Nata Faldian ツ
DREAM, believe, and make it happen! ツ Stay Strong!
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 15 November 2014
Cerpen Awan dan Ombak
Awan
dan Ombak
Oleh: Herdinata
Siang
itu matahari enggan menampakkan diri. Pepohonan seakan enggan meneruskan
hidupnya. Daun-daun yang sudah tua jatuh melayang dengan pasrah. Aku memosisikan
diri duduk di bawah pohon yang ada di taman kota dengan niat untuk mengusir penat
karena semua masalah sedang menimpaku. Kenapa masalah selalu datang kepadaku
tanpa permisi? Aku tahu bahwa tuhan memberi kita masalah itu karena tuhan
sayang sama kita para umatnya. Tapi kenapa masalah ini selalu datang bertubi-tubi?
Aku harus kuat. Aku tidak mau terlihat lemah di depan semua orang. Benar kata
pepatah kita harus kuat dari masalah yang sedang kita hadapi.
“Sayang
kamu ngapain di taman sendirian?” ucap Karin menepuk pundakku dan membuat
lamunanku terhempas entah kemana.
“Eh,
kamu sayang. Sejak kapan di sini?” balasku menoleh ke arah wajahnya yang manis.
“Baru
aja nyampe sayang. Tadi aku pulang kuliah gak sengaja liat kamu duduk di taman
ini. Kamu ngapain ke taman sendirian gini? Gak ngajak-ngajak lagi.” Karin
merengek manja.
“Maaf
ya sayang. Tadi kan kamu kuliah. Aku gak mau kamu bolos kuliah gara-gara
nemenin aku.” Ucapku lirih.
“Atau
mungkin kamu mau ketemu sama wanita lain?”
“Udah
deh sayang. Aku di sini gak ngapa-ngapain. Percaya deh sama aku. Aku gak
bakalan berani mengkhianati kamu.” Ucapku memegang bahu Karin pacarku.
“Semoga
aja apa yang kamu omongin itu benar.” Karin berdiri lalu hendak pergi meninggalkanku
seorang diri. Ini sifat yang paling tidak ku suka dari Karin. Dia adalah typical orang pencemburu dan terlalu over protektif. Masalah kecil
dibesar-besarkan.
“Tunggu
sayang, please kamu percaya sama aku!
Kariiiiiinnnnn......” teriakku. Ku segah saku ku dan ku ambil handphone. Angkat dong Karinn, angkat
teleponnya. Ah siallll. Gerutuku. Tolong dong Karin mengerti perasaanku
sekarang. Aku capek dengan sikap kamu ke aku. Aku capek. Desisku sambil meremas
rambut bagian depanku.
**
Angin
malam berhembus mesra tepat ke arah wajahku yang nampak kusut. Masalah seakan
tanpa hentinya menghampiri hidupku. Masalah di kantor, masalah mama dan papa
sekarang ditambah masalah percintaanku dengan Karin yang tak kunjung usai. Ku
rebahkan tubuhku ke kasurku yang nampak berwarna cokelat gelap. Dalam hati aku
berbisik “Karin jangan kayak anak kecil dong. Tolong ngertiin aku.” Batinku.
Selang beberapa menit setelah aku memikirkan dia, handphone-ku yang tergeletak di atas meja kerjaku berbunyi
mengalunkan sebuah nada yang sangat ku kenal pertanda ada pesan yang masuk.
Dengan sigap aku mengklik tombol pesan dan sesegera mungkin untuk membaca pesan
karena aku tahu pesan dari siapa yang masuk. Kariiiinnn. Bisikku.
Al, aku minta putus. Mungkin ini jalan yang
terbaik buat kita. Aku tahu kamu ga nyaman kan dengan aku? Maka dari itu, aku minta
hubungan kita ini berakhir!
Hatiku sontak
kaget membaca pesan yang membuatku tambah gundah gulana begini. Hatiku bagai
dilempar batu berukuran besar. Bisa-bisanya Karin berbicara seperti itu. Semudah
itukah dia meminta hubungan ini berakhir? Dengan nafas yang tak teratur aku
berniat menelpon Karin untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.
