Sebutir
Debu dalam Genggaman Angin
By: Herdinata
Sore
yang muram. Sisa panas siang tadi membuat udara yang bercampur debu terasa
gerah. Hijau daun seperti bunglon, menyerupai warna batang pohon, pucat disaput
sinar mentari yang malas. Waktu seakan bergerak lamban bagai perahu yang tak
dikayuh dan dibiarkan mengikuti arus. Ku langkahkan kaki ku dengan malas
mengikuti arah mata kaki ini melangkah walau tak tahu harus ke manakah tubuh
ini melaju? Di manakah langkah kaki ini akan terhenti? Adakah tujuan yang jelas
yang akan menjadi tujuan dari kepergianku ini? Langkah dan pikiranku seakan
berjalan tak tentu arah. Tas ransel yang ku bawa terasa amat berat seperti
memikul ribuan batu cadas yang menggumpal. Tak terasa lelah menghampiri
perjalananku yang tanpa arah maupun tujuan yang jelas ini. Peluhku berjatuhan
karena tak mampu lagi menahan lelehan yang diakibatkan sinar mentari yang tak
kenal kata kompromi di sore ini.
Aku
tak tahu langkah yang ku ambil ini benar ataukah tidak. Salahkah aku mengambil
jalan yang membuat orang yang ku sayangi memikirkan dan mencemaskanku? Ah sebegitu
tegakah diriku membuat mereka dirundung kesedihan? Durhakakah aku kepada mereka
atas keegoisanku? Bukankah mereka juga egois? Apa mereka tidak memikirkan perasaanku?
Aku ingin kebebasan dalam diriku. Apa itu salah? Tak maukah kalian memikirkan
perasaanku sedikit saja? Ya, Sedikit saja? Sedikit saja sudah teramat berarti
buatku. Ku rasa jalan yang ku ambil ini adalah benar! Batinku memberi support atas keputusanku ini.
Sore
ini merupakan puncak panas yang dipancarkan sang mentari tanpa ampun. Membuat
peluhku berjatuhan tanpa permisi. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah taman
kota yang baru ku kunjungi. Ku lihat anak-anak bermain riang disekitar taman.
bermain dengan apa adanya tanpa ada beban yang menyelimutinya. Kontras dengan
diriku yang sedang dirundung beban yang begitu berat. Begitu menyakitkan. Aku
sadar jalan yang ku ambil ini adalah jalan yang kurang gentle. Pengecut. Lari dari masalah bukanlah suatu penyelesaian
yang akan mempermudah suasana justru malah akan membuat permasalahan ini
semakin rumit. Dan lebih parahnya lagi, aku sudah membuat orang yang kusayangi
mengkhawatirkan keberadaanku ini. Di sebelah barat, dekat di pinggiran kolam
ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan menikmati air mancur yang terdapat
di tengah kolam. Perasaan iri menyelimutiku. Andaikan aku bisa seperti mereka,
sepasang kekasih yang mereka pilih sesuai dengan nurani hatinya bukan karena
ada campur tangan orang lain. Perasaan dari lubuknya yang terdalam. Kebebasan
dalam memilih pasangan hidup. Aku tersentak mendengar suara handphone ku yang bergetar membuyarkan
lamunanku akan sepasang kekasih yang sedang menikmati indahnya pemandangan
taman. Lekas ku buka handphone-ku dan
secepat kilat ku buka unlock handphone ku. “Sayangg, kamu di mana? Aku cariin di kantor gak ada? Di rumah juga
sepi? Kamu ke mana beib? Aku rindu ;( “ bunyi pesan dari Nesa. Kekasihku.
Dalam hati aku juga merindukanmu sayang, tapi apa dayaku. Kamu takkan pernah tahu
apa yang kurasakan saat ini. Aku mencoba memperjuangkan cinta kita. Cinta suci yang
sekian lama kita bina. Dan aku tidak mau apa yang selama ini kita bina akan
berakhir begitu saja. Hati ini takkan pernah rela. Mungkin langkah yang ku
pilih ini bukan langkah yang dewasa. Tapi aku juga berhak menentukan seseorang
yang mampu menemani masa tuaku. Maaf kan Sandy Ma, Pa. Mungkin dengan cara ini
hati mama dan papa akan luluh dan membebaskan ku untuk memilih pasanganku
sendiri bukan pilihan dari kalian. Maafkan aku. Batinku.
Dreeettt....
dreettttt... ku lihat kesekian kalinya layar handphone ku, ternyata Nesa menelponku. Aku tahu dia sangat
khawatir dengan keberadaanku. Dengan malas ku reject panggilan dari Nesa. Aku membuka tombol kunci di layar handphone ku dan langsung mengetik
sebuah pesan. Pesan yang akan mengobati dan mengurangi kadar kekhawatiran Nesa,
orang yang teramat ku sayangi. “Nesa
sayang, kamu jangan khawatir dan mencemaskan keberadaanku. Aku baik-baik saja.
Hanya perasaanku saja yang agak tak begitu enak. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku
akan kembali jika waktunya sudah tiba. Satu hal yang ku minta darimu, jaga
selalu hatimu buat aku. Aku yakin di lubuk hatimu yang paling dalam namaku
sudah tertancap di dalam hatimu dan takkan pernah tergoyahkan walau banyak hal
yang menghalangi dan mencoba merobohkan namaku di hatimu. Aku sayang kamu.
Peluk cium. Kekasihmu, Sandy Dhirmawan”. Ku tekan tombol send. Ku harap dengan pesan ku tadi
akan membuat perasaanmu sedikit lega. Bisikku.
Aku
terpekur mengingat kejadian kemarin, kejadian membuat satu beban dalam hidupku
kembali lahir. Kejadian yang membuat emosi dan amarahku memberuak yang
seakan-akan akan meledak layaknya gunung api yang hendak meletus. Mama dan papa bersikeras memilih pasangan
hidup buatku. Seorang anak tunggal dari orang yang berada. Sangat kontras
dengan Nesa yang sederhana dan dari keluarga yang berkecukupan. Mereka tidak
menyetujui hubungan kami yang selama ini telah kami bina dengan susah payah.
Sebagai bentuk protesku, akhirnya aku mencoba menempuh jalanku sendiri dengan
meninggalkan rumah dengan seenaknya tanpa mempedulikan mama, papa dan adikku
Reza yang juga menyaksikan aksi adu mulut dan argumen kami bertiga yang memilih
untuk diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Aku
bergegas pergi dari taman yang sudah tidak lagi indah nan teduh. Mentari
semakin menua dan gerbang sang malam akan segera terbuka. Aku masih melanjutkan
langkahku yang tak tahu arah. Terombang-ambing layaknya debu yang beterbangan
kala ditiup sang angin kemudian terempas. Jatuh. Remuk. Hancur berkeping-keping.
Sebegitu memilukankah nasib sang debu kala dihempaskan oleh angin? Adakah yang
mampu menolong sang debu dari kehancuran itu? Satu yang hal yang pasti bahwa
walau debu itu telah terhempas keras ke batu jalanan tapi dia akan bangkit dari
keterpurukkan yang menerpanya dengan bantuan sang angin sebagai dewa
penolongnya. Membawa debu yang terhempas itu ke tempat yang indah. Jauh di
lubuk hatiku, aku yakin suatu saat nanti mama dan papa akan merestui hubungan
kami. Aku yakin.
2 komentar:
Nice. q suka.
makasih ud baca cerpenku ;)
Posting Komentar