Senin, 05 Mei 2014

Cerpen Pendidikan: Sebuah Penantian



Sebuah penantian
Oleh: Herdinata
            Kadang aku berfikir untuk apa aku di lahirkan? Untuk apa aku diizinkan menapakkan kakiku ke dunia ini? Untuk apa? Kalau hidupku hanya menyusahkan orang-orang yang ku sayangi. Orang-orang yang selalu menyayangi ku, mengayomi ku, bahkan berkorban demi kepentingan pribadiku. Dan sedihnya lagi, yang ku berikan hanya sebuah kesusahan yang membuat pilu di relung hati. Ngilu di ulu hati.
**
            Aku di lahirkan di tengah keluarga yang berkecukupan. Ayah seorang tani dan ibu seorang pedagang sayur di pasar. Setiap pagi ayah ke sawah untuk mencukupi kebutuhan kami, ibu juga demikian setiap subuh harus bersiap ke pasar untuk menambah uang pemasukkan demi menyambung hidup serta kebutuhan pendidikan ku.
         Pagi ini, aku berniat menuju kota perantauanku untuk meneruskan cita-citaku menjadi orang yang sukses yang dapat membahagiakan orang tuaku. Ku lihat ayah duduk di anak tangga sambil melihat kalau-kalau ada travel yang lewat depan rumahku. Sedangkan Ibuku sudah beberapa jam yang lalu pergi ke pasar. Hari ini entah yang ke berapa kalinya aku mondar mandir pulang ke desa - kota lagi. Tak terhitung. Setelah sekian lama menunggu, travel dengan tujuan ke kota pun lewat dan ayahku langsung menghentikan laju mobil itu agar aku dapat tumpangan untuk pergi ke kota.
**
           Cuaca pagi yang cerah, tumbuhan yang hijau seakan mengikuti perjalananku. Begitupun awan dengan setianya mengikuti perjalanan ku menuju kota dengan harapan dapat merubah nasib dan mengangkat derajat  keluarga kami. Harapan yang harus ku kejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Harapan yang terletak hanya lima sentimeter dari pelupuk mata. Begitu dekat tapi susah digapai. Harapan yang menggerakan staminaku agar kuat dalam proses mewujudkannya. Walaupun berbagai rintangan hendak menghalangi. Aku harus tegar, tetap kuat demi cita-citaku.
          Mentari telah sampai keperaduan, pertanda hari sudah semakin siang. Sampai lah aku ke kota dimana aku menuntut ilmu. Kota yang memiliki banyak kenangan, baik kenangan manis maupun kenagan pahit. Kota yang menurutku begitu keras dan banyak memiliki tantangan di dalamnya. Ku rebahkan tubuhku ke tempat tidurku berharap rasa capek dan pusing ku segera lenyap karena perjalanan jauh yang ku tempuh. Beberapa saat kemudian, aku bangkit sejenak dari rebahanku dan mengambil air minum untuk melepas dahaga. Ku rebahkan lagi tubuhku ke kasur ku yang lumayan empuk dan tertidur lelap dengan sejuta mimpi indah.
**
       Hari ini tepat hari Senin. Awal dimulainya aktivitas. Banyak yang benci dengan hari ini. Ada yang beranggapan hari senin adalah hari yang menyebalkan untuk memulai aktivitas tapi tidak denganku, ini merupakan langkah awal dari semangatku untuk mengejar cita-citaku. Cita-cita yang telah lama ku nanti. Cita-cita yang ku harapkan bisa merubah nasib kami sekeluarga. Ku lihat jam di dindingku menunjukkan pukul 5 pagi. Aku segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh sembari membunuh waktu yang ku rasa masih lama untuk bersiap ke kampus.
          Memang benar, Sholat dan membaca ayat suci Al-Quran adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa kantuk di kala subuh menyerang. Sudah jadi kebiasaanku bangun subuh agar aku tidak telat ke kampus di hari pertama kuliahku di semester akhir ini. “Tak terasa aku sudah semester akhir dan sebentar lagi akan diwisuda dengan menyandang gelar sarjana teknik”bisikku dalam hati. Ku bereskan peralatan sholatku dan lekas mandi karena ku lihat hari sudah semakin siang.
