Sabtu, 15 November 2014

Cerpen Sebutir Debu dalam Genggaman Angin


Sebutir Debu dalam Genggaman Angin
By: Herdinata

            Sore yang muram. Sisa panas siang tadi membuat udara yang bercampur debu terasa gerah. Hijau daun seperti bunglon, menyerupai warna batang pohon, pucat disaput sinar mentari yang malas. Waktu seakan bergerak lamban bagai perahu yang tak dikayuh dan dibiarkan mengikuti arus. Ku langkahkan kaki ku dengan malas mengikuti arah mata kaki ini melangkah walau tak tahu harus ke manakah tubuh ini melaju? Di manakah langkah kaki ini akan terhenti? Adakah tujuan yang jelas yang akan menjadi tujuan dari kepergianku ini? Langkah dan pikiranku seakan berjalan tak tentu arah. Tas ransel yang ku bawa terasa amat berat seperti memikul ribuan batu cadas yang menggumpal. Tak terasa lelah menghampiri perjalananku yang tanpa arah maupun tujuan yang jelas ini. Peluhku berjatuhan karena tak mampu lagi menahan lelehan yang diakibatkan sinar mentari yang tak kenal kata kompromi di sore ini.
            Aku tak tahu langkah yang ku ambil ini benar ataukah tidak. Salahkah aku mengambil jalan yang membuat orang yang ku sayangi memikirkan dan mencemaskanku? Ah sebegitu tegakah diriku membuat mereka dirundung kesedihan? Durhakakah aku kepada mereka atas keegoisanku? Bukankah mereka juga egois? Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Aku ingin kebebasan dalam diriku. Apa itu salah? Tak maukah kalian memikirkan perasaanku sedikit saja? Ya, Sedikit saja? Sedikit saja sudah teramat berarti buatku. Ku rasa jalan yang ku ambil ini adalah benar! Batinku memberi support atas keputusanku ini.
            Sore ini merupakan puncak panas yang dipancarkan sang mentari tanpa ampun. Membuat peluhku berjatuhan tanpa permisi. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah taman kota yang baru ku kunjungi. Ku lihat anak-anak bermain riang disekitar taman. bermain dengan apa adanya tanpa ada beban yang menyelimutinya. Kontras dengan diriku yang sedang dirundung beban yang begitu berat. Begitu menyakitkan. Aku sadar jalan yang ku ambil ini adalah jalan yang kurang gentle. Pengecut. Lari dari masalah bukanlah suatu penyelesaian yang akan mempermudah suasana justru malah akan membuat permasalahan ini semakin rumit. Dan lebih parahnya lagi, aku sudah membuat orang yang kusayangi mengkhawatirkan keberadaanku ini. Di sebelah barat, dekat di pinggiran kolam ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan menikmati air mancur yang terdapat di tengah kolam. Perasaan iri menyelimutiku. Andaikan aku bisa seperti mereka, sepasang kekasih yang mereka pilih sesuai dengan nurani hatinya bukan karena ada campur tangan orang lain. Perasaan dari lubuknya yang terdalam. Kebebasan dalam memilih pasangan hidup. Aku tersentak mendengar suara handphone ku yang bergetar membuyarkan lamunanku akan sepasang kekasih yang sedang menikmati indahnya pemandangan taman. Lekas ku buka handphone-ku dan secepat kilat ku buka unlock handphone ku. “Sayangg, kamu di mana? Aku cariin di kantor gak ada? Di rumah juga sepi? Kamu ke mana beib? Aku rindu ;( “ bunyi pesan dari Nesa. Kekasihku. Dalam hati aku juga merindukanmu sayang, tapi apa dayaku. Kamu takkan pernah tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku mencoba memperjuangkan cinta kita. Cinta suci yang sekian lama kita bina. Dan aku tidak mau apa yang selama ini kita bina akan berakhir begitu saja. Hati ini takkan pernah rela. Mungkin langkah yang ku pilih ini bukan langkah yang dewasa. Tapi aku juga berhak menentukan seseorang yang mampu menemani masa tuaku. Maaf kan Sandy Ma, Pa. Mungkin dengan cara ini hati mama dan papa akan luluh dan membebaskan ku untuk memilih pasanganku sendiri bukan pilihan dari kalian. Maafkan aku. Batinku.
            Dreeettt.... dreettttt... ku lihat kesekian kalinya layar handphone ku, ternyata Nesa menelponku. Aku tahu dia sangat khawatir dengan keberadaanku. Dengan malas ku reject panggilan dari Nesa. Aku membuka tombol kunci di layar handphone ku dan langsung mengetik sebuah pesan. Pesan yang akan mengobati dan mengurangi kadar kekhawatiran Nesa, orang yang teramat ku sayangi. “Nesa sayang, kamu jangan khawatir dan mencemaskan keberadaanku. Aku baik-baik saja. Hanya perasaanku saja yang agak tak begitu enak. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku akan kembali jika waktunya sudah tiba. Satu hal yang ku minta darimu, jaga selalu hatimu buat aku. Aku yakin di lubuk hatimu yang paling dalam namaku sudah tertancap di dalam hatimu dan takkan pernah tergoyahkan walau banyak hal yang menghalangi dan mencoba merobohkan namaku di hatimu. Aku sayang kamu. Peluk cium. Kekasihmu, Sandy Dhirmawan”. Ku tekan tombol send. Ku harap dengan pesan ku tadi akan membuat perasaanmu sedikit lega. Bisikku.
            Aku terpekur mengingat kejadian kemarin, kejadian membuat satu beban dalam hidupku kembali lahir. Kejadian yang membuat emosi dan amarahku memberuak yang seakan-akan akan meledak layaknya gunung api yang hendak meletus.  Mama dan papa bersikeras memilih pasangan hidup buatku. Seorang anak tunggal dari orang yang berada. Sangat kontras dengan Nesa yang sederhana dan dari keluarga yang berkecukupan. Mereka tidak menyetujui hubungan kami yang selama ini telah kami bina dengan susah payah. Sebagai bentuk protesku, akhirnya aku mencoba menempuh jalanku sendiri dengan meninggalkan rumah dengan seenaknya tanpa mempedulikan mama, papa dan adikku Reza yang juga menyaksikan aksi adu mulut dan argumen kami bertiga yang memilih untuk diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
            Aku bergegas pergi dari taman yang sudah tidak lagi indah nan teduh. Mentari semakin menua dan gerbang sang malam akan segera terbuka. Aku masih melanjutkan langkahku yang tak tahu arah. Terombang-ambing layaknya debu yang beterbangan kala ditiup sang angin kemudian terempas. Jatuh. Remuk. Hancur berkeping-keping. Sebegitu memilukankah nasib sang debu kala dihempaskan oleh angin? Adakah yang mampu menolong sang debu dari kehancuran itu? Satu yang hal yang pasti bahwa walau debu itu telah terhempas keras ke batu jalanan tapi dia akan bangkit dari keterpurukkan yang menerpanya dengan bantuan sang angin sebagai dewa penolongnya. Membawa debu yang terhempas itu ke tempat yang indah. Jauh di lubuk hatiku, aku yakin suatu saat nanti mama dan papa akan merestui hubungan kami. Aku yakin.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Nice. q suka.

Nata Faldian ツ mengatakan...

makasih ud baca cerpenku ;)