Jujur aku tidak mau kehilangan orang yang sangat ku sayangi. Pemilik hati nan
suci ini. Sang penguasa hatiku, Karin.
“Hallo,
Karin. Maksud kamu apa ngomong kaya gitu? Kamu lagi bercanda kan? Ka..kamu ga
bener-bener minta putus kan dari aku?” ucapku ditelpon saat Karin mengangkat
teleponku.
“Maaf,
Al. Aku ga nyaman lagi sama kamu. Aku muak dengan semua ini. Bukannya ini kan
yang kamu mau karena sikapku yang terlalu over
protektive ke kamu?” cerocos Karin dengan nada tegas.
“Ga
sayang. Aku ga mau putus sama kamu. Aku cinta sama kamu, Karin. Oke gini besok temui aku di cafe tempat kita sering nongkrong jam 2
siang. Aku tunggu kedatangan kamu.”
perintahku.
Tuutt..tutt..tutttttttt..
Karinn?? Kariiiinnn? Karinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn? Buggg. Suara bantingan handphone-ku yang ku buang dengan
ganasnya bak buak kelapa yang jatuh ke bumi. Karin kenapa kamu tega sama aku?
Aku ga habis pikir. Teriakku dengan volume tertinggi dari suaraku.
**
Siang
ini hatiku gelisah. Orang yang kutunggu-tunggu belum datang juga. Ku lihat
arlojiku sudah jam 2 siang lebih tapi sang pujaan hati ini belum juga muncul.
Apakah dia lupa dengan ucapanku semalam? Atau mungkin dia sengaja tidak mau
datang menemuiku. Apakah cintamu buatku sudah sirna? Semudah itukah? Karin,
pliss ke sini! Ucapku membatin. Hatiku semakin gelisah karena sosok orang yang
hendak kutemui tak kunjung datang. Orang sekitar tertawa dengan renyahnya
seolah-olah menertawakanku yang sedang dirundung kegelisahan. Waktu pun secepat
kilat berjalan dari biasanya. Tanpa terasa sudah satu jam lebih aku menunggu
Karin di sini tapi tak ku dapati sosok wanita pemilik hati ini. Dari balik
kaca, ku lihat awan putih sungguh cerah di tambah langit yang berwarna hijau. Sungguh
sempurna. Andai hubungan kita seperti itu Karin.
**
Laju
mobilku ku percepat tidak seperti biasanya. Satu yang ada dalam pikiranku,
Karin. Orang yang sangat kucintai terlepas dari sikap dia yang terlalu over protektif terhadapku. Aku tahu
Karin bersikap seperti itu karena dia takut kehilanganku. Tapi kenapa sekarang
dia malah dengan mudahnya melepaskanku? Apakah cintanya benar-benar sirna? Ku
percepat laju mobilku untuk sesegera mungkin sampai ke rumahnya. Aku ingin dia
menjelaskan alasan yang logis perihal putusnya hubungan kita ini.
“Maaf
den Aldo. Tadi non Karin nya pergi den” ucap bi Ima pembantunya Karin yang
sudah hampir 10 tahun bekerja di rumah Karin.
“Ke
mana perginya bi?” balasku dengan nafas tak teratur. Bi Ima hanya menggeleng.
Karin, kamu di mana sayang? Batinku. Ku lanjutkan perjalananku mencari Karin
orang yang teramat ku khawatirkan sekarang ini. Aku takut dia pergi jauh
meninggalkanku. Karin sayang, di mana kamu? please
jangan buat aku jadi khawatir gini! Desisku.
Di
sela-sela kesemerawutan pikiranku, terlintas kenangan indah yang ku lalui
bersama Karin di sebuah pantai Pasir Putih. Memandangi pantai nan indah,
menikmati panorama disekeliling pantai dan melihat deburan ombak yang
berkejar-kejaran tanpa hentinya membuat bibir pantai basah kuyup. Sungguh kenangan
indah itu masih segar di memori otakku. Selamanya tak akan pernah ku lupakan.
