Senin, 05 Mei 2014

Cerpen Pendidikan: Sebuah Penantian



Sebuah penantian
Oleh: Herdinata
            Kadang aku berfikir untuk apa aku di lahirkan? Untuk apa aku diizinkan menapakkan kakiku ke dunia ini? Untuk apa? Kalau hidupku hanya menyusahkan orang-orang yang ku sayangi. Orang-orang yang selalu menyayangi ku, mengayomi ku, bahkan berkorban demi kepentingan pribadiku. Dan sedihnya lagi, yang ku berikan hanya sebuah kesusahan yang membuat pilu di relung hati. Ngilu di ulu hati.
**
            Aku di lahirkan di tengah keluarga yang berkecukupan. Ayah seorang tani dan ibu seorang pedagang sayur di pasar. Setiap pagi ayah ke sawah untuk mencukupi kebutuhan kami, ibu juga demikian setiap subuh harus bersiap ke pasar untuk menambah uang pemasukkan demi menyambung hidup serta kebutuhan pendidikan ku.
         Pagi ini, aku berniat menuju kota perantauanku untuk meneruskan cita-citaku menjadi orang yang sukses yang dapat membahagiakan orang tuaku. Ku lihat ayah duduk di anak tangga sambil melihat kalau-kalau ada travel yang lewat depan rumahku. Sedangkan Ibuku sudah beberapa jam yang lalu pergi ke pasar. Hari ini entah yang ke berapa kalinya aku mondar mandir pulang ke desa - kota lagi. Tak terhitung. Setelah sekian lama menunggu, travel dengan tujuan ke kota pun lewat dan ayahku langsung menghentikan laju mobil itu agar aku dapat tumpangan untuk pergi ke kota.
**
           Cuaca pagi yang cerah, tumbuhan yang hijau seakan mengikuti perjalananku. Begitupun awan dengan setianya mengikuti perjalanan ku menuju kota dengan harapan dapat merubah nasib dan mengangkat derajat  keluarga kami. Harapan yang harus ku kejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Harapan yang terletak hanya lima sentimeter dari pelupuk mata. Begitu dekat tapi susah digapai. Harapan yang menggerakan staminaku agar kuat dalam proses mewujudkannya. Walaupun berbagai rintangan hendak menghalangi. Aku harus tegar, tetap kuat demi cita-citaku.
          Mentari telah sampai keperaduan, pertanda hari sudah semakin siang. Sampai lah aku ke kota dimana aku menuntut ilmu. Kota yang memiliki banyak kenangan, baik kenangan manis maupun kenagan pahit. Kota yang menurutku begitu keras dan banyak memiliki tantangan di dalamnya. Ku rebahkan tubuhku ke tempat tidurku berharap rasa capek dan pusing ku segera lenyap karena perjalanan jauh yang ku tempuh. Beberapa saat kemudian, aku bangkit sejenak dari rebahanku dan mengambil air minum untuk melepas dahaga. Ku rebahkan lagi tubuhku ke kasur ku yang lumayan empuk dan tertidur lelap dengan sejuta mimpi indah.
**
       Hari ini tepat hari Senin. Awal dimulainya aktivitas. Banyak yang benci dengan hari ini. Ada yang beranggapan hari senin adalah hari yang menyebalkan untuk memulai aktivitas tapi tidak denganku, ini merupakan langkah awal dari semangatku untuk mengejar cita-citaku. Cita-cita yang telah lama ku nanti. Cita-cita yang ku harapkan bisa merubah nasib kami sekeluarga. Ku lihat jam di dindingku menunjukkan pukul 5 pagi. Aku segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh sembari membunuh waktu yang ku rasa masih lama untuk bersiap ke kampus.
          Memang benar, Sholat dan membaca ayat suci Al-Quran adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa kantuk di kala subuh menyerang. Sudah jadi kebiasaanku bangun subuh agar aku tidak telat ke kampus di hari pertama kuliahku di semester akhir ini. “Tak terasa aku sudah semester akhir dan sebentar lagi akan diwisuda dengan menyandang gelar sarjana teknik”bisikku dalam hati. Ku bereskan peralatan sholatku dan lekas mandi karena ku lihat hari sudah semakin siang.
        Mobil berlalu-lalang, tapi tak satupun ku temui bus yang berwarna abu-abu yang bertuliskan “Cambay”. Bus yang akan membawaku ke kampus tempat aku menimbah ilmu. Bus yang selalu menyapaku di kala pagi. Suara kendaraan berteriak ramai, bercorak seakan mengejek diriku yang tidak memiliki kendaraan sama sekali. Tak pernah aku merasa iri dengan orang-orang di sekelilingku yang memiliki kendaraan, tak pernah terlintas di benakku untu meminta kedua orang tuaku untuk membelikan ku kendaraan, sudah di izinkan kuliah pun itu rasanya sudah cukup bagiku. Sempat juga aku di tawarkan oleh dosen yang sangat peduli terhadapku untuk meminjamkan sepeda motornya kepadaku tapi aku malah menolak kebaikkan dosen itu. Bukan maksud untuk jadi orang yang munafik, aku hanya tidak mau orang lain terbebani akan diriku ini. Setelah lama menunggu akirnya bus yang ku cari datang juga. Ku langkahkan kakiku naik ke dalam bus yang tampak penuh dengan penumpang lainnya. Berdesakkan, sempit, pengap. Inilah nasib orang yang jauh dari kemewahan yang mencoba untuk bangkit dari keterpurukkan hidup.
