Hening Di Ujung Senja
Oleh: Herdinata
Daun yang
tua.
berguguran
dan layu.
Seakan
kering di telan waktu.
Menuggu
datangnya tempat yang sejuk,
melebihi
kehidupan di dunia yang fana ini.
Tempat
apakah itu?
Semua berteriak ramai, berceloteh,
dan saling menghibur diri. Burung-burung seakan tak mau kalah, saling bersiulan
dan berdendang dengan merdunya. Seorang anak yang imut dan menggemaskan berlari
kecil ke arah ku. Wajah yang masih polos dan lugu, seperti tunas daun yang
tidak mengerti tentang artinya hidup. Tak tau betapa pentingnya hidup ini. Tak
mengerti apa itu artinya sebuah penyesalan. Aku terpekur mengenang kejadian
dulu di waktu aku masih muda. Masa di mana aku mulai memberi arti dalam hidup
ini.
Aku seorang wanita yang telah
berumur hampir satu abad. Wanita yang menyia-nyiakan masa mudanya, wanita yang
memberi noda dalam hidup ini. Wanita yang mungkin hidupnya belum bahagia di
kala muda. Wanita yang selalu di rundung kesedihan dan penyesalan yang amat
dalam. Kadang aku bertanya, kenapa penyesalan itu selalu datang di akhir. Kalau
saja waktu bisa di ulang aku mau memberi arti dalam hidup ini. Walau hanya
sesaat.
Aku terpekur membayangkan kejadian
di masa muda ku. Ini semua berawal dari perkenalan dengan seorang lelaki yang
sangat ku cintai, Angga Pradibyo. Perawakannya tampan, manis, baik di mataku
tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka menentang hubungan kami. Tanpa tahu letak
ketidak setujuan mereka. Beribu pertanyaan menyerbu pikiranku akan
ketidaksukaan mereka terhadap mas Angga. Setiap ku tanya alasan apa yang
menjadi kayu penghadang dalam hubungan kami. Mereka enggan memberiku jawaban.
Siang itu mentari diselimuti awan
hitam yang amat tebal, tak terlihat wajah mentari yang sangar itu. Aku
termenung sendiri memikirkan sosok idaman hatiku selama ini, sosok yang kelak
menjadi imamku, sosok yang menjadi teman hidupku, sosok orang menemani masa
tuaku. Namun sayang kisah percintaanku tidak semulus dengan apa yang aku
harapkan. Ada banyak kayu yang menghadang hubungan kami, beribu masalah yang
harus kami tempuh layaknya awan hitam tebal yang menyelimuti sang atap langit.
Begitu berat.
Hari ini hujan lebat, dedaunan
melayang tak tau arah. Cuaca yang tidak mendukung dan berbalik dengan apa yang
kurasakan saat ini. Saat dimana sebuah ikatan mempersatukan dua hati yang suci
ini. Meskipun tidak di restui oleh orang tuaku. Mereka menghadiri pernikahanku
dengan terpaksa. Sebegitu bencinya mereka sama mas Angga? Perasaan ku bercampur
aduk bagaikan sebuah es campur. Enak di pandang tapi keruh airnya. Aku tak bisa
membendung gejolak emosi yang ada di dalam diriku. Batinku seakan berteriak.
Apakah aku harus membatalkan pernikahanku? Apakah aku harus meninggalkan calon
suamiku ini? Aku bingung antara melanjutkan pernikahan ini apa lebih memilih
orang tuaku? Tapi aku percaya kelak nanti mereka pasti akan mengerti dengan
keputusan ku ini. Maafkan anakmu ini bila tidak menuruti apa yang kalian mau.
Aku hanya ingin menemukan kebahagiaanku yaitu hidup bersama dengan mas Angga
pria yang telah ku pilih untuk menemani masa tuaku.
Suasana pernikahanku sangat ramai,
sederhana tapi meriah tapi tidak dengan suasana hatiku. Bercampur aduk. Batinku
seperti bom yang sewaktu-waktu hendak meledak karena suasana yang tidak sesuai
dengan yang ku harapkan. Aku mengira kalau mama dan papaku menyetujui
pernikahanku ini tapi nyatanya
keinginanku itu tidak berbuah manis. Mereka masih belum menyetujui pernikahan
kami. Semua anggota keluarga setuju dengan pernikahanku tapi tidak dengan mama
dan papaku hati mereka tak bisa di luluhkan. Begitu keras dan teguh pendirian.
Tapi aku percaya lambat laun hati mereka akan bisa redup layaknya sebuah batu
yang apabila sering terkena butiran hujan akan mengikis dengan sendirinya.
Walaupun butuh lama untuk membuat batu itu terkikis. Itulah sebuah penantian.
Penantian sampai saat ini belum aku dapatkan. Pertanyaan-pertanyaan yang selama
ini ada di benakku yang belum menemukan jawaban. Sampai akhirnya aku lelah
menunggu jawaban atas pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menghantui ku.
Sebuah pertanyaan tentang ketidaksetujuan orang tuaku dengan pernikahan kami.
Pertanyaan itu sampai sekarang di umurku yang sudah tidak muda lagi ini selalu
menghantui otakku.
“Nek, napa meyamun?” ucap anak kecil
lucu dan menggemaskan membuyarkan lamunanku.
Anak dari
buah hati pernikahanku dengan mas Angga. Cucu yang sangat aku sayangi.
“Gak kok, ndi. Nenek gak melamun
kok. Sana gih main lagi sama kakak, mama dan papa kamu.
Penyesalan itu selalu datang
menggerogoti pikiranku. Kadang aku berfikir untuk mengikuti apa kehendak dari
mama dan papaku dulu. Harusnya aku patuh dengan perintah mereka. Aku menyesal
dengan semua ini. Aku menyesal menikah di usia muda. Padahal waktu dulu mama
dan papa ingin melihat aku menjadi seorang Polwan tapi aku malah menolak dan
lebih memilih untuk segera menikah. Mungkin itu alasan merek tidak menyetujui
pernikahanku yang telah kandas duluan di tengah jalan. Aku benci dengan semua
ini, muak dengan hidupku yang kelam ini. Hidup dengan orang yang ku kira akan
menemani aku di kala tua, tapi nyatanya usia pernikahan baru seumur jagung ia
malah meniggalkan diriku entah kemana perginya sosok orang paling ku benci itu.
Tragis sekali kisah percintaanku, dikhianati orang yang ku percaya bahwa ia
akan membahagiakan ku dan menemani ku saat usia sudah di ujung senja kelak. Tak
terasa butiran air mataku jatuh ke pipiku yang telah kecut dan keriput. Wajah
yang tak seindah dulu. Wajah yang penuh dengan penyesalan.
Suasana sore seperti ini mungkin
enak untuk santai ditemani awan sore yang sangat cerah begitupun dengan sang
mentari yang nampak indah meskipun sudah semakin menua sampai ia kembali ke
peraduannya. Tidak ada satupun yang bisa kulakukan. Yang bisa ku lakukan
sekarang hanya menunggu kehidupan yang kekal nanti dan meninggalkan dunia yang
fana ini. Dunia yang penuh dengan penyesalan. Dunia yang sangat keras. Mungkin
kembali ke yang maha kuasa adalah jalan terbaik untuk melupakan rasa penyesalan
ini. Penyesalan yang telah bertahun-tahun ini menghantui pikiranku.
Suasana
sore ini begitu senyap, hening tanpa ada satupun suara. Burung pun enggan untuk
mendendangkan suaranya yang merdu. Begitu pun angin,enggan untuk menghembuskan
nafasnya. Hening yang menyelimuti diriku di kala mentari yang semakin menua.
Aku bagaikan mentari yang setiap detiknya menunggu kembali ke peraduan tanpa ada
satupun orang yang dapat melihatnya. Tidak banyak yang bisa ku lakukan, aku hanya
menunggu waktu yang akan menjemput ku dengan membawa penyesalan ke alam yang
kekal nan indah kelak. Penyesalan yang senantiasa bersamaku di kala hening yang
menjemputku disaat usiaku yang sudah senja ini.
1 komentar:
amazing
Posting Komentar