Jumat, 04 April 2014

Cerpen Percintaan: Kapas Yang Usang



Kapas yang Usang
 Oleh: Herdinata

          Malam ini menjadi malam yang amat indah buat ku. Malam yang sangat specialdari biasanya. Bintang-bintang seakan ikut merasakan apa yang ku rasakan. Kunang-kunangpun demikian, menari kesana kemari seakan ikut merayakan kebahagiaan yang aku rasakan. Betapa tidak, hari ini aku menemukan pria idamanku yang ku impikan selama ini.

            Aku Elsa, siswi SMA kelas tiga di salah satu sekolah negeri yang ada di kotaku.  Dari segi ekonomi, aku termasuk orang yang berkecukupan. Fasilitas yang ku punya pun kurasa cukup untuk cewek seumuranku. Papa seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini dan mama seorang guru di SMA ku.
**
            Hari menunjukkan pukul setengah delapan, burung-burung sudah lebih dulu bangun untuk jalan-jalan atau sekedar mencari sarapan pagi. Mentari sudah berhasil menaikkan ratingnya ke permukaan, sinarnya menyelinap masuk ke kamarku yang tampak ber-cat biru langit itu. Seakan memaksaku untuk bangun dari pulau kapukku. Aku pun terpaksa mengusap mataku yang tampak kecoklatan dengan tanganku diiringi uapan nafasku yang sendu.
            Tok tok tok..!!!
            “Bangun non, udah jam setengah delapan lebih non!” teriak bik Sum.
            “Apa??? Kenapa bibi baru bangunin Elsa sih bik, telat lagi deh ke sekolahnya” gerutuku memarahi bik Sum.
            “Udah puluhan kali bibi bangunin enon, tapi non nya kagak bangun-bangun” balas bik Sum.
            Sungguh menjadi kebiasaanku bangun telat seperti ini, ini karena aku terkena penyakit insomnia dan sampai sekarang ini aku tidak tahu obatnya. Aku bergegas bangkit dari kasur ku dan berlari menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah.
**
            SMA Pelita Harapan Jakarta. Itulah nama SMA ku. SMA swasta yang penuh dengan prestasi. Di sekolah ini juga artis idolaku Agnes Monica bersekolah. Kalian pasti tau kan?? Artis multitalent dengan segudang prestasi baik di bidang akademik maupun karir entertainnya. Ku parkir kan mobil biruku dan langsung ku percepat langkahku untuk sampai ke kelas dengan harapan aku tidak di usir lagi dan dapat mengikuti pelajaran seperti biasa.
            “Permisi bu, ucapku dengan nada ngos-ngosan.
            “Masuk, silahkan duduk” balas bu Yuni dengan nada agak marah.
            Hmmm,, syukur deh aku gak di kelurin dan bisa ngikutin pelajaran bu Yuni ini , ucapku seraya menuju ke tempat dudukku
            “Eh, Sa, kayaknya hampir setiap hari deh loe telatnya, emang gak kapok lho di usir dan gak boleh ikut pelajaran jam pertama? Trus bu Yuni juga tumben banget ngebolehin loe masuk, ungkap Sinta heran.
            “Iya nih, make pelet apaan loe? Timpal Fanny.
            “Hehh, jahat banget  kalian. Bukannya seneng temannya bisa masuk dan ngikutin pelajaran ini malah heran-heran gak jelas, balasku agak marah.
            Bukannya gitu Sa, kapan sih loe berubah dan gak telat terus? Loe ini kan anak seorang dosen sekaligus anak seorang guru di SMA ini masa kelakuan loe kayak gitu? Mau sampe kapan?, ucap Fanny menggelengkan kepala.
            Aku hanya mengangkat bahu.
            Di sekolahku, aku cukup menjadi primadona idaman setiap laki-laki. Banyak yang antri untuk menjadi pacarku tapi aku tidak tertarik sama mereka padahal banyak juga yang cakep, manis dan juga tajir tapi mereka tidak menarik di mataku. Kadang aku berpikir untuk tidak milih-milih dalam hal mencari pacar tapi mau gimana lagi kalo hatiku tidak sedikitpun tertarik sama mereka. Gak ada gunanya memaksakan hati untuk mencintai seseorang. Bukankah cinta itu gak boleh di paksakan bukan?