Apa mungkin dia di pantai Pasir Putih? Kupercepat mobilku dengan harapan agar
aku dapat menemukan Karin. Aku butuh penjelasan dari dia. Aku tidak rela jika
dia dengan mudahnya memutuskan hubungan ini. Sungguh aku tidak rela.
Diperjalanan
jalur provinsi, mataku lelah melihat jalanan yang tak kunjung sampai. Seakan
jalan yang ku lalui ini tidak ada ujungnya. Pikiranku juga tidak stabil lagi.
Ditikungan yang tajam mobilku tak dapat ku kendalikan dengan baik dan akhirnya
....... mobil yang ku kendalikan masuk ke dalam jurang dan aku terdampar dari
dalam mobil. Bagaikan sebutir debu yang terhempas ke bumi. Aku bermandikan
darah akibat kayu-kayu dan batu-batu yang menghempas tubuhku. Saat ku terbaring
lemah, ku lihat awan masih setia menemani sang langit biru. Ombak-ombak di
lautan masih dengan riangnya pergi kesana kemari. Sampai kapan pun awan dan
ombak tak akan pernah bersatu. Mungkin cinta kita begitu adanya Karin. Disisa
akhir hidupku yang sempit ini, aku mau kamu berada disampingku sayang menemaniku
sampai ajal menjemputku. Awan, tunggu aku di atas sana. Ombak, buatlah hati
orang ku sayangi bahagia saat melihatmu menari-nari di atas laut biru. Aku
sayang kamu, Karin.
Suasana
hening. Tak ada satupun suara yang terdengar lagi siang itu. Tak ada hembusan
mesra sang angin. Tak ada tarian dari pohon-pohon. Tak ada satupun daun yang
jatuh menemani tidur panjangku. Hanya aku seorang diri yang terkulai tak
bernyawa. Berharap awan putih menyambutku untuk terbang ke atas sana menuju
sang maha pemilik semesta alam.
#End
Cerpen Sebutir Debu dalam Genggaman Angin
Sebutir
Debu dalam Genggaman Angin
By: Herdinata
Sore
yang muram. Sisa panas siang tadi membuat udara yang bercampur debu terasa
gerah. Hijau daun seperti bunglon, menyerupai warna batang pohon, pucat disaput
sinar mentari yang malas. Waktu seakan bergerak lamban bagai perahu yang tak
dikayuh dan dibiarkan mengikuti arus. Ku langkahkan kaki ku dengan malas
mengikuti arah mata kaki ini melangkah walau tak tahu harus ke manakah tubuh
ini melaju? Di manakah langkah kaki ini akan terhenti? Adakah tujuan yang jelas
yang akan menjadi tujuan dari kepergianku ini? Langkah dan pikiranku seakan
berjalan tak tentu arah. Tas ransel yang ku bawa terasa amat berat seperti
memikul ribuan batu cadas yang menggumpal. Tak terasa lelah menghampiri
perjalananku yang tanpa arah maupun tujuan yang jelas ini. Peluhku berjatuhan
karena tak mampu lagi menahan lelehan yang diakibatkan sinar mentari yang tak
kenal kata kompromi di sore ini.
Aku
tak tahu langkah yang ku ambil ini benar ataukah tidak. Salahkah aku mengambil
jalan yang membuat orang yang ku sayangi memikirkan dan mencemaskanku? Ah sebegitu
tegakah diriku membuat mereka dirundung kesedihan? Durhakakah aku kepada mereka
atas keegoisanku? Bukankah mereka juga egois? Apa mereka tidak memikirkan perasaanku?
Aku ingin kebebasan dalam diriku. Apa itu salah? Tak maukah kalian memikirkan
perasaanku sedikit saja? Ya, Sedikit saja? Sedikit saja sudah teramat berarti
buatku. Ku rasa jalan yang ku ambil ini adalah benar! Batinku memberi support atas keputusanku ini.
Sore
ini merupakan puncak panas yang dipancarkan sang mentari tanpa ampun. Membuat
peluhku berjatuhan tanpa permisi. Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah taman
kota yang baru ku kunjungi. Ku lihat anak-anak bermain riang disekitar taman.
bermain dengan apa adanya tanpa ada beban yang menyelimutinya. Kontras dengan
diriku yang sedang dirundung beban yang begitu berat. Begitu menyakitkan. Aku
sadar jalan yang ku ambil ini adalah jalan yang kurang gentle. Pengecut. Lari dari masalah bukanlah suatu penyelesaian
yang akan mempermudah suasana justru malah akan membuat permasalahan ini
semakin rumit. Dan lebih parahnya lagi, aku sudah membuat orang yang kusayangi
mengkhawatirkan keberadaanku ini. Di sebelah barat, dekat di pinggiran kolam
ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan menikmati air mancur yang terdapat
di tengah kolam. Perasaan iri menyelimutiku. Andaikan aku bisa seperti mereka,
sepasang kekasih yang mereka pilih sesuai dengan nurani hatinya bukan karena
ada campur tangan orang lain. Perasaan dari lubuknya yang terdalam. Kebebasan
dalam memilih pasangan hidup. Aku tersentak mendengar suara handphone ku yang bergetar membuyarkan
lamunanku akan sepasang kekasih yang sedang menikmati indahnya pemandangan
taman. Lekas ku buka handphone-ku dan
secepat kilat ku buka unlock handphone ku. “Sayangg, kamu di mana? Aku cariin di kantor gak ada? Di rumah juga
sepi? Kamu ke mana beib? Aku rindu ;( “ bunyi pesan dari Nesa. Kekasihku.
Dalam hati aku juga merindukanmu sayang, tapi apa dayaku. Kamu takkan pernah tahu
apa yang kurasakan saat ini. Aku mencoba memperjuangkan cinta kita. Cinta suci yang
sekian lama kita bina. Dan aku tidak mau apa yang selama ini kita bina akan
berakhir begitu saja. Hati ini takkan pernah rela. Mungkin langkah yang ku
pilih ini bukan langkah yang dewasa. Tapi aku juga berhak menentukan seseorang
yang mampu menemani masa tuaku. Maaf kan Sandy Ma, Pa. Mungkin dengan cara ini
hati mama dan papa akan luluh dan membebaskan ku untuk memilih pasanganku
sendiri bukan pilihan dari kalian. Maafkan aku. Batinku.
Dreeettt....
dreettttt... ku lihat kesekian kalinya layar handphone ku, ternyata Nesa menelponku. Aku tahu dia sangat
khawatir dengan keberadaanku. Dengan malas ku reject panggilan dari Nesa. Aku membuka tombol kunci di layar handphone ku dan langsung mengetik
sebuah pesan. Pesan yang akan mengobati dan mengurangi kadar kekhawatiran Nesa,
orang yang teramat ku sayangi. “Nesa
sayang, kamu jangan khawatir dan mencemaskan keberadaanku. Aku baik-baik saja.
Hanya perasaanku saja yang agak tak begitu enak. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku
akan kembali jika waktunya sudah tiba. Satu hal yang ku minta darimu, jaga
selalu hatimu buat aku. Aku yakin di lubuk hatimu yang paling dalam namaku
sudah tertancap di dalam hatimu dan takkan pernah tergoyahkan walau banyak hal
yang menghalangi dan mencoba merobohkan namaku di hatimu. Aku sayang kamu.
Peluk cium. Kekasihmu, Sandy Dhirmawan”. Ku tekan tombol send. Ku harap dengan pesan ku tadi
akan membuat perasaanmu sedikit lega. Bisikku.