        Mobil berlalu-lalang, tapi tak satupun ku temui bus yang berwarna abu-abu yang bertuliskan “Cambay”. Bus yang akan membawaku ke kampus tempat aku menimbah ilmu. Bus yang selalu menyapaku di kala pagi. Suara kendaraan berteriak ramai, bercorak seakan mengejek diriku yang tidak memiliki kendaraan sama sekali. Tak pernah aku merasa iri dengan orang-orang di sekelilingku yang memiliki kendaraan, tak pernah terlintas di benakku untu meminta kedua orang tuaku untuk membelikan ku kendaraan, sudah di izinkan kuliah pun itu rasanya sudah cukup bagiku. Sempat juga aku di tawarkan oleh dosen yang sangat peduli terhadapku untuk meminjamkan sepeda motornya kepadaku tapi aku malah menolak kebaikkan dosen itu. Bukan maksud untuk jadi orang yang munafik, aku hanya tidak mau orang lain terbebani akan diriku ini. Setelah lama menunggu akirnya bus yang ku cari datang juga. Ku langkahkan kakiku naik ke dalam bus yang tampak penuh dengan penumpang lainnya. Berdesakkan, sempit, pengap. Inilah nasib orang yang jauh dari kemewahan yang mencoba untuk bangkit dari keterpurukkan hidup.
**
            Malam ini, mataku enggan terpejam. Ku putar hape minimalisku dan ku buka radio mencari siaran yang menurutku pas untuk menemaniku dalam kesunyian malam. Ketika semua orang memiliki gadgetcanggih, mahal dan alat elektronik lainnya, aku malah masih mempertahankan hape jadulku ini. Aku tidak kecewa dengan apa yang ku miliki, aku bahkan masih bisa bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Aku percaya suatu saat aku bisa merubah semua ini menjadi apa yang aku rencanakan. Semua hanya butuh waktu saja untuk mewujudkannya cepat atau lambat aku pasti bisa mewujudkannya semuanya. Suara hape berbunyi mengeluarkan suara deringan yang sangat ku kenal betul pertanda apakah itu. Ku lihat hapeku yang nampak kusam itu, ternyata ada SMS yang masuk dari seorang dosen pembimbingku. Seorang pembimbing yang membantu ku menyelesaikan skripsiku. Dosen yang sangat membantu, memotivasi, sekaligus mengayomi ku dalam merampungkan skripsiku ini. Dosen yang sangat baik terhadapku. Beliau selalu berpesan untuk tekun dalam pengerjaan skripsi ini agar bisa cepat selesai dan secepatnya mendapatkan gelar sarjana. Tak terasa sebentar lagi aku menyelesaikan S1 ku setelah sekian lamanya aku menantikkan semua ini.
            Setiap saat aku mencoba memfokuskan segenap fikiran ku dan bersungguh-sungguh dalam merampungkan skripsiku. Agar target ku untuk segera selesai secepat mungkin dapat terelasasikan. Betapa senangnya kedua orang tua ku jika aku sudah menggelar sarjana seperti yang mereka idam-idamkan selama ini.
**
            Pagi masih menyisahkan embun-embun bekas hujan semalam. Daun-daun nampak masih basah terkena sang embun. Angin pun berhembus dengan mesra ke setiap penjuru tempat. Mentari tak kunjung datang seakan terpenjara oleh awan tebal nan usang. Berharap pagi ini tidak hujan karena hari ini merupakan hari penting buatku. Hari dimana aku menyandang gelar yang selama ini aku nantikan. Hari dimana aku dapat menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidupku. Hari dimana ini adalah sebuah awal menuju pintu kesuksessan. Terlebih hari ini juga kedua orang tuaku hadir menyaksikan penyerahan gelar untukku. Rasa senang menyelimuti hatiku.
            Aku tiba di sebuah gedung yang mewah, sebuah gedung yang ku kenal betul tempat apa itu. Di sinilah, di gedung inilah yang akan menjadi saksi bisu dalam pemberian gelar untukku. Kedua tanganku memegang tangan kedua orang tuaku. Dengan bangga ku langkahkan kakiku menuju ke gedung yang megah ini. Menaikki satu persatu anak tangga. Aku nampak tampan pagi ini meskipun baju yang ku pakai tidak semahal dengan apa yang di pakai oleh teman-temanku yang lain.
            Suasana di sini sangat ramai, ribuan orang memenuhi gedung yang luas ini. memadati setiap sudut dari gedung ini. Melihat keadaanku, rasanya kurang pantas aku berada di sini. Tapi itu tak menjadi masalah buatku, aku ke sini di undang untuk penyerahan gelar bukan untuk ajang pamer atau sejenisnya, pikirku.