**
            Malam ini, mataku enggan terpejam. Ku putar hape minimalisku dan ku buka radio mencari siaran yang menurutku pas untuk menemaniku dalam kesunyian malam. Ketika semua orang memiliki gadgetcanggih, mahal dan alat elektronik lainnya, aku malah masih mempertahankan hape jadulku ini. Aku tidak kecewa dengan apa yang ku miliki, aku bahkan masih bisa bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Aku percaya suatu saat aku bisa merubah semua ini menjadi apa yang aku rencanakan. Semua hanya butuh waktu saja untuk mewujudkannya cepat atau lambat aku pasti bisa mewujudkannya semuanya. Suara hape berbunyi mengeluarkan suara deringan yang sangat ku kenal betul pertanda apakah itu. Ku lihat hapeku yang nampak kusam itu, ternyata ada SMS yang masuk dari seorang dosen pembimbingku. Seorang pembimbing yang membantu ku menyelesaikan skripsiku. Dosen yang sangat membantu, memotivasi, sekaligus mengayomi ku dalam merampungkan skripsiku ini. Dosen yang sangat baik terhadapku. Beliau selalu berpesan untuk tekun dalam pengerjaan skripsi ini agar bisa cepat selesai dan secepatnya mendapatkan gelar sarjana. Tak terasa sebentar lagi aku menyelesaikan S1 ku setelah sekian lamanya aku menantikkan semua ini.
            Setiap saat aku mencoba memfokuskan segenap fikiran ku dan bersungguh-sungguh dalam merampungkan skripsiku. Agar target ku untuk segera selesai secepat mungkin dapat terelasasikan. Betapa senangnya kedua orang tua ku jika aku sudah menggelar sarjana seperti yang mereka idam-idamkan selama ini.
**
            Pagi masih menyisahkan embun-embun bekas hujan semalam. Daun-daun nampak masih basah terkena sang embun. Angin pun berhembus dengan mesra ke setiap penjuru tempat. Mentari tak kunjung datang seakan terpenjara oleh awan tebal nan usang. Berharap pagi ini tidak hujan karena hari ini merupakan hari penting buatku. Hari dimana aku menyandang gelar yang selama ini aku nantikan. Hari dimana aku dapat menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidupku. Hari dimana ini adalah sebuah awal menuju pintu kesuksessan. Terlebih hari ini juga kedua orang tuaku hadir menyaksikan penyerahan gelar untukku. Rasa senang menyelimuti hatiku.
            Aku tiba di sebuah gedung yang mewah, sebuah gedung yang ku kenal betul tempat apa itu. Di sinilah, di gedung inilah yang akan menjadi saksi bisu dalam pemberian gelar untukku. Kedua tanganku memegang tangan kedua orang tuaku. Dengan bangga ku langkahkan kakiku menuju ke gedung yang megah ini. Menaikki satu persatu anak tangga. Aku nampak tampan pagi ini meskipun baju yang ku pakai tidak semahal dengan apa yang di pakai oleh teman-temanku yang lain.
            Suasana di sini sangat ramai, ribuan orang memenuhi gedung yang luas ini. memadati setiap sudut dari gedung ini. Melihat keadaanku, rasanya kurang pantas aku berada di sini. Tapi itu tak menjadi masalah buatku, aku ke sini di undang untuk penyerahan gelar bukan untuk ajang pamer atau sejenisnya, pikirku.
            Suasana semakin menebarkan dimana seorang rektor universitas ku mengumumkan siapa-siapa yang mendapatkan cumloude atau IPK dengan nilai tertinggi dari setiap fakultas. Rasa deg-degan, nervous, dan keringat dingin menggerogoti tubuhku layaknya seorang tersangka yang akan divonis hukuman penjara. Aku mencoba untuk tetap tenang sembari berdoa agar namaku di sebut oleh sang rektor.
            “Azzam Rahadian Sugito” ucap rektor dengan tegas.
           “Mendapatkan predikat cumloude dengan IPK tertinggi 3,80 dari fakultas Teknik. Timpalnya dengan rasa bangga.
            Aku tertegun ketika namaku disebut untuk maju ke depan. Riuh tepuk tangan menambah rasa haru dalan diriku. Rasa senang, bangga, bercampur jadi satu. Aku meneteskan air mataku dan memeluk kedua orang tuaku. Aku menangis bahagia, terharu dengan apa yang ku peroleh. Sebuah penghargaan atas segalausaha dan doaku selama ini terlebih perjuangan kedua orang tuaku dalam membiayai pendidikan yang ku tempuh selama ini. Terima kasih tuhan, bisikku kecil.
            Hari ini menjadi hari yang terindah dalam hidupku. Hari yang sangat bersejarah bagiku. Hari yang tak mungkin aku lupakan. Ini langkah awal untuk menapakkan sayapku untuk merubah segalanya. Merubah ekonomi keluarga, mengangkat derajat keluarga ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Penantian yang selama ini aku nantikan. Proses panjang yang ku tempuh dan akhirnya pada hari ini jugalah aku menemui titik terang dalam proses panjang yang telah ku lalui.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bagus cerpennya