Aku
terpekur mengingat kejadian kemarin, kejadian membuat satu beban dalam hidupku
kembali lahir. Kejadian yang membuat emosi dan amarahku memberuak yang
seakan-akan akan meledak layaknya gunung api yang hendak meletus. Mama dan papa bersikeras memilih pasangan
hidup buatku. Seorang anak tunggal dari orang yang berada. Sangat kontras
dengan Nesa yang sederhana dan dari keluarga yang berkecukupan. Mereka tidak
menyetujui hubungan kami yang selama ini telah kami bina dengan susah payah.
Sebagai bentuk protesku, akhirnya aku mencoba menempuh jalanku sendiri dengan
meninggalkan rumah dengan seenaknya tanpa mempedulikan mama, papa dan adikku
Reza yang juga menyaksikan aksi adu mulut dan argumen kami bertiga yang memilih
untuk diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Aku
bergegas pergi dari taman yang sudah tidak lagi indah nan teduh. Mentari
semakin menua dan gerbang sang malam akan segera terbuka. Aku masih melanjutkan
langkahku yang tak tahu arah. Terombang-ambing layaknya debu yang beterbangan
kala ditiup sang angin kemudian terempas. Jatuh. Remuk. Hancur berkeping-keping.
Sebegitu memilukankah nasib sang debu kala dihempaskan oleh angin? Adakah yang
mampu menolong sang debu dari kehancuran itu? Satu yang hal yang pasti bahwa
walau debu itu telah terhempas keras ke batu jalanan tapi dia akan bangkit dari
keterpurukkan yang menerpanya dengan bantuan sang angin sebagai dewa
penolongnya. Membawa debu yang terhempas itu ke tempat yang indah. Jauh di
lubuk hatiku, aku yakin suatu saat nanti mama dan papa akan merestui hubungan
kami. Aku yakin.
Cerpen Persahabatan: Mutiara yang Hilang
Mutiara
yang Hilang
By:
Herdinata
Hari
senin, di pagi yang cerah nampak segerombolan sahabat yang tengah asik berjalan
dengan santai menuju ke kelas. Empat orang yang selalu bersama-sama, baik dalam
suka maupun duka. Mereka adalah Rara, Sinta, Santo, dan Yudi. Mereka saling
terbuka satu sama lain. Mereka berkomitmen, jika salah satu dari mereka ada
masalah tidak boleh ditutup-tutupin seperti peribahasa
ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Dibawah terik mentari yang begitu
menyengat, akan segera dilaksanakan sebuah acara wajib setiap sekolah yakni
upacara penaikkan bendera. Semua siswa wajib ikut serta termasuk empat sahabat
ini.
“Eh
guys, cepet dikit jalannya upacaranya udah mau di mulai tuh.” Ucap Rara.
“Sabar
kali neng,” balas Santo. Sinta dan Yudi hanya memadangi Santo yang nampak
cemberut.
Upacara
selesai begitu cepat. Cuaca yang panas membuatku sulit berbicara karena
tenggorokkan ku yang belum dibasahi oleh segelas air. Rasanya mau pingsan
ngejalanin upacara ini. Matahari era sekarang sama era dulu sepertinya jauh
berbeda ketika ku membayangkan cerita orang tuaku yang menceritakan masa mudanya.
Ku usap wajah manisku dengan kedua telapak tanganku. Ingin rasanya nyebur ke
empang atau ke laut sekaligus saking panasnya pagi ini. Aneh memang, masih pagi
tapi sudah sepanas ini cahaya yang dipancarkan sang mentari.
Selesai
upacara, aku dan sahabat karibku pergi kantin yang ada di sekolahku untuk
menyirami tenggorokkanku yang tengah dilanda kemarau. Ku ambil satu gelas air mineral
yang ada di tempat pendingin. Secepat kilat rasa haus yang menjalar di
tenggorokkan ku berubah menjadi segar layaknya tanah kering yang disiram air
hujan. Sejuk rasanya.”Eh guys, ke kelas yuk! Ntar ada Pak Nata nih. Kalian
mau......” ucapku sambil menyeruput habis air mineralku.
