Jumat, 16 Mei 2014

Makalah: Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa, Bilingualisme dan Tujuan Historis


1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Masyarakat tutur yang terbuka, dinamis, dan dapat berinteraksi dengan masyarakat tutur yang lain tidak menutup kemungkinan terjadinya bilingualisme. Latar belakang yang mendorong terjadinya bilingualisme adalah karena adanya kontak bahasa di dalam otak. Kontak bahasa terjadi karena perpindahan penduduk dengan alasan pendidikan, politik, ekonomi, agama, dan bencana alam sehingga terjadi kontak dengan bahasa penutur lain. Bloomfield (1958: 58) menerangkan bahwa bilingualisme adalah penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa seperti halnya penguasaan oleh penutur asli. Konsep umum bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Chaer dan Leonie, 1995: 112).  Masalah bilingualisme perlu dipertimbangkan dalam proses kebahasaan yang digunakan oleh suatu masyarakat. Di Indonesia kasus bilingual adalah kasus yang hampir dialami oleh separuh lebih orang Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata menguasai bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia, khususnya ragam bicara.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana ciri-ciri proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua?
2. Apa pengertian bilingualisme?
3. Apa tujuan historis komparatif dari belajar bahasa?


 2. PEMBAHASAN

2.1 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa
            Belajar bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya. Bagi kondisi di Indonesia, kita perlu membedakan istilah bahasa pertama (asli, ibu, utama/first language) yang terwujud bahasa daerah tertentu. Bahasa kedua (second language) yang terwujud bahasa Indonesia dan bahasa asing.

2.1.1 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Pertama (B1)
            Adapun ciri-ciri proses belajar bahasa pertama yaitu:
1. Belajar tidak disengaja;
2. Berlangsung sejak lahir;
3. Lingkungan keluarga sangat menentukan;
4. Motivasi ada karena kebutuhan;
5. Waktu banyak untuk menyobakan bahasa; dan
6. Si terdidik mempunyai waktu banyak untuk berkomunikasi.

2.1.2 Ciri-ciri Proses Belajar Bahasa Kedua (B2)
            Adapun ciri-ciri proses belajar bahasa kedua yaitu:
1. Belajar bahasa disengaja;
2. Berlangsung setelah terdidik berada di sekolah;
3. Lingkungan sekolah sangat menentukan;
4. Motivasi si terdidik untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama;
5. Waktu terbatas;
6. Si terdidik tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari;
7. Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua;
8. Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama;
9. Disediakan alat Bantu belajar; dan
10. Ada orang yang mengorganisasikannya, yakni guru.
2.2 Bilingualisme
            Istilah bilingualisme (inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey, 1962:12), fishman 1975:73) untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).

2.2.1 Pengertian Bilingualisme Menurut Pendapat Ahli

                        Berikut pengertian bilingualisme menurut pendapat beberapa ahli bahasa:
1. Oksaar Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu, namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya masyarakat dwibahasawan.
2. Bloomfield (1933:56 dalam Chaer dan Agustina, 2004:85) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk  menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya (native like control of twolanguages)”.
3. Robert Lado (1964:214 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya”.
4. Haugen (1961 dalam Chaer dan Agustina, 2004:86) “tahu akan dua bahasa atau lebih berarti  bilingual” menurut Haugen selanjutnya “seorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakankedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja.” 
5. Weinreich Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian.



2.2.2 Jenis-jenis Bilingualisme

            Dalam banyak literatur sosiolinguistik umum disebutkan bahwa bilingualisme terbagi juga ke dalam sejumlah tipologi, antara lain:

1. Bilingualisme Majemuk (compound bilingualism) adalah hasil belajar dalam dua bahasadalam situasi yang sama oleh orang yang sama. Kedwibahasaan yang menunjukkanbahwa kemampuan berbahasa di mana salah satu bahasa lebih baik dari padakemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada kaitanantara bahasa pertama (selanjutnya disebut sebagai B1 ) dengan bahasa kedua(selanjutnya disebut sebagai B2 ) yang dikuasai oleh bilingual (dwibahasawan). Jadi, padakedwibahasaan majemuk kedua bahasa dikuasai oleh dwibahasawan tetapi masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
 
2. Bilingualisme Koordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa yang sama-sama baiknya oleh seorang individu. Kedwibahasaan ini dikatakanseimbang sebagaimana dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2 dwibahasawan tersebut, bahwa kemampuan bahasa kedua-duanya baik B1 maupun B2 dikatakan sama mahirnya.

3. Bilingualisme Sub-ordinatif (kompleks) adalah Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaanini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1 seperti sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini memungkinkan dapat kehilangan B1-nya.

2.2.3 Faktor-faktor Berkembangnya Bilingualisme

1. Tempat pemerolehannya.
            Dilihat dari tempat (setting) pemerolehannya, bilingualisme dapat diklasifikasikan menjadi dua. Bilingualisme primer dan sekunder. Bilingualisme primer mengarah kepada bahasa asing atau bahasa kedua dari sekelompok masyarakat tidak digunakan dilingkungan tertentu saja, tetapi digunakan juga dalam kesempatan umum seperti disekolah dan tempat lainnya. Sedangkan bilingualisme sekunder hanya digunakan saat situasi tertentu saja, seperti di sekolah saja. 
2. Tingkat penguasaannya.
            Dalam tingkat ini bilingualisme dikategorikan menjadi tiga. 
a. Bilingualisme sejajar
            Merupakan kemampuan seseorang memahami, mengerti dan mengggunakan dua bahasa atau lebih tanpa kesulitan dan tidak terpengaruh oleh bahasa lainnya. 
b. Bilingualisme majemuk
            Merupakan kemampuan menggunakan bahasa yang satu lebih baik dari bahasa yang lainnya. Biasanya orang yang kemampuan bilingualismenya majemuk akan mengalami kesulitan seperti menggunakan bahasa asing dengan pilihan kata atau kalimatnya dipengaruhi oleh bahasa ibunya. 
c. Bilingualisme kompleks
            Bilingualisme kompleks terjadi kepada anak-anak yang baru belajar bahasa. Mereka menggunakan banyak bahasa tetapi penguasaannya terhadap bahasa tersebut kurang baik. 

3. Status bahasa yang dikuasainya.
            Bilingualisme dibedakan menjadi tiga: 
a. Bilingualisme horizontal
            Jika dua atau lebih bahasa bilingual yang dipakai berstatus tinggi. Misalnya berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 
b. Bilingualisme vertical
            Jika bilingual bahasa yang digunakan berstatus tinggi dan rendah. Seperti bahasa Indonesia dengan bahasa melayu. 
c. Bilingualisme diagonal
            Jika bilingual bahasa yang digunakan sama-sama berstatus rendah. Seperti bahasa melayu dan bahasa minang. 

2.3 Tujuan Historis Komparatif
            Tujuan dalam kajian historis komparatif adalah untuk melihat sejauh mana kedua bahasa berbeda sehingga diketahui keduanya merupakan variasi dari satu bahasa yang sama atau bisa jadi bahasa ynag berkerabat atau satu asal (cognate).


3. PENUTUP

Kesimpulan
            Belajar bahasa terdapat dua macam yaitu belajar bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Belajar bahasa pertama adalah proses di mana seorang anak memperoleh bahasa pertama (B1) sejak lahir. Sedangkan belajar bahasa kedua adalah proses dimana seseorang mengakusisi sebuah bahasa lain setelah lebih dahulu menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya.
            Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasawanan).






DAFTAR PUSTAKA


http://indriwriting.blogspot.com/2012/06/bilingualisme.html

Tidak ada komentar: