Belum
Saatnya
By: Herdinata
Langit sore ini nampak begitu indah bak bidadari turun dari khayangan.
Keringatku bercucuran karena terik mentari begitu menyengat di kala sore ini.
Ku sapu keringat yang menempel di wajahku dengan tissue. Ku lanjutkan aktivitas jogging
di sebuah taman yang terletak di depan hotel Swarna Dwipa yang ada di kotaku.
Aku berhenti sejenak dan berlutut di kakiku layaknya orang yang sedang
melakukan ruku’ saat shalat. Kemudian ku duduk di kursi yang ada di pinggir
taman untuk meredamkan keringat yang bercucuran dengan derasnya ke tubuhku.
“Gilaa... Capek juga” Gerutuku. Aku menatap lekat hotel yang ada tepat di
depanku sambil melihat-lihat segerombolan aktivitas di sana. Nampak mobil
keluar masuk menuju hotel. Salah satu hotel yang mewah dan berbintang yang ada
di kotaku. Aku tertegun melihat sebuah honda jazz berwarna hitam yang hendak
keluar meninggalkan hotel yang di kerumumin banyak orang. “Kenapa pada rame
gitu? Emang ada apa di sana? Aneh sekali” pikirku.
Dari kejauhan, ku lihat seorang cewek cantik, berkulit agak kecoklatan
memamerkan senyum yang nampak giginya berjejer rapi menyapa segerombolan orang
yang berada di dekat mobil yang ia tumpangi. Agnez....?? aku tercongak dan
sedikit mengangkat bahuku. Gak salah lagi itu benar Agnez, sesosok orang yang
ku kagumi dari dulu sampai sekarang namun baru kali ini aku bertemu dengannya.
Ku berlari sekencang-kencangnya. Sebuah mobil ngerem mendadak melihat ku yang
semberono menyeberangi jalan. Secepat kilat mobil yang di tumpangi Agnez sudah
menghilang.
Perasaan senang bercampur sedih karena hanya sekilas dapat memandang wajah
Agnez, orang yang ku kagumi, orang yang menginspirasiku. Apakah esok ia masih
berada di Palembang? Ataukah tadi adalah saat terakhirku melihat wajah
indahnya? Ku lihat billboard yang terpampang di depan hotel. Agnez Mo live in concert, tonight 7 P.M at
Center Stage Palembang. Ku lihat arlojiku menunjukkan tepat pukul 17.30
menit. Masih ada kesempatan untuk melihatnya perform di CS pikirku. Aku langsung menuju parkiran, mengambil
sebuah motor minimalisku, ku startir
dan langsung cabut ke CS untuk membeli tiket tanpa mengganti kostumyang tengah ku pakai.
Jalan macet di seputaran simpang Charitas, ingin balik arah rasanya tidak
mungkin. Sedangkan waktu berjalan terus. Aku berpacu dengan waktu dan gejolak
di dadaku. Ada rasa cemas menyelimutiku. Semoga tiketnya belum sold out. Semoga tikenya masih ada
untukku. Tuhan bantu aku, desisku tak henti-hentinya memandangi lampu lalu
lintas yang tak kunjung usai.
“Maaf mas, tiketnya udah sold out
setengah jam yang lalu.” Ucap penjaga tiket
“Apaaaaaa???? Seriusss mbak???? Ucapku tak percaya.“Kira-kira masih ada lagi
gak tambahan tiketnya?” balasku sedikit memelas.
“Maaf mas, ini sudah stok yanng terakhir. Maaf sekali.” Jawabnya ramah.
Hatiku seketika hancur seakan tubuh ku diterjang tsunami yang maha dahsyat.
Hancur berkeping-keping melebihi orang sedang putus cinta. Jika di suruh
memilih mending putus cinta daripada tidak bertemu dengan sosok orang yang
menginspirasiku. Aku melangkah kaku. Ku pandangi posteryang terletak di depan
CS. Ku raih gambar yang ada di poster tersebut. Apakah aku akan bertemu
denganmu malam ini? Melihat aksi mu di atas panggung secara live? Aku menggerutu dalam hatiku.