            Suasana semakin menebarkan dimana seorang rektor universitas ku mengumumkan siapa-siapa yang mendapatkan cumloude atau IPK dengan nilai tertinggi dari setiap fakultas. Rasa deg-degan, nervous, dan keringat dingin menggerogoti tubuhku layaknya seorang tersangka yang akan divonis hukuman penjara. Aku mencoba untuk tetap tenang sembari berdoa agar namaku di sebut oleh sang rektor.
            “Azzam Rahadian Sugito” ucap rektor dengan tegas.
           “Mendapatkan predikat cumloude dengan IPK tertinggi 3,80 dari fakultas Teknik. Timpalnya dengan rasa bangga.
            Aku tertegun ketika namaku disebut untuk maju ke depan. Riuh tepuk tangan menambah rasa haru dalan diriku. Rasa senang, bangga, bercampur jadi satu. Aku meneteskan air mataku dan memeluk kedua orang tuaku. Aku menangis bahagia, terharu dengan apa yang ku peroleh. Sebuah penghargaan atas segalausaha dan doaku selama ini terlebih perjuangan kedua orang tuaku dalam membiayai pendidikan yang ku tempuh selama ini. Terima kasih tuhan, bisikku kecil.
            Hari ini menjadi hari yang terindah dalam hidupku. Hari yang sangat bersejarah bagiku. Hari yang tak mungkin aku lupakan. Ini langkah awal untuk menapakkan sayapku untuk merubah segalanya. Merubah ekonomi keluarga, mengangkat derajat keluarga ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Penantian yang selama ini aku nantikan. Proses panjang yang ku tempuh dan akhirnya pada hari ini jugalah aku menemui titik terang dalam proses panjang yang telah ku lalui.

Cerpen Kehidupan: Hening Di Ujung Senja




Hening Di Ujung Senja
Oleh: Herdinata
Daun yang tua.
berguguran dan layu.
Seakan kering di telan waktu.
Menuggu datangnya tempat yang sejuk,
melebihi kehidupan di dunia yang fana ini.
Tempat apakah itu?
            Semua berteriak ramai, berceloteh, dan saling menghibur diri. Burung-burung seakan tak mau kalah, saling bersiulan dan berdendang dengan merdunya. Seorang anak yang imut dan menggemaskan berlari kecil ke arah ku. Wajah yang masih polos dan lugu, seperti tunas daun yang tidak mengerti tentang artinya hidup. Tak tau betapa pentingnya hidup ini. Tak mengerti apa itu artinya sebuah penyesalan. Aku terpekur mengenang kejadian dulu di waktu aku masih muda. Masa di mana aku mulai memberi arti dalam hidup ini.
        Aku seorang wanita yang telah berumur hampir satu abad. Wanita yang menyia-nyiakan masa mudanya, wanita yang memberi noda dalam hidup ini. Wanita yang mungkin hidupnya belum bahagia di kala muda. Wanita yang selalu di rundung kesedihan dan penyesalan yang amat dalam. Kadang aku bertanya, kenapa penyesalan itu selalu datang di akhir. Kalau saja waktu bisa di ulang aku mau memberi arti dalam hidup ini. Walau hanya sesaat.
            Aku terpekur membayangkan kejadian di masa muda ku. Ini semua berawal dari perkenalan dengan seorang lelaki yang sangat ku cintai, Angga Pradibyo. Perawakannya tampan, manis, baik di mataku tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka menentang hubungan kami. Tanpa tahu letak ketidak setujuan mereka. Beribu pertanyaan menyerbu pikiranku akan ketidaksukaan mereka terhadap mas Angga. Setiap ku tanya alasan apa yang menjadi kayu penghadang dalam hubungan kami. Mereka enggan memberiku jawaban.
            Siang itu mentari diselimuti awan hitam yang amat tebal, tak terlihat wajah mentari yang sangar itu. Aku termenung sendiri memikirkan sosok idaman hatiku selama ini, sosok yang kelak menjadi imamku, sosok yang menjadi teman hidupku, sosok orang menemani masa tuaku. Namun sayang kisah percintaanku tidak semulus dengan apa yang aku harapkan. Ada banyak kayu yang menghadang hubungan kami, beribu masalah yang harus kami tempuh layaknya awan hitam tebal yang menyelimuti sang atap langit. Begitu berat.
            Hari ini hujan lebat, dedaunan melayang tak tau arah. Cuaca yang tidak mendukung dan berbalik dengan apa yang kurasakan saat ini. Saat dimana sebuah ikatan mempersatukan dua hati yang suci ini. Meskipun tidak di restui oleh orang tuaku. Mereka menghadiri pernikahanku dengan terpaksa. Sebegitu bencinya mereka sama mas Angga? Perasaan ku bercampur aduk bagaikan sebuah es campur. Enak di pandang tapi keruh airnya. Aku tak bisa membendung gejolak emosi yang ada di dalam diriku. Batinku seakan berteriak. Apakah aku harus membatalkan pernikahanku? Apakah aku harus meninggalkan calon suamiku ini? Aku bingung antara melanjutkan pernikahan ini apa lebih memilih orang tuaku? Tapi aku percaya kelak nanti mereka pasti akan mengerti dengan keputusan ku ini. Maafkan anakmu ini bila tidak menuruti apa yang kalian mau. Aku hanya ingin menemukan kebahagiaanku yaitu hidup bersama dengan mas Angga pria yang telah ku pilih untuk menemani masa tuaku.
            Suasana pernikahanku sangat ramai, sederhana tapi meriah tapi tidak dengan suasana hatiku. Bercampur aduk. Batinku seperti bom yang sewaktu-waktu hendak meledak karena suasana yang tidak sesuai dengan yang ku harapkan. Aku mengira kalau mama dan papaku menyetujui pernikahanku ini tapi  nyatanya keinginanku itu tidak berbuah manis. Mereka masih belum menyetujui pernikahan kami. Semua anggota keluarga setuju dengan pernikahanku tapi tidak dengan mama dan papaku hati mereka tak bisa di luluhkan. Begitu keras dan teguh pendirian. Tapi aku percaya lambat laun hati mereka akan bisa redup layaknya sebuah batu yang apabila sering terkena butiran hujan akan mengikis dengan sendirinya. Walaupun butuh lama untuk membuat batu itu terkikis. Itulah sebuah penantian. Penantian sampai saat ini belum aku dapatkan. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benakku yang belum menemukan jawaban. Sampai akhirnya aku lelah menunggu jawaban atas pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menghantui ku. Sebuah pertanyaan tentang ketidaksetujuan orang tuaku dengan pernikahan kami. Pertanyaan itu sampai sekarang di umurku yang sudah tidak muda lagi ini selalu menghantui otakku.
            “Nek, napa meyamun?” ucap anak kecil lucu dan menggemaskan membuyarkan lamunanku.
Anak dari buah hati pernikahanku dengan mas Angga. Cucu yang sangat aku sayangi.
            “Gak kok, ndi. Nenek gak melamun kok. Sana gih main lagi sama kakak, mama dan papa kamu.
            Penyesalan itu selalu datang menggerogoti pikiranku. Kadang aku berfikir untuk mengikuti apa kehendak dari mama dan papaku dulu. Harusnya aku patuh dengan perintah mereka. Aku menyesal dengan semua ini. Aku menyesal menikah di usia muda. Padahal waktu dulu mama dan papa ingin melihat aku menjadi seorang Polwan tapi aku malah menolak dan lebih memilih untuk segera menikah. Mungkin itu alasan merek tidak menyetujui pernikahanku yang telah kandas duluan di tengah jalan. Aku benci dengan semua ini, muak dengan hidupku yang kelam ini. Hidup dengan orang yang ku kira akan menemani aku di kala tua, tapi nyatanya usia pernikahan baru seumur jagung ia malah meniggalkan diriku entah kemana perginya sosok orang paling ku benci itu. Tragis sekali kisah percintaanku, dikhianati orang yang ku percaya bahwa ia akan membahagiakan ku dan menemani ku saat usia sudah di ujung senja kelak. Tak terasa butiran air mataku jatuh ke pipiku yang telah kecut dan keriput. Wajah yang tak seindah dulu. Wajah yang penuh dengan penyesalan.
