Kapas yang Usang
Oleh: Herdinata
Malam ini menjadi malam yang amat
indah buat ku. Malam yang sangat specialdari
biasanya. Bintang-bintang seakan ikut merasakan apa yang ku rasakan.
Kunang-kunangpun demikian, menari kesana kemari seakan ikut merayakan kebahagiaan
yang aku rasakan. Betapa tidak, hari ini aku menemukan pria idamanku yang ku
impikan selama ini.
Aku Elsa, siswi SMA kelas tiga di
salah satu sekolah negeri yang ada di kotaku. Dari segi ekonomi, aku termasuk orang yang berkecukupan.
Fasilitas yang ku punya pun kurasa cukup untuk cewek seumuranku. Papa seorang
dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini dan mama seorang guru
di SMA ku.
**
Hari menunjukkan pukul setengah
delapan, burung-burung sudah lebih dulu bangun untuk jalan-jalan atau sekedar
mencari sarapan pagi. Mentari sudah berhasil menaikkan ratingnya ke permukaan,
sinarnya menyelinap masuk ke kamarku yang tampak ber-cat biru langit itu.
Seakan memaksaku untuk bangun dari pulau kapukku. Aku pun terpaksa mengusap
mataku yang tampak kecoklatan dengan tanganku diiringi uapan nafasku yang
sendu.
Tok
tok tok..!!!
“Bangun non, udah jam setengah delapan lebih non!” teriak bik Sum.
“Bangun non, udah jam setengah delapan lebih non!” teriak bik Sum.
“Apa??? Kenapa bibi baru bangunin
Elsa sih bik, telat lagi deh ke sekolahnya” gerutuku memarahi bik Sum.
“Udah
puluhan kali bibi bangunin enon, tapi non nya kagak bangun-bangun” balas bik
Sum.
Sungguh menjadi kebiasaanku bangun
telat seperti ini, ini karena aku terkena penyakit insomnia dan sampai sekarang
ini aku tidak tahu obatnya. Aku bergegas bangkit dari kasur ku dan berlari
menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah.
**
SMA Pelita Harapan Jakarta. Itulah nama SMA
ku. SMA swasta yang penuh dengan prestasi. Di sekolah ini juga artis idolaku
Agnes Monica bersekolah. Kalian pasti tau kan?? Artis multitalent dengan
segudang prestasi baik di bidang akademik maupun karir entertainnya. Ku parkir
kan mobil biruku dan langsung ku percepat langkahku untuk sampai ke kelas
dengan harapan aku tidak di usir lagi dan dapat mengikuti pelajaran seperti
biasa.
“Permisi
bu, ucapku dengan nada ngos-ngosan.
“Masuk,
silahkan duduk” balas bu Yuni dengan nada agak marah.
Hmmm,,
syukur deh aku gak di kelurin dan bisa ngikutin pelajaran bu Yuni ini , ucapku
seraya menuju ke tempat dudukku
“Eh, Sa, kayaknya hampir setiap hari deh loe telatnya, emang gak kapok lho di usir dan gak boleh ikut pelajaran jam pertama? Trus bu Yuni juga tumben banget ngebolehin loe masuk, ungkap Sinta heran.
“Eh, Sa, kayaknya hampir setiap hari deh loe telatnya, emang gak kapok lho di usir dan gak boleh ikut pelajaran jam pertama? Trus bu Yuni juga tumben banget ngebolehin loe masuk, ungkap Sinta heran.
“Iya
nih, make pelet apaan loe? Timpal Fanny.
“Hehh, jahat banget kalian. Bukannya seneng temannya bisa masuk dan ngikutin pelajaran ini malah heran-heran gak jelas, balasku agak marah.
Bukannya gitu Sa, kapan sih loe berubah dan gak telat terus? Loe ini kan anak seorang dosen sekaligus anak seorang guru di SMA ini masa kelakuan loe kayak gitu? Mau sampe kapan?, ucap Fanny menggelengkan kepala.