Sembilu menusuk tulangku terasa sakit menyelimuti relung jiwaku.
Sejenak hatiku memberi support bahwa
hari esok masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya di hotel tempat ia
menginap. Kebetulan di sana ada temanku yang bekerja sebagai recepsionist hotel. Tapi kenapa dia
tidak memberitahuku kalau Agnez menginap di hotel tempat ia bekerja? Hmm..
Mungkin dia tidak mengetahui kalau Agnez menginap di hotel itu. Ku keluarkan handphone nokiaku dan mengetik sebuah
pesan.
Re, kamu tahu kan kalo Agnez nginep di hotel tempatmu bekerja?
Re, kamu tahu kan kalo Agnez nginep di hotel tempatmu bekerja?
Besok bantu aku buat ketemu sama dia, pleasssseeee! L
Ku klik send ke nomor Renata. Teman
SMAku dulu. Walaupun sekarang kami sudah tidak begitu dekat karena kesibukkan
masing-masing. Aku sibuk kuliah sedangkan dia sibuk kerja. Beberapa menit
kemudian handphone ku bergetar.
Mendapati SMS masuk balasan dari Renata, aku langsung membukanya.
“Oke, Yud.” J
Aku terseyum lega Renata mau membantuku. Semoga aku besok bisa ketemu kamu Nez,
bisikku sambil berlalu lalang dari tempat itu.
***
Mentari muncul kepermukaan, memberi cahaya pada setiap makhluk yang hidup di
bumi. Burung-burung bernyanyi riang, bersahut-sahutan bagaikan sepasang
kekasih. Angin bertiup mesra membelai wajahku yang mulus. Seolah terbuai oleh
belaian sang angin, aku terperanjat bangun melihat jam weker ku. “Astaga udah
jam 8.” Ucapku kaget. Ku lihat handphone
ku terdapat 8 missed calls dan 5 SMS
masuk dari Renata Aprilia. Ku buka pesan dari Renata.
“Yudha, kamu lagi di mana? Setengah jam lagi Agnez sama manajemennya mau check out dari sini. Buruannnn!!!” bunyi
pesan dari Renata beberapa menit yang lalu.
Ku bergegas menuju hotel tempat idolaku menginap untuk bertatap muka langsung,
berfoto, salaman, memeluknya, atau sekedar berbasa-basi dengannya. Pikiran ku
akan bertemu dengannya seakan hendak terwujud. “Hari ini adalah hari indah
buatku,” batinku.
“Re, Agnez nya mana?”
Yang ditanya hanya menatap lekat. Seolah hendak mengatakan sesuatu hal buruk
telah terjadi. Ada rasa sedih menyelimuti raut wajah temanku ini.
“Idola elo udah pergi, Yud. Kayaknya elo bakalan ngubur mimpi-mimpi lo
dalam-dalam. Tadi, aku gak sengaja ngedenger pihak manajemennya bilang untuk
beberapa bulan ke depan Agnez tidak tinggal di Indonesia tapi di negeri paman
sam sana.” Suara Renata nyaris tak terdengar.
Aku terduduk lengah di kursi lobi. Mengusapkan kedua telapak tanganku ke
wajahku. Menutupnya dalam-dalam tanpa pernah menguburnya. Butiran bening keluar
dengan lancangnya tanpa rasa malu menghampirinya. Ku seka air mataku sebelum
orang di sekelilingku mentertawakanku. Dalam hati, aku percaya suatu saatpasti
bisa ketemu dengannya lagi. Ini hanya soal waktu. Waktu yang akan
mempertemukanku dengan idolaku. Idola yang selalu menginspirasi hidupku. Aku yakin, bisikku.
#I
love Agnes Monica#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar