Sebuah penantian
Oleh: Herdinata
Kadang aku berfikir untuk apa aku di
lahirkan? Untuk apa aku diizinkan menapakkan kakiku ke dunia ini? Untuk apa?
Kalau hidupku hanya menyusahkan orang-orang yang ku sayangi. Orang-orang yang
selalu menyayangi ku, mengayomi ku, bahkan berkorban demi kepentingan
pribadiku. Dan sedihnya lagi, yang ku berikan hanya sebuah kesusahan yang
membuat pilu di relung hati. Ngilu di ulu hati.
**
Aku di lahirkan di tengah keluarga
yang berkecukupan. Ayah seorang tani dan ibu seorang pedagang sayur di pasar.
Setiap pagi ayah ke sawah untuk mencukupi kebutuhan kami, ibu juga demikian
setiap subuh harus bersiap ke pasar untuk menambah uang pemasukkan demi
menyambung hidup serta kebutuhan pendidikan ku.
Pagi ini, aku berniat menuju kota
perantauanku untuk meneruskan cita-citaku menjadi orang yang sukses yang dapat
membahagiakan orang tuaku. Ku lihat ayah duduk di anak tangga sambil melihat
kalau-kalau ada travel yang lewat depan rumahku. Sedangkan Ibuku sudah beberapa
jam yang lalu pergi ke pasar. Hari ini entah yang ke berapa kalinya aku mondar
mandir pulang ke desa - kota lagi. Tak terhitung. Setelah sekian lama menunggu,
travel dengan tujuan ke kota pun lewat dan ayahku langsung menghentikan laju mobil
itu agar aku dapat tumpangan untuk pergi ke kota.
**
Cuaca pagi yang cerah, tumbuhan yang
hijau seakan mengikuti perjalananku. Begitupun awan dengan setianya mengikuti
perjalanan ku menuju kota dengan harapan dapat merubah nasib dan mengangkat derajat
keluarga kami. Harapan yang harus ku
kejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Harapan yang terletak hanya lima
sentimeter dari pelupuk mata. Begitu dekat tapi susah digapai. Harapan yang
menggerakan staminaku agar kuat dalam proses mewujudkannya. Walaupun berbagai
rintangan hendak menghalangi. Aku harus tegar, tetap kuat demi cita-citaku.
Mentari telah sampai keperaduan,
pertanda hari sudah semakin siang. Sampai lah aku ke kota dimana aku menuntut
ilmu. Kota yang memiliki banyak kenangan, baik kenangan manis maupun kenagan
pahit. Kota yang menurutku begitu keras dan banyak memiliki tantangan di
dalamnya. Ku rebahkan tubuhku ke tempat tidurku berharap rasa capek dan pusing
ku segera lenyap karena perjalanan jauh yang ku tempuh. Beberapa saat kemudian,
aku bangkit sejenak dari rebahanku dan mengambil air minum untuk melepas
dahaga. Ku rebahkan lagi tubuhku ke kasur ku yang lumayan empuk dan tertidur
lelap dengan sejuta mimpi indah.
**
Hari ini tepat hari Senin. Awal
dimulainya aktivitas. Banyak yang benci dengan hari ini. Ada yang beranggapan
hari senin adalah hari yang menyebalkan untuk memulai aktivitas tapi tidak
denganku, ini merupakan langkah awal dari semangatku untuk mengejar
cita-citaku. Cita-cita yang telah lama ku nanti. Cita-cita yang ku harapkan
bisa merubah nasib kami sekeluarga. Ku lihat jam di dindingku menunjukkan pukul
5 pagi. Aku segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh sembari
membunuh waktu yang ku rasa masih lama untuk bersiap ke kampus.
Memang benar, Sholat dan membaca
ayat suci Al-Quran adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa kantuk di kala
subuh menyerang. Sudah jadi kebiasaanku bangun subuh agar aku tidak telat ke
kampus di hari pertama kuliahku di semester akhir ini. “Tak terasa aku sudah
semester akhir dan sebentar lagi akan diwisuda dengan menyandang gelar sarjana
teknik”bisikku dalam hati. Ku bereskan peralatan sholatku dan lekas mandi
karena ku lihat hari sudah semakin siang.
Mobil berlalu-lalang, tapi tak
satupun ku temui bus yang berwarna abu-abu yang bertuliskan “Cambay”. Bus yang
akan membawaku ke kampus tempat aku menimbah ilmu. Bus yang selalu menyapaku di
kala pagi. Suara kendaraan berteriak ramai, bercorak seakan mengejek diriku
yang tidak memiliki kendaraan sama sekali. Tak pernah aku merasa iri dengan orang-orang
di sekelilingku yang memiliki kendaraan, tak pernah terlintas di benakku untu
meminta kedua orang tuaku untuk membelikan ku kendaraan, sudah di izinkan
kuliah pun itu rasanya sudah cukup bagiku. Sempat juga aku di tawarkan oleh
dosen yang sangat peduli terhadapku untuk meminjamkan sepeda motornya kepadaku
tapi aku malah menolak kebaikkan dosen itu. Bukan maksud untuk jadi orang yang
munafik, aku hanya tidak mau orang lain terbebani akan diriku ini. Setelah lama
menunggu akirnya bus yang ku cari datang juga. Ku langkahkan kakiku naik ke
dalam bus yang tampak penuh dengan penumpang lainnya. Berdesakkan, sempit,
pengap. Inilah nasib orang yang jauh dari kemewahan yang mencoba untuk bangkit
dari keterpurukkan hidup.
**
Malam ini, mataku enggan terpejam.
Ku putar hape minimalisku dan ku buka radio mencari siaran yang menurutku pas
untuk menemaniku dalam kesunyian malam. Ketika semua orang memiliki gadgetcanggih, mahal dan alat elektronik
lainnya, aku malah masih mempertahankan hape
jadulku ini. Aku tidak kecewa dengan apa yang ku miliki, aku bahkan masih bisa
bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Aku percaya suatu saat aku bisa
merubah semua ini menjadi apa yang aku rencanakan. Semua hanya butuh waktu saja
untuk mewujudkannya cepat atau lambat aku pasti bisa mewujudkannya semuanya. Suara
hape berbunyi mengeluarkan suara deringan yang sangat ku kenal betul pertanda
apakah itu. Ku lihat hapeku yang nampak kusam itu, ternyata ada SMS yang masuk
dari seorang dosen pembimbingku. Seorang pembimbing yang membantu ku
menyelesaikan skripsiku. Dosen yang sangat membantu, memotivasi, sekaligus
mengayomi ku dalam merampungkan skripsiku ini. Dosen yang sangat baik
terhadapku. Beliau selalu berpesan untuk tekun dalam pengerjaan skripsi ini
agar bisa cepat selesai dan secepatnya mendapatkan gelar sarjana. Tak terasa
sebentar lagi aku menyelesaikan S1 ku setelah sekian lamanya aku menantikkan
semua ini.
Setiap saat aku mencoba memfokuskan
segenap fikiran ku dan bersungguh-sungguh dalam merampungkan skripsiku. Agar
target ku untuk segera selesai secepat mungkin dapat terelasasikan. Betapa
senangnya kedua orang tua ku jika aku sudah menggelar sarjana seperti yang
mereka idam-idamkan selama ini.
**
Pagi masih menyisahkan embun-embun
bekas hujan semalam. Daun-daun nampak masih basah terkena sang embun. Angin pun
berhembus dengan mesra ke setiap penjuru tempat. Mentari tak kunjung datang
seakan terpenjara oleh awan tebal nan usang. Berharap pagi ini tidak hujan
karena hari ini merupakan hari penting buatku. Hari dimana aku menyandang gelar
yang selama ini aku nantikan. Hari dimana aku dapat menemukan jawaban dari
semua pertanyaan hidupku. Hari dimana ini adalah sebuah awal menuju pintu
kesuksessan. Terlebih hari ini juga kedua orang tuaku hadir menyaksikan
penyerahan gelar untukku. Rasa senang menyelimuti hatiku.
Aku tiba di sebuah gedung yang
mewah, sebuah gedung yang ku kenal betul tempat apa itu. Di sinilah, di gedung
inilah yang akan menjadi saksi bisu dalam pemberian gelar untukku. Kedua tanganku
memegang tangan kedua orang tuaku. Dengan bangga ku langkahkan kakiku menuju ke
gedung yang megah ini. Menaikki satu persatu anak tangga. Aku nampak tampan
pagi ini meskipun baju yang ku pakai tidak semahal dengan apa yang di pakai
oleh teman-temanku yang lain.
Suasana di sini sangat ramai, ribuan
orang memenuhi gedung yang luas ini. memadati setiap sudut dari gedung ini. Melihat
keadaanku, rasanya kurang pantas aku berada di sini. Tapi itu tak menjadi
masalah buatku, aku ke sini di undang untuk penyerahan gelar bukan untuk ajang
pamer atau sejenisnya, pikirku.
Suasana semakin menebarkan dimana
seorang rektor universitas ku mengumumkan siapa-siapa yang mendapatkan cumloude atau IPK dengan nilai tertinggi
dari setiap fakultas. Rasa deg-degan, nervous,
dan keringat dingin menggerogoti tubuhku layaknya seorang tersangka yang akan
divonis hukuman penjara. Aku mencoba untuk tetap tenang sembari berdoa agar
namaku di sebut oleh sang rektor.
“Azzam Rahadian Sugito” ucap rektor
dengan tegas.
“Mendapatkan predikat cumloude dengan IPK tertinggi 3,80 dari
fakultas Teknik. Timpalnya dengan rasa bangga.
Aku tertegun ketika namaku disebut
untuk maju ke depan. Riuh tepuk tangan menambah rasa haru dalan diriku. Rasa
senang, bangga, bercampur jadi satu. Aku meneteskan air mataku dan memeluk
kedua orang tuaku. Aku menangis bahagia, terharu dengan apa yang ku peroleh.
Sebuah penghargaan atas segalausaha dan doaku selama ini terlebih perjuangan
kedua orang tuaku dalam membiayai pendidikan yang ku tempuh selama ini. Terima
kasih tuhan, bisikku kecil.
Hari ini menjadi hari yang terindah
dalam hidupku. Hari yang sangat bersejarah bagiku. Hari yang tak mungkin aku
lupakan. Ini langkah awal untuk menapakkan sayapku untuk merubah segalanya.
Merubah ekonomi keluarga, mengangkat derajat keluarga ke level yang lebih
tinggi dari sebelumnya. Penantian yang selama ini aku nantikan. Proses panjang
yang ku tempuh dan akhirnya pada hari ini jugalah aku menemui titik terang
dalam proses panjang yang telah ku lalui.
1 komentar:
bagus cerpennya
Posting Komentar