            Suasana sore seperti ini mungkin enak untuk santai ditemani awan sore yang sangat cerah begitupun dengan sang mentari yang nampak indah meskipun sudah semakin menua sampai ia kembali ke peraduannya. Tidak ada satupun yang bisa kulakukan. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya menunggu kehidupan yang kekal nanti dan meninggalkan dunia yang fana ini. Dunia yang penuh dengan penyesalan. Dunia yang sangat keras. Mungkin kembali ke yang maha kuasa adalah jalan terbaik untuk melupakan rasa penyesalan ini. Penyesalan yang telah bertahun-tahun ini menghantui pikiranku.
           Suasana sore ini begitu senyap, hening tanpa ada satupun suara. Burung pun enggan untuk mendendangkan suaranya yang merdu. Begitu pun angin,enggan untuk menghembuskan nafasnya. Hening yang menyelimuti diriku di kala mentari yang semakin menua. Aku bagaikan mentari yang setiap detiknya menunggu kembali ke peraduan tanpa ada satupun orang yang dapat melihatnya. Tidak banyak yang bisa ku lakukan, aku hanya menunggu waktu yang akan menjemput ku dengan membawa penyesalan ke alam yang kekal nan indah kelak. Penyesalan yang senantiasa bersamaku di kala hening yang menjemputku disaat usiaku yang sudah senja ini.

Cerpen Percintaan: Sepasang Burung Kertas



Sepasang Burung Kertas
(terbelenggu Rindu)

By: Herdinata

            Malam ini begitu gelap tanpa bintang dan  rembulan hadir menemaniku dalam sepi. Hanya bunyi nada dari ponselku yang terdengar. Lagu-lagu mellow Agnez Mo dan Demi Lovato mengalun indah mengisi relung kamarku dan relung jiwaku seakan larut dalam dendangan indah lagu itu. Ku pandangi langit yang nampak hitam legam tanpa cahaya yang menyinarinya. Aku rindu kamu Sinta, desisku.
           Pacaran jarak jauh memang sangat sulit buatku.Apakah aku masih bisa bertahan dengan keadaan ini? Apakah ia masih setia dengan ku dan menjaga hatinya buatku? Ataukah dia sudah berpaling dan melupakan semua cerita indah dulu sewaktu masih berada di sini satu kota bersamaku. Kenapa kamu pindah keluar kota Sin? Ucapku membatin. Aku mendekapkan tanganku ke kakiku tertunduk menatap lantai kamarku. Ponselku berdering. Ku lihat sekilas. Aneh, tak biasanya dia nelpon duluan. Ku angkat telpon dari Sinta dengan riang bak narapidana yang terbebas dari tahanan.
            “Hallo sayang?” ucapku
            “Beib, lagi ngapain? Udah tidur?”
            “Belum, lagi mikirin kamu sayang. Gimana keadaan kamu?
            “Baik beib, udah dulu ya beib. Aku udah ngantuk nih besok ada kuliah pagi. Jangan malam-malam tidurnya ya,beib. I miss u” ucapnya langsung mematikan ponselnya tanpa memberiku kesempatan membalasnya.
            “I miss u too,” balasku getir. Ada yang berubah darinya. Nada bicaranya, sikapnya, gak seperti biasanya. Ada apa gerangan? Apakah negative thinking ku selama ini benar adanya? Entahlah. Ku lirik lagi ponselku berharap dapat SMS dari dia untuk mengucapkan selamat tidur seperti yang biasa ia lakukan dulu sewaktu masih di Palembang. Ah, dia benar-benar berubah? Gerutuku sambilmeremas rambut pendekku.
**
            Hari ini, di pagi yang cerah ku awali aktivitas ku seperti biasa jadi pramugari busway tranmusi yang ada di kotaku. Ku rapikan seragam ku dan langsung bergegas menuju kantor tempatku bekerja. Ku startirkan motor vixion ku tak lupa memasangkan help favoritku dan langsung tancap gas layaknya pembalap yang professional.
            “Kenapa murung yo? Ada masalah?” ujar Yoga teman seprofesiku.
            “Gak ada kok ga. Hanya ada satu masalah yang mengganjal di perutku. Laper!” balasku. Yoga hanya terkekeh.
            Terik matahari siang ini begitu menyengat. Tak kenal kompromi. Tak peduli dengan semua orang yang ada di bumi ini yang sudah kegerahan bak cacing kepanasan. Menggeliat. Ku persilahkan penumpang masuk setelah sampai di depan kampus PGRI tempat Sinta kuliah dulu yang sekarang sudah pindah ke luar kota.