“Ntar
aja ah,, bilang aja kita ke kantin. Pasti Pak Nata bakalan ngerti kok” celetuk
Santo memotong pembicaraanku. Diantara kami berempat, Santo yang paling malas,
sering terlambat masuk. Padahal sudah beribu-ribu kali nasehat terlontar dari
mulut kami tapi hasilnya malah nihil. Entah kapan dia akan berubah.
Beberapa
minggu lagi ujian semester akan dilaksanakan. Satu masalah muncul dalam
benakku. Masalah yang menjadi beban dalam hidupku. Bagaimana aku bisa membayar
iuran buat semesteran nanti. Syarat buat mengikuti ujian semester dengan
melunasi kegiatan administrasi sekolah yaitu membayar iuran. Entah uang dari
mana bisa membayar iuran itu. Aku berharap ayah dan ibu masih ada simpanan
uang. Entah sampai kapan hidupku seperti ini, hidup dilanda kesusahan. Tapi aku
masih beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu menghiburku,
pikirku sambil tersenyum getir melihat mereka.
“Hei,
Ra. Kamu kenapa? Kayak ada masalah yang sedang kamu sembunyiin. Ada apa?”
sentak Sinta menyergapku. Aku menggeleng sambil melemparkan senyum seolah memberi
pertanda tidak ada masalah yang serius yang tengah melandaku.
**
Angin
malam berhembus mesra. Rembulan yang amat cerah memamerkan pesona yang ia
pancarkan membuat setiap hamparan manusia yang melihatnya berdecak kagum.
Begitu indah dipandang mata. Tapi masalah yang harus ku hadapi tak secerah
purnama malam yang tampak tenang tanpa ada masalah yang menerpanya. Perasaan
bingung melandaku bagaimana mengutarakan hal ini pada ayah dan ibuku. Aku tahu
mereka pasti belum memiliki uang. Untuk makan saja selalu kekurangan. Batinku
seakan berteriak begitu betahnya kemiskinan menggelayuti keluarga kami. Tapi
aku tidak mau menjadi orang selalu mengeluh dengan ekonomi yang sangat miris
ini. Bukankah mengeluh itu pertanda kita tidak bersyukur atas nikmat yang sang khalik berikan? Bukankah orang yang
mengeluh adalah orang tidak mau bangkit dari keterpurukkan?
**
“Ra,
aku perhatiin beberapa hari ini kamu nampak murung gak seperti biasanya? Mana
Rara yang kami kenal dulu. Rara yang selalu senantiasa tersenyum walaupun
begitu banyak badai yang menerpa? Ada masalah apa Ra mungkin kita bisa bantu”
ucap Sinta menepuk pundakku.
“Gak
ada kok, Sin. Gak ada masalah apa-apa kok. Gak ada yang perlu di khawatirin. Everything’s fine” ucapku melempar
senyum yang seakan dibuat-buat semanis mungkin agar para sahabat ku ini tidak
mengkhawatirkan keadaanku.
“Udahlah,
Ra. Kita udah kenal kamu itu bukan baru kemaren atau beberapa detik yang lalu.
Tapi kita itu udah kenal kamu dari zaman kita SD. Kamu gak inget sama komitmen
yang kita buat? Bahwa kita harus mengutarakan masalah yang kita hadapi dan
mencari solusinya? Kamu sendiri kan yang punya ide seperti itu?” ucap Yudi
dengan nada melankolisnya yang membuat bendung di pelupuk mataku. Aku berusaha
sekeras mungkin untuk tetap menahan butiran bening itu agar tidak keluar. Aku
tidak mau terlihat lemah di hadapan para sahabatku ini. Sahabat yang sangat ku
cintai. “Hmm,, apa kamu ada masalah sama orang tua kamu? Ucap Yudi lagi.
Aku
menggeleng. Sungguh situasi yang tidak ku inginkan. Aku seperti penjahat yang
sedang di interogasi polisi. Beribu pertanyaan menyelinap masuk ke telingaku.