“Hehh, jahat banget kalian. Bukannya seneng temannya bisa masuk dan ngikutin pelajaran ini malah heran-heran gak jelas, balasku agak marah.
Bukannya gitu Sa, kapan sih loe berubah dan gak telat terus? Loe ini kan anak seorang dosen sekaligus anak seorang guru di SMA ini masa kelakuan loe kayak gitu? Mau sampe kapan?, ucap Fanny menggelengkan kepala.
Aku
hanya mengangkat bahu.
Di sekolahku, aku cukup menjadi
primadona idaman setiap laki-laki. Banyak yang antri untuk menjadi pacarku tapi
aku tidak tertarik sama mereka padahal banyak juga yang cakep, manis dan juga
tajir tapi mereka tidak menarik di mataku. Kadang aku berpikir untuk tidak
milih-milih dalam hal mencari pacar tapi mau gimana lagi kalo hatiku tidak
sedikitpun tertarik sama mereka. Gak ada gunanya memaksakan hati untuk
mencintai seseorang. Bukankah cinta itu gak boleh di paksakan bukan?
Bel berbunyi pertanda istirahat. Aku
sejenak merefreskan otak dari pelajaran yang menguras pikiran. Aku dan kedua
sahabatku langsung keluar kelas dan menuju kantin langganan kami. Aku lalu
memesan bakso daging favoritku lengkap dengan segelas jus jeruk yang juga
menjadi favoritku. Aku terdiam ketika aku melihat cowok yang sangat cool dan
menarik di mataku. Sesosok cowok yang idaman semua wanita. Banyak cowok yang
keren dan lebih tampan dari dia tapi yang ini beda, ia memiliki kharisma
tersendiri, memiliki faktor X yang lebih di mataku. Mataku terpukau melihat
gaya nya yang maskulin.
Ssutttt....
Siap tuh?, sahutku.
“yang
mana?, balas Sinta.
“itu cowok yang duduk di belakang loe.
“Itu Reifan. Anak IPA. Kamu gak tau?
“Gak tuh, kok gue baru tau ya?
“itu cowok yang duduk di belakang loe.
“Itu Reifan. Anak IPA. Kamu gak tau?
“Gak tuh, kok gue baru tau ya?
“Iya
lah kamu kan sering telat mulu ke sekolah. Gak sempat liat si ganteng deh” ejek
si Fanny.
“Dia
kan sering tuh pagi-pagi lewat kelas kita walaupun kelas kita berjauhan dari
kelasnya” imbuh Sinta.
“emang
kelasnya dimana? IPA berapa?
“itu kelas yang paling ujung, denger-denger sih dia IPA satu.
“anak IPA? Emang ada ya anak IPA sekeren itu? Bukannya anak Ipa itu semunya culun-culun ya?
“itu kelas yang paling ujung, denger-denger sih dia IPA satu.
“anak IPA? Emang ada ya anak IPA sekeren itu? Bukannya anak Ipa itu semunya culun-culun ya?
“Hello,
banyak juga kali anak ipa yang cakep dan juga keren” balas Fanny.
Perhatianku, mataku seakan terhipnotis dengan sosok Reifan. Tak pernah aku memperhatikan cowok seintensif ini layaknya seorang detektif yang sedang mencari sesuatu. Cowok ini misterius di mataku bagaimana tidak ketika semua orang mengejar diriku tapi dia malah tidak, bahkan aku belum pernah melihat cowok ini sebelumnya.
Perhatianku, mataku seakan terhipnotis dengan sosok Reifan. Tak pernah aku memperhatikan cowok seintensif ini layaknya seorang detektif yang sedang mencari sesuatu. Cowok ini misterius di mataku bagaimana tidak ketika semua orang mengejar diriku tapi dia malah tidak, bahkan aku belum pernah melihat cowok ini sebelumnya.