            Bel berbunyi pertanda istirahat. Aku sejenak merefreskan otak dari pelajaran yang menguras pikiran. Aku dan kedua sahabatku langsung keluar kelas dan menuju kantin langganan kami. Aku lalu memesan bakso daging favoritku lengkap dengan segelas jus jeruk yang juga menjadi favoritku. Aku terdiam ketika aku melihat cowok yang sangat cool dan menarik di mataku. Sesosok cowok yang idaman semua wanita. Banyak cowok yang keren dan lebih tampan dari dia tapi yang ini beda, ia memiliki kharisma tersendiri, memiliki faktor X yang lebih di mataku. Mataku terpukau melihat gaya nya yang maskulin.
            Ssutttt.... Siap tuh?, sahutku.
            “yang mana?, balas Sinta.
            “itu cowok yang duduk di belakang loe.
            “Itu Reifan. Anak IPA. Kamu gak tau?
            “Gak tuh, kok gue baru tau ya?
            “Iya lah kamu kan sering telat mulu ke sekolah. Gak sempat liat si ganteng deh” ejek si Fanny.
            “Dia kan sering tuh pagi-pagi lewat kelas kita walaupun kelas kita berjauhan dari kelasnya” imbuh Sinta.
            “emang kelasnya dimana? IPA berapa?
            “itu kelas yang paling ujung, denger-denger sih dia IPA satu.
            “anak IPA? Emang ada ya anak IPA sekeren itu? Bukannya anak Ipa itu semunya culun-culun ya?
            “Hello, banyak juga kali anak ipa yang cakep dan juga keren” balas Fanny.
            Perhatianku, mataku seakan terhipnotis dengan sosok Reifan. Tak pernah aku memperhatikan cowok seintensif ini layaknya seorang detektif yang sedang mencari sesuatu. Cowok ini misterius di mataku bagaimana tidak ketika semua orang mengejar diriku tapi dia malah tidak, bahkan aku belum pernah melihat cowok ini sebelumnya.
**
            Hari sudah semakin siang ku startir mobil dan aku langsung tancap gas pulang ke rumah. Di perjalanan, aku memikirkan sosok Reifan. Orang yang mampu menyedot perhatianku. Orang yang mengubah hidupku. Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar ku tanpa menghiraukan tawaran bik Sum yang menawarkan makan siang. Bagaimana tidak pikiran ku telah di kuasai cowok yang bernama Reifan. Bahkan aku terkadang tersenyum kecil jika terbayang akan sosok Reifan.Senyumnya, gayanya, cool banget.
            Mentari sudah makin menua, berwarna kuning keemasan. Pertanda hari sudah semakin sore. Aku berjalan menuju ruang santaiku yang terletak di samping kamarku. Ku lihat pemandangan di sekeliling rumahku, sesekali aku melihat ke arah langit yang tampak  berwarna biru. Di langit itu, nampak ada bayangan seorang cowok, iya.. Dia Reifan. Cowok yang membuat aku jatuh cinta dan membuka kembali hatiku lagi setelah sekian lamanya.
**
            Hari mulai pagi, burung-burung seakan gembira melihat aku yang tidak lagi bangun kesiangan, mentari pun seakan marah karena aku yang lebih dulu bangun ketimbang dia. Semua orang aneh melihatku yang bangun duluan dari biasanya, semua terkejut karena aku tiba duluan di meja makan untuk sarapan ketimbang papa dan mamaku. Rasa-rasanya baru hari ini aku sarapan bersama dengan kedua orang tuaku. Anehnya lagi aku bahkan meminta mamaku untuk pergi bareng ke sekolahan. Mama hanya mengangguk heran. Pasti mereka berfikir setan apa yang merasuki aku sampai aku berubah drastis seperti ini. Aku hanya senyum kecil melihat kebingungan di mata mereka.
            Jam menunjukkan pukul 07:15 menit. Semua orang melihat ke arah ku dan mamaku. Mereka seakan aneh karena selama ini aku dan mamaku tidak pernah berangkat bareng, terlebih aku juga sering telat ke sekolahan. Lucu ya mereka, bisikku. Tanpa mempedulikan mereka aku langsung mengantarkan mamaku ke ruang guru. Selesai pamit dan mencium tangan dan kedua pipi mama, aku langsung menuju ke ke kelasku, ku toleh ke belakang ku lihat mama kembali terlihat bingung akan sikapku, aku hanya terseyum simpul. Sesampainya di kelas, ku lihat kelas masih tampak sepi yang ada hanya beberapa orang, sahabatku ku Sinta dan Fanny pun juga belum juga datang. Demi membunuh waktu, aku pergi ke taman yang ada di sekolahku. Tumben ya Sinta sama Fanny belum datang. Resek nih mereka. Gumamku.
            Taman yang sejuk nan indah, banyak bunga yang sedang bermekaran, sinar mentari yang memancar seakan menambah keindahan bunga yang berwarna merah hati itu. Di kejauhan ku lihat cowok yang sedang bermain basket di bawah sinar mentari pagi. Bukannya itu cowok yang ku perhatikan kemarin ya? Ku sipitkan mataku supaya lebih jelas aku melihatnya dan ternyata benar itu cowok yang kemarin ku lihat di kantin. udah ganteng, manis, cool, jago basket lagi, pujiku.
            “Boleh bagi minumnya?,
Cowok yang ku kuketehui namanya Reifan itu membuyarkan lamunanku.
            “oh boleh, nih tapi maaf Cuma ada satu.
            Ohh, gpp. Tumben kamu datang pagi? Hari yang emang sudah siang atau kamu yang kepagian ya?, candanya.
            Oh tuhan, ternyata dia tau sama aku dan sering merhatiin aku juga ternyata, senangnya,” ucap batinku.
            “Aku reifan, Reifan Adinata.” Ucanya.
            “Elsa,”
            Aku deg-degan ketika berjabat tangan dengannya, senyum yang ia lontarkan layaknya sebuah pistol yang langsung menembus jantungku, tapi bukan rasa sakit yang kurasakan justru sebaliknya rasa cinta yang teramat sangat.
            Sebuah suara menghentikan suasana yang belum inginku akhiri ini. Suara yang menuntut untuk menghentikan segala aktifitas dan segera masuk ke sangkar untuk mendapatkan sebuah makanan yaitu sebuah pelajaran. Bell sialan, gak tau apa orang sedang berduaan juga, gerutuku kesal.
            Aku langsung menuju ke kelas bersama Reifan. Dia menggenggam tanganku. Aku hanya tersenyum. Berlari kecil di iringi dengan senyuman dan tawa. Melintasi anak-anak tangga menuju ke lantai dua. Sampai akhirnya kita berpisah arah. Kelas ku di sebelah ujung kanan dan dia di sebelah ujung kiri. Memang kita tidak satu jurusan. Aku IPS sedangkan dia IPA.
            Jam pertama pelajaran sejarah di mulai, ini merupakan pelajaran yang paling membosankan menurutku. Pelajaran yang menurutku tidak begitu penting. Untuk apa coba mempelajari hal yang berbau dengan masa lalu? Aku benci dengan masa lalu. Ketika ibu Nisa menjelaskan pelajaran, aku meminta izin untuk ke toilet, bu Nisa pun mengizinkan aku untuk ke toilet dengan satu syarat jangan terlalu lama. Ku berjalan dengan santai menuju toilet yang berada di tengah perbatasan kelas IPS dan IPA. Ku langkahkan kakiku memasuki toilet, memori ingatan ku teringat akan sosok Reifan. Apalagi kejadian tadi pagi. Kenapa aku mikirin dia terus ya? Setibanya di toilet aku langsung masuk ke toilet cowok tanpa baca lagi tulisan yang ada di pintu toilet. Karena otakku tidak bisa berfikir dengan jernih, pikiranku telah di kuasai oleh Reifan. Aku mencuci mukaku dengan air kubuka mataku, ku lihat samar-samar di kaca dan ku perhatikan dari balik kaca itu. Oh tuhan, Reifan?? Ku kucek-kecek mataku untuk memastikan apa yang kulihat. Cowok yang ku taksir bermesraan dengan seorang laki-laki lain. Tidakk mungkin!! Ucapku berteriak dan lari keluar. Reifan yang sedari tadi berada di toilet tidak menyadari kalo ada seorang cewek yamg masuk ke dalam toilet itu.
            “Oh, tuhan apa yang dia lakukan? Apa yang dia perbuat? Apa salahku tuhan? Kenapa orang yang ku cintai berbuat seperti itu? Apakah dia....? ahh tidakkk, batinku berteriak sekencang-kencangnya di iringi dengan lelehan yang keluar dari pelupuk mataku.
            Angin bertiup kencang, daun-daun dengan pasrahnya berpisah dari batangnya, butiran-butiran debu pun melayang terombang-ambing tak tentu arah mengikuti sang angin. Langitpun seakan ikut menangis merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Kecewa, sedih, bingung dan masih banyak lagi yang aku rasakan saat ini. Bagaikan terkena panah cinta yang begitu menyakitkan. Aku bagaikan kapas yang hambar dan terkulai lesu. Berkalang awan yang kelabu dan usang. Tuhan apa salahku? Kenapa dia melakuakan hal itu ? sesungguhnya aku tidak rela jika dia menjalin hubungan dengan sesamanya. Aku tidak rela. Ucapku berteriak diiringi suara petir yang mencekam.
#END

2 komentar:

Anonim mengatakan...

good

Unknown mengatakan...

bagussss