Dan jawabanku hanya dalam bentuk isyarat menggelengkan kepala yang membuat
mereka semakin penasaran sama masalah yang tengah menimpaku. Seandainya aku
diberi kesempatan, ingin rasanya untuk pergi dari situasi semacam ini. Tapi apa
daya aku tak kuasa. Butiran bening yang
kutahan sedari tadi tanpa rasa malu tumpah di pipiku yang mulus yang membuat Sinta,
Yudi dan Santo makin tak tega dan penasaran.
“Kamu
kenapa Ra. Ayo ceritain ke kita siapa tau kita bisa bantu.” Ucap Sinta
merangkul pundak ku.
Sejenak
Santo berfikir. Menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini. “Apa mungkin kamu belum bayar iuran ya,
Ra?” ucap Santo blak-blakkan. Yudi melotot ke arah Santo seakan hendak berucap
sesuatu yang membuat Yudi geram terhadap Santo yang asal bicara. Mendengar
perkataan Santo air mataku semakin deras. Aku tak mampu mengucapkan kalimat satu
kata pun rasanya sangat sulit keluar dari mulutku. Semakin derasnya butiran
bening yang jatuh dipipiku membuat mereka seakan mengerti masalah apa yang
sedang melanda gulana dalam diriku.
“Kalo
itu benar duduk persoalan yang sedang melanda kamu. Kami siap membantu kamu
kok, Ra. Iya kan teman-teman?” tanya Sinta menuntut persetujuan. Yudi dan Santo
menjawab secara bersamaan.
“Iya,
Ra. Itu gunanya sahabat. Selalu ada ketika kita lagi butuh. Selalu ada ketika
kita sedang dirundung masalah.” Ucap Yudi dengan senyumnya yang tidak semanis
senyum Agnez Mo dan Demi Lovato.
“Thanks ya. Kalian baik banget sama aku.
Aku sayang kalian semua.” Ucap ku akhirnya. Aku beruntung memiliki sahabat yang
pengertian seperti kalian. The true my
best friends bukan sahabat yang abal-abal dan labil. Aku sayang kalian
semua. Mutiara yang sinarnya menghilang seketika mulai bersinar lagi. Sebuah
sinar yang terpancar indah dari wajah dan bibirku yang nampak melengkung ke
atas mengukir sebuah senyuman terbaikku. Di pojokkan, terdengar suara lantunan
lagu yang tengah diputar oleh salah satu penghuni kelas. Sebuah lagu yang
sangat kami kenal yaitu lagu Gift of A
Friend by Demi Lovato. Kami bernyanyi bersama mengikuti setiap alunan lagu
itu dengan penuh perasaan. Betapa senangnya memiliki sahabat seperti kalian.
Sahabat yang selalu ada buatku.
Senin, 19 Mei 2014
Lirik Lagu Nowela dan Husein: Membawa Cinta
Lirik Lagu Nowela & Husein Idol: Membawa Cinta (lagu kemenangan)
Tak Terasa sejauh ini
Kaki melangkah dekati impian
Tawa dan tangis adalah hiasan
Dalam perjalanan tuk mencapai arah dan tujuan
Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta
Tak ingin ku kecewakan mu
Yang tak berhenti kuatkan aku
Tawa dan tangis adalah hiasan
Dalam perjalanan tuk mencapai arah dan tujuan
Yang tak berhenti kuatkan aku
Tawa dan tangis adalah hiasan
Dalam perjalanan tuk mencapai arah dan tujuan
Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kembali pulang membawa cinta
Kau dan aku mungkin terpisah
Tapi itu takkan merubah
Janji yang suci didalam hati kita
Tapi itu takkan merubah
Janji yang suci didalam hati kita
Genggam tangan ini jangan kau lepaskan
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu
Kembali pulang membawa cinta membawa cinta
membawa cinta
Karna hangat ini nyamankan jiwa kita
Bukan dengan kata-kata, tapi ku jaga dengan rasa
Kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu kan ku ajak dirimu
Kembali pulang membawa cinta membawa cinta
membawa cinta
Langganan:
Komentar (Atom)