**
Hari sudah semakin siang ku startir
mobil dan aku langsung tancap gas pulang ke rumah. Di perjalanan, aku
memikirkan sosok Reifan. Orang yang mampu menyedot perhatianku. Orang yang
mengubah hidupku. Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar ku tanpa
menghiraukan tawaran bik Sum yang menawarkan makan siang. Bagaimana tidak
pikiran ku telah di kuasai cowok yang bernama Reifan. Bahkan aku terkadang
tersenyum kecil jika terbayang akan sosok Reifan.Senyumnya, gayanya, cool
banget.
Mentari sudah makin menua, berwarna
kuning keemasan. Pertanda hari sudah semakin sore. Aku berjalan menuju ruang santaiku
yang terletak di samping kamarku. Ku lihat pemandangan di sekeliling rumahku, sesekali
aku melihat ke arah langit yang tampak berwarna biru. Di langit itu, nampak ada
bayangan seorang cowok, iya.. Dia Reifan. Cowok yang membuat aku jatuh cinta
dan membuka kembali hatiku lagi setelah sekian lamanya.
**
Hari mulai pagi, burung-burung
seakan gembira melihat aku yang tidak lagi bangun kesiangan, mentari pun seakan
marah karena aku yang lebih dulu bangun ketimbang dia. Semua orang aneh
melihatku yang bangun duluan dari biasanya, semua terkejut karena aku tiba
duluan di meja makan untuk sarapan ketimbang papa dan mamaku. Rasa-rasanya baru
hari ini aku sarapan bersama dengan kedua orang tuaku. Anehnya lagi aku bahkan
meminta mamaku untuk pergi bareng ke sekolahan. Mama hanya mengangguk heran.
Pasti mereka berfikir setan apa yang merasuki aku sampai aku berubah drastis
seperti ini. Aku hanya senyum kecil melihat kebingungan di mata mereka.
Jam menunjukkan pukul 07:15 menit.
Semua orang melihat ke arah ku dan mamaku. Mereka seakan aneh karena selama ini
aku dan mamaku tidak pernah berangkat bareng, terlebih aku juga sering telat ke
sekolahan. Lucu ya mereka, bisikku. Tanpa mempedulikan mereka aku langsung
mengantarkan mamaku ke ruang guru. Selesai pamit dan mencium tangan dan kedua
pipi mama, aku langsung menuju ke ke kelasku, ku toleh ke belakang ku lihat
mama kembali terlihat bingung akan sikapku, aku hanya terseyum simpul.
Sesampainya di kelas, ku lihat kelas masih tampak sepi yang ada hanya beberapa
orang, sahabatku ku Sinta dan Fanny pun juga belum juga datang. Demi membunuh
waktu, aku pergi ke taman yang ada di sekolahku. Tumben ya Sinta sama Fanny
belum datang. Resek nih mereka. Gumamku.
Taman yang sejuk nan indah, banyak bunga yang sedang bermekaran, sinar mentari yang memancar seakan menambah keindahan bunga yang berwarna merah hati itu. Di kejauhan ku lihat cowok yang sedang bermain basket di bawah sinar mentari pagi. Bukannya itu cowok yang ku perhatikan kemarin ya? Ku sipitkan mataku supaya lebih jelas aku melihatnya dan ternyata benar itu cowok yang kemarin ku lihat di kantin. udah ganteng, manis, cool, jago basket lagi, pujiku.
Taman yang sejuk nan indah, banyak bunga yang sedang bermekaran, sinar mentari yang memancar seakan menambah keindahan bunga yang berwarna merah hati itu. Di kejauhan ku lihat cowok yang sedang bermain basket di bawah sinar mentari pagi. Bukannya itu cowok yang ku perhatikan kemarin ya? Ku sipitkan mataku supaya lebih jelas aku melihatnya dan ternyata benar itu cowok yang kemarin ku lihat di kantin. udah ganteng, manis, cool, jago basket lagi, pujiku.
“Boleh
bagi minumnya?,
Cowok yang ku kuketehui namanya
Reifan itu membuyarkan lamunanku.
“oh
boleh, nih tapi maaf Cuma ada satu.
Ohh,
gpp. Tumben kamu datang pagi? Hari yang emang sudah siang atau kamu yang
kepagian ya?, candanya.
Oh
tuhan, ternyata dia tau sama aku dan sering merhatiin aku juga ternyata,
senangnya,” ucap batinku.
“Aku
reifan, Reifan Adinata.” Ucanya.
“Elsa,”
Aku deg-degan ketika berjabat tangan
dengannya, senyum yang ia lontarkan layaknya sebuah pistol yang langsung
menembus jantungku, tapi bukan rasa sakit yang kurasakan justru sebaliknya rasa
cinta yang teramat sangat.
Sebuah suara menghentikan suasana
yang belum inginku akhiri ini. Suara yang menuntut untuk menghentikan segala
aktifitas dan segera masuk ke sangkar untuk mendapatkan sebuah makanan yaitu
sebuah pelajaran. Bell sialan, gak tau apa orang sedang berduaan juga, gerutuku
kesal.
Aku langsung menuju ke kelas bersama
Reifan. Dia menggenggam tanganku. Aku hanya tersenyum. Berlari kecil di iringi
dengan senyuman dan tawa. Melintasi anak-anak tangga menuju ke lantai dua.
Sampai akhirnya kita berpisah arah. Kelas ku di sebelah ujung kanan dan dia di
sebelah ujung kiri. Memang kita tidak satu jurusan. Aku IPS sedangkan dia IPA.
Jam pertama pelajaran sejarah di
mulai, ini merupakan pelajaran yang paling membosankan menurutku. Pelajaran
yang menurutku tidak begitu penting. Untuk apa coba mempelajari hal yang berbau
dengan masa lalu? Aku benci dengan masa lalu. Ketika ibu Nisa menjelaskan
pelajaran, aku meminta izin untuk ke toilet, bu Nisa pun mengizinkan aku untuk
ke toilet dengan satu syarat jangan terlalu lama. Ku berjalan dengan santai
menuju toilet yang berada di tengah perbatasan kelas IPS dan IPA. Ku langkahkan
kakiku memasuki toilet, memori ingatan ku teringat akan sosok Reifan. Apalagi
kejadian tadi pagi. Kenapa aku mikirin dia terus ya? Setibanya di toilet aku
langsung masuk ke toilet cowok tanpa baca lagi tulisan yang ada di pintu toilet.
Karena otakku tidak bisa berfikir dengan jernih, pikiranku telah di kuasai oleh
Reifan. Aku mencuci mukaku dengan air kubuka mataku, ku lihat samar-samar di
kaca dan ku perhatikan dari balik kaca itu. Oh tuhan, Reifan?? Ku kucek-kecek
mataku untuk memastikan apa yang kulihat. Cowok yang ku taksir bermesraan
dengan seorang laki-laki lain. Tidakk mungkin!! Ucapku berteriak dan lari
keluar. Reifan yang sedari tadi berada di toilet tidak menyadari kalo ada
seorang cewek yamg masuk ke dalam toilet itu.
“Oh,
tuhan apa yang dia lakukan? Apa yang dia perbuat? Apa salahku tuhan? Kenapa
orang yang ku cintai berbuat seperti itu? Apakah dia....? ahh tidakkk, batinku
berteriak sekencang-kencangnya di iringi dengan lelehan yang keluar dari
pelupuk mataku.
Angin bertiup kencang, daun-daun
dengan pasrahnya berpisah dari batangnya, butiran-butiran debu pun melayang terombang-ambing
tak tentu arah mengikuti sang angin. Langitpun seakan ikut menangis merasakan
apa yang aku rasakan saat ini. Kecewa, sedih, bingung dan masih banyak lagi
yang aku rasakan saat ini. Bagaikan terkena panah cinta yang begitu
menyakitkan. Aku bagaikan kapas yang hambar dan terkulai lesu. Berkalang awan
yang kelabu dan usang. Tuhan apa salahku? Kenapa dia melakuakan hal itu ? sesungguhnya
aku tidak rela jika dia menjalin hubungan dengan sesamanya. Aku tidak rela. Ucapku
berteriak diiringi suara petir yang mencekam.
#END