            Jam menunjukkan pukul 1 siang itu artinya sip pekerjaanku sudah selesai dan di gantikan dengan pramugara yang lain. Saatnya pulang. Bisikku. Sesampainya di rumah. Aku langsung ke meja makan untuk makan siang yang sudah disiapkan ibu. Tanpa mengganti baju, langsung ku embat makanan yang ada di meja. Sungguh kebiasaan burukku makan dulu tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Sebelum hampir memasukkan makanan ku ke mulut, aku tertegun mendapati sepasang burung yang terbuat dari kertas yang tengah di mainkan adik kecilku yang usianya terpaut 15 tahun dariku. Ingatan ku kembali melihat sepasang burung yang di mainkan adikku, Nisa. Kertas itu mengingatkan ku dengan seseorang. Seseorang yang jauh di sana. Jauh di mataku tapi dekat di hatiku. Sangat dekat. Ku urungkan niat makan siang ku yang berubah menjadi tidak ada nafsu sama sekali untuk mencicipi masakan lezat ibuku. Ibu yang sedari tadi duduk sambil nonton tv seakan aneh melihat tingkahku. Seakan bertanya ada apa dengan anakku?
            Ku baringkan tubuh tegapku ke kasur empukku. Ku lihat foto yang tergeletak di meja samping kasurku. Nampak foto dua insan yang sedang memegang sepasang burung kertas. Ingatan ku kembali menyerbu otakku. Aku ingat dengan semua background dari secercik foto berfigura cokelat itu. Waktu itu, aku sedang bertandang ke rumah sinta untuk membantunya mengerjakan tugas kuliah sewaktu masih kuliah di kampus lama. Di tengah keseriusan Sinta dalam mengerjakan tugasnya, aku iseng bikin seekor burung kertas yang ku ambil dari binder milik Sinta yang nampak berwarna pink.
            “Bikin apa, beib? Daripada gak ada kerjaan mending bantuin aku ngerjain tugas proposal ini. Katanya mau bantuin aku? Gimana sih” ucap Sinta merengek manja.
            “Iya, ya. Tunggu dulu sayang aku lagi bikin sesuatu nih buat kamu” balasku tanpa menoleh ke arahnya dan lebih memilih fokus melipat-lipat kertasmembuat sesuatu untuk sang pujaan hati. Sinta hanya terpaku melihat kepiawaianku membuat sesuatu yang dia belum ketahui.
            “ Taraaaa...... ini buat kamu sayang” ucap ku sambil menyodorkan burung kertas yang telah ku buat lalu mengecup indah keningnya.
            “Makasih ya, beib. Tapi kok cuma satu? Pasangannya mana?” balas Sinta menatapku
            “Yang satunya kamu yang bikin dong, tapi jangan pake kertas warna pink ya sayang.” Balasku mengacak-ngacak indah rambutnya.
            Ingatan itu masih terngiang-ngiang di otakku. Ingat sekali waktu aku mengajari dia membuat burung kertas itu, burung yang di buat dengan penuh perasaan dan penuh cinta. Aku kangen kamu sayang. Aku kangen masa-masa itu. masa di mana cinta kita semakin tumbuh subur dan berbunga indah layaknya sebuah tanaman. Aku kangen kamu sayang, desisku.
            Getaran di hatiku yang lama haus akan belaianmu.
            Seperti saat dulu, saa-saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini.
            Dan kau bisikkan kata-kata,
            Aku cinta kepadamu..
            Lagu itu mengalun indah di hatiku. Aku tak tahu kapan kau datang menemuiku. Apakah kau juga merindukanku? Jika benar, sama besarkah kerinduan yang kau rasakan seperti diriku?
            Seketika langit nampak murung tanpa keceriaan menghampirinya. Langit seakan dapat merasakan apa yang ku rasakan. Butiran-butiran debu melayang tak tentu arah pasrah di hempaskan oleh sang angin. Daun-daun riuh seakan meneriakkan kata rindu yang mewakili perasaanku akan rindu terhadapnya. Ku pejamkan mata lalu mengucapkan sesuatu. Angin, sampaikan rasa rinduku kepada seseorang yang jauh di sana, katakan bahwa aku merindukannya. Aku mendesis. Angin bertiup kencang seolah mendengar perkataanku dan bergegas menjalankan perintahku untuk menyampaikan salam rinduku ku untuknya.Rindu yang mendekap di dalam relung hatiku.