lupa akan dia, sekarang menyelimuti isi kepalaku. Benarkah aku masih mencintainya? Ahhhhhhhhhhhhh...Handphone ku bergetar, ku lihat pesan yang masuk.
                Go, kamu di mana? Kenapa gak ngampus? elo sakit? Ditanyain ama bu Intan tuh. Bunyi pesan dari Wendy sohib karibku.
                Ku tutup handphone ku tanpa membalas pesan dari Wendy. Ku percepat laju mobilku untuk secepatnya sampai ke taman penuh kenangan dengan Ririn, orang yang masih ku sayangi. Tak ada yang berubah dari taman ini sejak terakhir kali menapakkan kaki ku bersamanya beberapa bulan yang lalu. Aku merindukannya. Desisku. Akankah dia ke taman ini menemaniku menikmati indahnya taman penuh kenangan ini yang setiap sudutnya memiliki cerita? Berfoto selfie berdua di bawah pohon yang rindang itu masih terngiang-ngiang dipikiranku. Di bawah pohon itu aku menyatakan cinta untuknya, walaupun rasa malu menyelimutiku karena takut akan ditolak dan dilihat banyak orang. Lucu sekali  kenangan itu. Di taman ini pula lah engkau mengakhirinya. Aku tersenyum getir. Senyum yang seolah mengisyaratkan kesedihan akan takdir yang menimpa kisah perjalanan cintaku. Akankah kau akan memberi cahaya untuk hatiku yang gelap? Akankah kau akan membuat malam-malaku semakin indah dengan sinar yang kau berikan? Sebuah tangan menepi di pundakku. Ku lihat perlahan ke belakang. Ririn?? Aku tersentak kaget akan kedatangan sosok orang berada tepat di sampingku. Rasa senang menyelimutiku. Daun-daun menari-nari menyambut suasana senang hatiku. Di sini, di taman ini sebuah awal dan akhir dari perjalanan cintaku.